
Sudah beberapa kali orang tua Jojo menanyakan tentang kabar gadis itu, apakah ia sudah punya kekasih? Atau masih senang menikmati hidup sendiri.
Jojo tidak pernah menjawab dengan detail, gadis itu selalu mengatakan jika ia memang sedang dekat dengan seorang laki-laki, namun tetap berjanji untuk menjaga diri.
"Sejauh apa rumah calon mertuaku?" tanya Kalingga. Ia sudah punya banyak rencana yang belum Jojo ketahui. Termasuk menikahi gadis itu lebih cepat.
"Kita berada di pulau yang berbeda, Kak. Biasanya aku pulang naik kereta selama dua belas jam, naik bis tiga jam, lalu naik ojek. Rumahku ada di pedesaan yang jaraknya lumayan dari wilayah kota, akses kendaraan besar pun masih sulit masuk," jelas Jojo.
"Hmm, aku ingin tahu. Boleh aku minta alamat lengkapnya?" tanya Kalingga.
Jojo tersenyum, gadis itu dengan senang hati membuat pesan teks dalam ponsel dan mengirimnya ke nomor Kalingga. Laki-laki itu berterima kasih lalu memeluk Jojo beberapa detik karena suara Kylan sudah terdengar nyaring dari ujung tangga.
"Hmm, aku lapar sekali." Kylan menepuk perutnya dan menempati tempat duduknya.
"Ngomong-ngomong, di mana mobilku?" tanya Keenan. Laki-laki itu pun berjalan mendekat sambil merapikan jasnya.
"Masih di kafe semalam," jawab Kalingga.
"Ah, aku harus ke studio pagi. Dan aku akan terlambat," keluh Keenan sambil meletakkan tubuhnya di kursi dengan kasar.
"Aku tidak ke mana-mana. Pakai saja mobilku, Kak," sela Kylan.
"Bagus! Aku akan suruh orang mengambil mobilku dan mengantarnya pulang."
Jojo hanya memperhatikan mereka mengobrol, gadis itu fokus makan dan mengabaikan kaki Kalingga yang berulang kali menggoda di bawah meja.
"Apa kau libur hari ini, Kylan?" tanya Jojo.
"Ya, aku sedang tidak bersemangat melakukan apapun. Aku butuh istirahat," jawabnya.
"Itu bagus. Kerja keras memang harus, tapi istirahat juga diperlukan. Jangan terlalu memaksakan diri," ucap Jojo senang.
Di antara semua orang, Kylan memang paling jarang menikmati hari liburnya. Bahkan di hari minggu, laki-laki itu masih harus bekerja dan hanya bisa duduk di rumah satu kali dalam satu bulan.
"Aku akan mengatur jadwal cuti selama satu minggu. Sepertinya kami akan mengunjungi orang tua Jojo," sela Kalingga.
Keenan dan Kylan mengurungkan niatnya saat akan memasukkan makanan ke dalam mulut. Mereka mengernyitkan dahi penasaran.
"Jojo akan pulang kampung? Kenapa tiba-tiba sekali?" tanya Kylan.
"Kak, kita belum membicarakan apapun." Jojo pun tidak kalah terkejut, mengapa Kalingga membuat keputusan secepat ini.
"Ah, rupanya kalian sudah tidak sabar. Baik, pergilah. Aku akan mengurus perusahaan selagi kalian pergi," ujar Keenan tenang.
Jika Kalingga pergi, maka Keenan juga harus merelakan pekerjaannya dan menjadwal ulang semua kegiatannya agar bisa menggantikan Kalingga dan mengurus perusahaan.
Jojo melirik Kalingga dengan mata menyipit. Gadis itu merasa jika Kalingga benar-benar tidak bisa menahan diri lagi.
Setelah sarapan selesai, Jojo membereskan meja makan dan mencuci piring. Sementara Kalingga dan kedua adiknya masih berbincang mengenai rencana cuti agar Keenan juga bisa mempersiapkan pengunduran semua kegiatannya.
"Ngomong-ngomong, mengapa kau terlihat tergesa-gesa sekali, Kak? Apa kalian berdua sudah ...." Kylan berbisik sambil mencondongkan tubuh ke arah Kalingga.
Memangnya apa yang ada di pikiran Kylan? Bisa-bisanya ia punya prasangka seperti itu pada Jojo dan Kakak sulungnya.
"Kita akan bahas lain kali. Di mana kunci mobilmu?" tanya Keenan pada Kylan.
Kylan menggerakkan dagunya dan memberi isyarat pada Keenan. Laki-laki itu terbiasa meletakkan barang-barang di tempat sembarangan, termasuk kunci mobil yang sering tergeletak di bawah meja bahkan di atas lemari pendingin.
"Ah, aku akan lanjut tidur beberapa jam. Silahkan melanjutkan kisah asmara kalian," ucap Kylan berpamitan pada Jojo dan Kalingga.
Setelah kepergian semua orang, Kalingga masih duduk diam dan menunggu Jojo menyelesaikan pekerjaannya. Setelah itu, ia akan menyeret gadis itu ke kamarnya untuk menemaninya bersiap.
"Setelah pengumuman sidang skripsimu keluar, kita akan kunjungi orang tuamu, Sayang," ujar Kalingga saat Jojo memasang dasi untuknya.
"Apa ini tidak terlalu cepat?" tanya Jojo.
Dengan tiba-tiba, Kalingga mendorong tubuh gadis itu hingga tubuhnya membentur dinding. Lagi-lagi Kalingga menghimpitnya dan tidak membiarkan gadis itu bergerak.
Jojo menahan napas, merasakan udara di sekitarnya mulai berkurang dan oksigen menjadi tercemar.
"Kita akan bertemu setiap hari, setiap menit dan setiap detik. Saat itu terjadi, aku selalu menahan diri. Aku akan kesulitan karena setiap melihatmu, aku semakin jatuh cinta."
"Ah, iya, iya. Aku paham, Kak." Jojo tersenyum kecut. Ia mengangkat tangannya dan sedikit demi sedikit mendorong tubuh Kalingga.
"Kita tidak sedang menunggu apapun. Aku mencintaimu, aku ingin memilikimu seutuhnya," gumam Kalingga. Ia membiarkan Jojo merapikan dasinya lagi sambil menarik napas dalam-dalam.
Bagaimana ia bisa menahan diri lebih lama lagi jika mereka selalu bersama, bertemu setiap hari. Dan Kalingga tahu, di luar sana pasti ada banyak orang yang menyukai Jojo. Laki-laki itu hanya ingin segera memberikan sebuah pengumuman bahwa Jojo hanya miliknya seorang.
Setelah Kalingga selesai bersiap, laki-laki itu meminta Jojo untuk tetap di kamarnya, sementara ia akan pergi tanpa di antar.
"Kau bisa tidur di kamarku, Sayang. Anggap saja ini latihan, karena aku akan segera memindahkan semua barang-barangmu kemari," ucap Kalingga sebelum pergi.
Jojo memejamkan mata sambil duduk lemas di tepi tempat tidur. Ia mendengar suara langkah kaki Kalingga menuruni anak tangga bersamaan dengan siulan merdu dari bibir laki-laki itu.
"Aku akan semakin gila," batin Jojo.
Melihat bagaimana keinginan Kalingga begitu menggebu-gebu, Jojo tidak mempermasalahkan restu kedua orang tuanya. Karena ayah dan ibu Jojo adalah orang tua yang memberikan hak memilih untuk masa depan anaknya secara penuh. Lagi pula, benar apa yang Kalingga katakan, mereka tidak akan bisa menolak menantu setampan Kalingga.
Namun yang membuat Jojo resah dan gelisah adalah Merlinda. Tidak akan mudah meraih restu wanita paruh baya itu. Peringatan dan penghinaan itu masih melekat kuat di ingatan Jojo, membuat gadis itu duduk lemas dan tenggelam dalam pikirannya.
Beberapa menit kemudian, Jojo merasakan ponsel di saku celana pendeknya bergetar. Ia melihat sebuah pesan datang.
"I love you, Honey."
Gadis itu tersenyum samar, tidak lebih dari sepuluh menit sejak laki-laki itu pergi, ia bahkan sudah merindukannya. Jojo merasa penasaran, virus apa yang sudah Kylan tularkan hingga membuat Kalingga semakin tidak terduga.
Merasa tidak ada pekerjaan dan menganggur. Jojo memutuskan untuk menemui Kylan di kamarnya.
🖤🖤🖤