ANAK ASUHKU

ANAK ASUHKU
Honeymoon


Jojo menatap Kai tajam, bagaimana bisa adik iparnya itu menuduh yang bukan-bukan. Jangankan melakukan hal sejauh itu, hanya berciuman saja Jojo sangat takut.


"Kau masih kecil. Bagaimanapun caraku menjelaskan, kau tidak akan mengerti," keluh Jojo.


"Tidak, tolong jelaskan padaku. Bagaimana bisa usia kehamilan dan usia pernikahan kalian sama." Kai masih merasa penasaran dan terus mendesak Jojo agar memberinya penjelasan. Bukan karena ia tidak percaya tentang kehamilan Kakak Iparnya, namun ia hanya merasa penasaran.


Jojo akhirnya mengalah, sambil menata buah-buahan di dalam keranjang, wanita itu menjelaskan secara rinci pada Kai.


Usia kehamilan bisa dihitung menggunakan dua metode, yaitu berdasarkan hari pertama haid terakhir, dan dari hasil pemeriksaan USG berdasarkan ukuran janin.


Jojo mendapatkan haid sepuluh hari sebelum hari pernikahannya. Dan saat ia sudah sah menjadi istri Kalingga, Jojo sudah menyelesaikan tamu bulanannya.


Karena sebuah kejadian tak terduga, yaitu kematian Merlinda. Kalingga dan Jojo menunda malam pertama mereka hingga lebih dari satu minggu. Saat berhubungan, Jojo berada tepat di masa ovulasi yaitu masa subur wanita yang membuat sel telur dalam tubuhnya berada di titik paling baik untuk dibuahi.


Meskipun pembuahan tidak langsung berhasil di malam pertama, namun Jojo dan Kalingga melakukannya setiap malam berturut-turut tanpa jeda, membuat kesempatan keberhasilan semakin besar.


Maka dari itu, usia kehamilan Jojo bahkan lebih lama dari usia pernikahannya, karena hari pertama haid terakhir Jojo adalah beberapa hari sebelum hari pernikahannya.


"Begitu? Aku baru tahu," gumam Kai.


"Hmm, setelah kau mulai mempelajari ilmu kedokteran, kau akan paham semuanya," ucap Jojo. Ia tersenyum dan menatap Kai penuh harapan. Berharap bocah itu akan menjadi laki-laki baik yang bisa meraih cita-cita tingginya sebagai seorang dokter yang berhasil.


"Apakah semua orang paham tentang hal seperti ini?" tanya Kai. Rasa penasarannya begitu tinggi.


"Tidak," jawab Jojo sambil menggeleng. "Pemahaman seperti itu masih belum sepenuhnya diketahui oleh orang awam. Terkadang, hal seperti ini bisa menimbulkan fitnah untuk pasangan yang baru menikah," lanjut Jojo.


"Apa kata Dokter? Keponakanku sehat? Dia laki-laki atau perempuan?"


"Masih terlalu dini untuk melihat jenis kelamin janin, mungkin harus menunggu dia berusia lima sampai enam bulan agar perkiraannya akurat," jelas Jojo.


Sedikit demi sedikit, Kai mulai paham. Ini adalah hal kecil yang harus ia ketahui, karena ini berkaitan dengan pendidikannya nanti. Paling tidak, Kai ingin memahami dasar-dasar ilmu kesehatan.


"Kakak Ipar, jika kau ingin sesuatu, katakan saja padaku. Demi keponakanku, aku akan memberikan apa saja untukmu," ucap Kai bersungguh-sungguh. Karena ia adalah anak terakhir di keluarga ini, kehadiran anak kecil entah sebagai adik atau sebagai keponakan merupakan keinginan terbesarnya.


"Sungguh? Kau akan memberikan apapun?"


"Hmm, tentu saja."


Jojo tersenyum senang, ia bahagia karena selalu di kelilingi oleh orang-orang baik. Meskipun kehamilan pertamanya tetap jauh dari kedua orang tuanya, ia tidak perlu khawatir karena keluarga ini akan menjaganya.


Setelah berbincang cukup lama, Kalingga sudah kembali ke rumah. Ia sudah selesai mengurus cuti pekerjaan Jojo selama satu minggu penuh. Meski harus menggeser semua jadwal pekerjaan, namun itu lebih baik daripada tidak ada yang bisa ia lakukan.


"Kau hanya membeli untuk Kakak Ipar? Untukku mana?" protes Kai.


"Aku membeli untuk ibu hamil. Kalau kau mau, beli saja sendiri," jawab Keenan ketus. Ia masih merasa kesal karena Kai menghabiskan pizza pembeliannya semalam.


"Hmm, aromanya enak. Terima kasih," ungkap Jojo senang. Ia bergegas duduk di depan televisi sambil membuka kotak pemberian Keenan.


"Kakak Ipar, apa kau tidak akan membaginya untukku?" tanya Kai. Ia menampakkan wajah penuh kesedihan berharap Jojo mau membagi sedikit untuknya.


"Baiklah, temani aku makan. Sepertinya aku lebih senang makan bersama daripada sendirian."


"Kalau begitu, aku siap membantumu menghabiskan semua makanan di rumah ini," jawab Kai penuh semangat.


"Rakus!" sindir Keenan sambil berjalan menaiki anak tangga. Kai tidak mempedulikan ucapan Kakaknya, ia merasa Keenan memang iri padanya, karena selama ini Jojo selalu memberi perhatian lebih untuknya.


Untuk merayakan kabar bahagia akan hadirnya calon anggota baru keluarga ini, Kalingga membawa Jojo beserta ketiga adiknya untuk makan di sebuah restoran berbintang yang terletak di pusat kota.


Kalingga memesan ruang keluarga dengan fasilitas VIP untuk makan malam istimewa ini.


"Apa kata dokter?" tanya Kylan saat mereka sedang duduk menunggu pesanan tiba.


"Aku dan calon bayiku sehat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jelas Jojo.


"Benarkah? Itu bagus, karena aku punya sesuatu untuk kalian." Kylan mengeluarkan sebuah kotak kecil pada Jojo. Laki-laki itu memintanya membuka hadiah saat ini juga.


"Apa ini? Tiket liburan?" tanya Jojo takjub. Dua buah tiket berlibur di pulau pribadi beserta tiket berkeliling menaiki kapal layar itu cukup menggiurkan.


"Ini hadiah, kami sudah merencanakannya jauh-nauh hari. Namun karena kalian sama-sama sibuk bekerja, aku menunda semua jadwal sampai hari ini. Jika mau, besok kalian bisa pergi," jelas Keenan.


"Begitu? Kalian merencanakan hadiah untuk Kakak dan Kakak Ipar tanpa mengajakku berunding?" tanya Kai dengan kesal. Mengapa ia seakan tidak dianggap, padahal ia juga ingin memberi hadiah untuk Kakak iparnya.


"Tidak ada yang perlu dirundingkan bersamamu, kau tidak punya uang!" ketus Kylan.


"Ah, Kakak. Kasar sekali kata-katamu," lirih Kai sambil memasang wajah sedih.


Keenan dan Kylan mempersiapkan liburan untuk Kalingga dan Jojo sebagai hadiah. Karena mereka tidak sempat honeymoon setelah hari pernikahan, maka kedua adiknya itu ingin menggantinya dengan liburan sederhana ke pulau pribadi yang sudah disewa.


🖤🖤🖤