ANAK ASUHKU

ANAK ASUHKU
Pengakuan Keenan


Pemandangan pagi yang paling indah adalah saat melihat orang yang paling dicintai terbangun di samping kita saat pertama kali membuka mata.


"Aku harus mandi dan memasak," ucap Jojo. Ia mencium bibir Kalingga sekilas, lalu menutup dadanya dengan selimut. Saat hendak duduk, Kalingga buru-buru menindih tubuhnya.


"Bisakah kita olahraga pagi selama beberapa menit?" tanya Kalingga. Ia tidak akan bisa menahan diri saat reaksi tubuh di pagi hari perlu disalurkan.


"Olahraga?" Jojo mengernyitkan dahi.


"Kita selesaikan dengan cepat. Sepuluh menit saja," rayu Kalingga. Tanpa menunggunggu jawaban istrinya, laki-laki itu mulai memainkan tangannya di seluruh tubuh Jojo, membuat setiap syaraf pada tubuh wanita itu menegang.


Ciuman yang dimulai dari kening, kedua pipi, bibir, hingga turun ke leher, membuat Jojo menggeliat. Tanpa ampun, Kalingga terus menurunkan ciumannya hingga ia sampai di titik pusat kenikmatan istrinya.


Hanya beberapa menit pemanasan, keduanya kembali bergulat dan membut kondisi tempat tidur porak poranda.


Setelah sampai pada puncak, keduanya melepaskan diri dan mengakhiri pertempuran. Sebelum Kalingga kembali meminta ronde kedua, Jojo bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri. Pekerjaan paginya akan menumpuk jika ia bermalas-malasan di atas tempat tidur untuk menemani suaminya.


Malam dan pagi yang indah rupanya mengubah suasana hati Jojo dan Kalingga sejak keduanya membuka mata. Kebahagiaan itu juga menular pada ketiga saudara Kalingga yang merasa senang karena kakak sulungnya bisa kembali tersenyum ceria seperti sedia kala.


"Apa Kakak baru menang undian?" tanya Kylan menggoda Kalingga.


"Tidak, dia terlihat seperti baru dapat doorprise," sela Kai.


"Aku dapatkan keduanya," jawab Kalingga sambil tersenyum. Kali ini, ia tidak tersinggung dengan godaan kedua adiknya.


Sementara Jojo, ia bersikap malu-malu dan berusaha terlihat biasa saja. Meski sebenarnya ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan gurat senyum yang terus mengembang di bibirnya.


Pagi ini, Jojo membuat beberapa menu sarapan untuk mereka sebagai pengganti nasi. Wanita itu membuat pancake, sandwich dan juga roti bakar selai nanas, ia membiarkan empat laki-laki itu memilih yang mereka inginkan.


"Aku harus berangkat pagi, Sayang. Ada rapat penting," ucap Kalingga. Ia menyelesaikan sarapannya dengan cepat dan memeluk Jojo di depan ketiga adiknya yang belum menyelesaikan makan mereka.


Keenan, Kylan dan Kai menelan ludah dengan kedua bola mata melotot hampir melompat dari tempatnya saat mereka semua melihat Kalingga mencium kening dan kedua pipi Jojo dengan lembut. Mereka amat terkejut, sejauh ini Kalingga tidak pernah bersikap romantis secara terang-terangan di hadapan mereka.


"Apa yang kalian lihat?" tegur Kalingga. Ia melirik sinis pada ketiga adiknya.


"Ah, tidak. Sepertinya mataku tercemar," gumam Kai. Ia kembali fokus dengan makanan di atas piringnya.


Sepeninggal Kalingga, Jojo menemani tiga laki-laki itu menyelesaikan sarapan mereka. Ketiganya makan dengan lahap dan menghabiskan segelas susu buatan Jojo.


"Kakak Ipar, apa tidak sebaiknya kita cari ART saja?" tanya Kai.


"Ya, benar. Kau punya banyak pekerjaan, kami khawatir kau akan kesulitan mengatur jadwal istirahatmu," sela Keenan.


"Kau terdengar sangat perhatian, Kak," sela Kylan meledek Keenan. Mendengar ucapan adiknya, Keenan mendengus kesal.


"Tidak apa-apa. Aku berencana akan merombak semua jadwal pekerjaanku di luar rumah, termasuk membatasi tawaran pekerjaan yang masuk agar aku bisa tetap fokus mengurus rumah dan kalian semua," jelas Jojo.


"Ah, Kakak Ipar. Kau baik sekali, aku jadi terharu dan ingin menangis. Huhuhu ...." Kylan meringis.


"Baiklah, jaga kesehatanmu," ujar Keenan.


Mereka melanjutkan makan dengan mengobrol dan membicarakan banyak hal, juga tentang kesepakatan empat bersaudara untuk merekrut Jojo menjadi brand ambassador Anyelir bulan ini, meski rencana itu sempat tertunda karena beberapa masalah mereka akhir-akhir ini.


"Aku lolos semua tes untuk jurusan kedokteran. Kakak memberiku cek kosong dan aku akan mengisinya setelah mengetahui semua biaya administrasi dan melunasi seluruh biaya selama satu semester," jelas Kai.


"Kau yakin akan masuk kedokteran?" tanya Keenan kurang yakin. Melihat bagaimana kebiasaan dan karakteristik adiknya, Keenan kurang percaya.


"Kak, jangan meremehkannya," tegur Jojo.


"Buktinya aku lolos seleksi, dari ratusan ribu calon mahasiswa, aku adalah salah satu di anatara ratusan yang lulus," ucap Kai bangga.


"Baiklah, baik. Jangan habiskan uang kami dengan sia-sia," ujar Kylan. Semua biaya kuliah Kai akan ditanggung oleh ketiga kakaknya, namun Kalingga yang harus mengeluarkan biaya paling besar.


Setelah semua telah menyelesaikan sarapan pagi mereka, Kai pamit untuk kembali ke kamar lebih dulu, namun Keenan mencegahnya.


"Aku ingin bicara denganmu. Datang ke kamarku setelah ini," ujar Keenan.


"Ah, baik, Kak." Kai mulai gelisah, ada perlu apa Keenan sampai ingin berbicara empat mata dengannya? Apakah karena ucapan bodohnya semalam?


"Ah, ini menjengkelkan," batin Kai sambil berjalan menaiki anak tangga. Meski ia akan punya seribu alasan untuk menangkal setiap tuduhan, namun Keenan punya banyak cara untuk mengancamnya.


Pagi ini, Kai berencana akan datang ke kampus tempat kuliahnya nanti. Ia sudah membuat janji temu dengan beberapa teman yang akan kuliah di kampus yang sama.


Setelah bersiap, Kai melihat pintu kamar Keenan sedikit terbuka. Ia tidak bisa kabur begitu saja, karena bagaimanapun, Keenan pasti bisa menangkapnya.


Tok ... Tok ... Tok ....


Kai mengetuk pintu pelan, terdengar suara dari dalam kamar menyuruhnya masuk.


"Ada apa, Kak?" tanya Kai. Sebelum mendengar ceramah panjang lebar kakaknya, bocah itu mengembuskan napas panjang.


"Kemarilah." Keenan yang sedang berada di depan cermin sambil merapikan rambut, menyuruh Kai mendekat.


"Semalam, Kylan bilang bahwa kau memberitahunya sesuatu. Aku ingin tahu, apa yang kau katakan padanya," ujar Keenan.


"Tidak!" Kai menggeleng cepat. "Aku tidak memberitahu dia apapun. Enak saja menuduhku yang bukan-bukan."


"Jujur saja, atau aku akan menarik hadiah yang sudah kami rencanakan untukmu," desak Keenan.


"Ah, Kakak." Kai mengeluh, ia semakin gelisah dan bingung. Karena diam-diam, ia sudah tahu jika ketiga kakaknya beserta kakak iparnya akan memberikan hadiah mobil baru atas kelulusannya.


Keenan berdiri berhadapan dengan Kai. Ia menatap tajam adiknya yang celingukan.


"Kau bilang pada Kylan jika aku pernah menyukai Jojo? Kau membuat fitnah. Bagaimana jika Kakak sampai mendengarnya?" tanya Keenan.


"Aku tidak sengaja mengatakannya," jawab Kai sambil meringis, tanpa dosa dan rasa bersalah. "Tapi benar begitu, kan? Kakak memang pernah menyukai Jojo," lanjutnya.


"Dasar, kau!" Keenan melotot. "Sejak kapan kau jadi ingin tahu sekali urusan orang, hah?"


"Memangnya siapa yang tidak tahu. Sejak awal, kau sangat perhatian pada maid baru kita, kau memperlakukannya dengan aneh. Aku kan jadi curiga," jelas Kai.


🖤🖤🖤