
Siang hari setelah pulang dari kampus, Jojo melihat Kalingga sudah berada di rumah. Kalingga nampak sedang bersama dua laki-laki berseragam. Mereka bertiga sedang mengobrol di depan pintu utama, nampaknya kedua tamu itu hendak pergi.
"Terima kasih. Jika ada kendala akan segera saya hubungi," ucap Kalingga sambil mengantarkan kedua tamunya pergi.
Jojo mendekati Kalingga, gadis itu merasa penasaran karena kedua tamu yang datang seperti seorang teknisi.
"Siapa mereka, Kak?" tanya Jojo.
"Ah, mereka petugas penyedia layanan wifi," jawab Kalingga.
"Kakak pasang wifi?" tanya Jojo dengan raut wajah gembira.
"Ah, ya. Tentu saja, aku pikir kita bisa menikmati internet tanpa batas saat di rumah. Lagi pula, ini akan menghemat uang jajan Kai untuk membeli kuota," jelas Kalingga.
Laki-laki itu nampaknya tidak ingin memberi pengakuan jika ia memasang jaringan wifi karena Jojo lebih membutuhkannya. Beberapa saat kemudian, suara motor tiba di halaman rumah. Kai turun dari motornya dan memperhatikan Kalingga dan Jojo yang sedang mengobrol ringan.
"Kak, kau libur?" tanya Kai pada Kalingga. Tidak biasanya kakak pertamanya itu berada di rumah sebelum sore.
"Tidak, ada keperluan sedikit jadi pulang," jawab Kalingga. Karena urusannya telah selesai, laki-laki itu pamit pada Kai dan Jojo lalu kembali ke kantor. Semakin dekat hari pembukaan gerai miliknya, Kalingga makin sibuk, namun ia masih menyempatkan diri untuk mengurus hal kurang penting seperti pemasangan wifi.
Kai masuk ke rumah bersama Jojo. Bocah laki-laki itu penasaran mengapa Kalingga bisa tiba-tiba berada di rumah dan bertepatan dengan jam kepulangan Jojo dari kampus.
"Apa Kakak menjemputmu lagi?" tanya Kai. Tanpa berganti pakaian, Kai ke dapur dan mengambil sebotol air dingin.
"Kau kira Kakak ojek. Tentu saja tidak, aku pulang dan pergi naik ojek online," jawab Jojo.
"Ya, mungkin saja. Lagi pula aku curiga, letak kantor Kakak dan kampusmu itu berlawanan arah, beberapa hari lalu bagaimana bisa Kakak menjemputmu?" selidik Kai.
"Kakak sedang berbaik hati menjemputku, kenapa kau terdengar ingin tahu sekali? Kepo, deh!"
"Aku mencurigai sesuatu," gumam Kai.
"Oh, jadi kau curiga kalau aku memanfaatkan Kakak sebagai ojek gratisan? Begitu?"
"Aku tidak mengatakan seperti itu. Kenapa kau selalu berprasangka buruk padaku," seloroh Kai. Ia membuka resleting tasnya dan mengeluarkan sebungkus sup buah. Seketika, Jojo tersenyum lebar.
"Apa itu untukku?" tanya Jojo. Cuaca panas memang sangat cocok saat menikmati es buah segar seperti ini.
"Makan saja, aku akan mandi dan berganti pakaian. Tolong sisakan sedikit untukku," ujar Kai. Bagaimanapun, uang sakunya hari ini adalah pemberian Jojo, jadi ia harus berbaik hati agar pengasuhnya tidak marah lalu memangkas habis uang sakunya.
"Baik, baik. Cepat pergi, kau bau!" ledek Jojo sambil mengibaskan tangan menyuruh Kai segera pergi.
"Awas kalau sampai habis." Kai memperingatkan sebelum beranjak pergi.
Jojo masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian, setelah gadis itu selesai mencuci muka dan tangannya, ia mengambil mangkuk dan menuang sup itu.
Nikmatnya menikmati sup buah saat cuaca sedang panas-panasnya adalah suatu kebahagiaan. Jojo begitu menikmatinya hingga tidak sadar jika ia hampir menghabiskan semua isinya.
Saat Kai kembali, bocah laki-laki itu memukul meja makan dengan keras.
"Hei, serakah sekali," tegurnya.
"Ah, ini nikmat sekali." Jojo menyandarkan punggungnya di kursi sambil mengelus perutnya karena kenyang.
"Jojo, kau menyebalkan!" seru Kai. Jojo meminta maaf, ia tidak berniat menghabiskannya namun kesegaran sup buah itu membuatnya tidak bisa berhenti.
Kai terlihat kesal, namun ia tidak benar-benar marah karena sebenarnya sup itu memang ia beli untuk Jojo. Sebagai permintaan maaf, Jojo membuat sereal dan memberi Kai salad buah dingin sebagai gantinya.
"Serius?"
"Ya, kau kira kenapa tadi Kakak pulang? Dia sedang mengawasi dua orang dari penyedia layanan wifi rumahan."
"Setahun yang lalu aku sudah memintanya, tapi Kakak menolak dengan seribu alasan. Katanya takut aku kecanduan main game online. Nyatanya, sekarang pasang juga," gerutu Kai.
"Ah, akhirnya. Aku bisa menonton drama kesukaanku selama dua puluh empat jam nonstop."
"Apa jangan-jangan, kau yang memintanya?" selidik Kai penuh rasa curiga.
"Hei, mana berani aku meminta hal yang bukan-bukan pada Kakak. Tukang tuduh!" sanggah Jojo. Gadis itu tidak merasa melakukan apapun, keberaniannya tidak cukup untuk meminta sesuatu pada Kalingga selain uang gajinya.
Kai menyipit. Tidak ada hujan tidak ada angin, tiba-tiba Kalingga memasang wifi di rumah mereka. Sungguh sesuatu yang patut dicurigai.
Sore hari saat Kylan sudah pulang, laki-laki itu juga terkejut melihat access point yang menempel di ruang tengah rumahnya. Acces point adalah sebuah perangkat jaringan yang digunakan untuk memancarkan sinyal pada jaringan wireless.
"Siapa yang pasang wifi?" tanya Kylan pada adiknya.
"Kakak."
"Kak Keenan?"
"Kak Kalingga lah. Siapa lagi."
"Lagi kesambet apa coba," gumam Kylan sambil berlalu masuk ke dalam kamar. Kini Kai dan Jojo asik di ruang tengah sambil fokus ke ponselnya masing-masing. Kai sibuk dengan game online favoritnya, sementara Jojo asik meresapi drama yang ia putar.
🖤🖤🖤
Malam hari setelah mereka semua selesai makan malam. Kalingga duduk bersama Jojo dan Kai di ruang tengah. Kalingga sedang menonton siaran berita sementara Jojo di sampingnya asik menghabiskan sebungkus keripik.
"Kak, terima kasih kau sudah memasang wifi di rumah. Akhirnya, aku tidak perlu menghemat kuota," ucap Kai.
"Aku tidak memasang wifi untukmu," jawab Kalingga. Matanya tetap fokus pada layar televisi.
"Lalu, untuk siapa?"
"Untuk .... Tentu saja untuk kupakai sendiri."
Kai mengangkat bahu, rupanya alasan Kalingga memasang wifi bukanlah karena dirinya. Kai sempat kecewa. Namun ia tidak peduli asal masih bisa menikmatinya.
"Kak, berkat kau, aku jadi bisa menonton drama korea favoritku setiap hari," sela jojo. Kai memutar kepalanya dengan cepat, ia semakin curiga jika pemasangan wifi ini berhubungan dengan Jojo.
"Hmm." Kalingga mengangguk. Ia tidak ingin terlalu terlihat peduli, khawatir jika orang lain mencurigainya.
Setelah tayangan berita selesai, Kalingga kembali ke kamar dan meninggalkan Jojo dan Kai yang masih asik di ruang tengah. Sepeninggal Kakaknya, Kai mulai mengintrogasi Jojo dengan berbagai pertanyaan.
"Jo, kau harus menjawab pertanyaanku dengan jujur," pinta Kai. Jojo hanya mengangguk. "Apa kau menyukai Kakak?"
"Kak Kalingga? Tentu saja, siapa yang tidak menyukai laki-laki tampan, pekerja keras, banyak uang dan penuh perhatian," jawab Jojo enteng.
"Maksudku, suka dalam artian lain," tegas Kai. Ia tidak habis pikir, jangan-jangan, Jojo menyukai semua saudaranya.
🖤🖤🖤