ANAK ASUHKU

ANAK ASUHKU
Menonton Film Horor


Karena ini adalah kencan pertama Kylan dan Sunny, semua hal yang akan mereka lakukan sesuai dengan keinginan Sunny. Kylan hanya menuruti apapun yang gadis itu inginkan.


"Apa daddy mengancammu?" tanya Sunny saat mereka dalam perjalanan ke bioskop.


"Tidak, dia tidak mengatakan apapun," jawab Kylan. Padahal, jantungnya hampir lepas setiap kali bertatapan mata dengan Alex.


"Dia selalu bersikap seperti itu pada semua teman laki-lakiku. Tolong jangan diambil hati."


"Apa kau sering membawa teman laki-laki ke rumah?" tanya Kylan. Pengakuan gadis itu terdengar seperti sudah biasa membawa laki-laki datang ke rumahnya.


"Beberapa kali teman kuliah untuk mengerjakan tugas bersama, juga beberapa kali teman semasa SMA untuk belajar kelompok," jawab Sunny. "Daddy terus bersikap seperti itu, membuatku takut jika tidak akan ada laki-laki yang mau berpacaran denganku karena melihat sikapnya yang over protect padaku," lanjutnya.


"Ah, ada benarnya juga," gumam Kylan. Sejak pertama kali bertemu Alex, nyali Kylan sudah menciut. Namun perasaannya terhadap Sunny seakan tidak bisa dikendalikan, hingga mengharuskannya terus berjuang agar bisa mendekati gadis itu apapun resikonya.


"Apa kau takut dengannya?" tanya Sunny sambil mengulum senyum. Ia menyadari sikap gugup Kylan ketika berhadapan langsung dengan Alex.


"Tidak, tidak. Aku tidak takut apapun!" jawab Kylan dengan tegas.


"Benarkah? Kau tidak terlalu banyak bicara di depannya, juga terlihat sangat hati-hati."


"Aku hanya menghormatinya. Bukankah dia calon mertuaku?" tanya Kylan.


"Sadarlah, kau sepertinya sedang bermimpi," tegur Sunny sambil tertawa kecil.


Setelah perjalanan beberpa menit, mereka telah sampai di sebuah mall terbesar di kota. Sunny sudah memesan tiket film kesukaannya.


"Kau mau popcorn?" tanya Kylan. Sunny mengangguk.


"Aku suka original," jawab gadis itu.


"Kau suka soda, atau minuman yang manis?"


"Aku suka semuanya."


"Suka padaku juga?" tanya Kylan lagi. Namun pertanyaan ini terasa seperti sebuah rayuan buaya berkepala hitam. Laki-laki itu bergegas pergi ke stand penjualan popcorn dan minuman sebelum film segera dimulai.


Hanya beberapa saat menunggu, Kylan sudah kembali dengan satu porsi besar popcorn di pelukannya dan dua minuman soda. Sunny menyambutnya dengan perasaan senang. Mereka berdua masuk bersama ke ruang bioskop.


"Film apa yang kita tonton?" tanya Kylan. Ia sama sekali tidak tahu jadwal film yang tayang hari ini, karena semua pilihan ia berikan pada Sunny.


"Film horor," jawab Sunny. Kylan terkejut dengan kedua mata melotot.


"Ada apa, kau takut?"


"Tidak, tidak. Aku pikir gadis-gadis biasanya suka menonton film romatis," jawab Kylan. Seharusnya ia bertanya lebih awal, karena film horor adalah film yang paling ia benci.


"Aku lebih suka yang menyeramkan dan menantang. Kau bisa keluar jika takut, filmnya belum di mulai," ucap Sunny. Nada bicaranya seakan meledek Kylan.


"Kau menyebalkan," gumam Kylan dengan lirih. Ia menghembuskan napas berat.


"Aku bilang, film horor pasti menyenangkan."


Seluruh lampu bioskop pun dimatikan saat suara opening dari film mulai terdengar. Kylan nampak duduk tegang sambil memegang gelas minumannya.


Laki-laki itu mulai diam dan tidak bersuara, matanya fokus menatap layar yang menyala dengan mulut tidak lepas dari sedotan.


"Jangan minum terlalu banyak, di sini sangat dingin," bisi Sunny.


"Ah, ya." Kylan mengangguk, bahkan ia sudah merasakan ingin buang air kecil.


Film pun dimulai dengan berbagai adegan menyeramkan, berulang kali Kylan mendesah resah dengan keringat dingin membanjiri tubuhnya. Ia benci film horor.


"Tutup matamu jika takut," bisik Sunny lagi.


"Tidak, aku baik-baik saja," jawab Kylan. Ia semakin merosot di kursinya setiap kali sosok hantu mulai muncul dan membuatnya terkejut.


"Aaah, kau baik-baik saja? Baiklah." Sunny tersenyum, ia kembali menikmati film di depannya. Sementara Kylan, ia sudah terlalu banyak terkejut dan jantungnya sudah hampir lepas dari tempatnya, ia memilih untuk menutup mata dan duduk tenang sambil mengalihkan pikiran dari suara film yang menggelegar di telinganya.


Lama kelamaan, Sunny merasa kasihan. Ia seakan sedang menyiksa Kylan dengan mengajaknya menonton film horor.


Saat film baru berjalan empat puluh menit, Sunny menarik tangan Kylan dan mengajaknya keluar.


"Ayo!" ajak Sunny.


"Ke mana? Filmnya belum selesai."


"Sudahlah, aku tidak mau menyeretmu jika kau pingsan di sini."


Dalam keadaan ruangan yang gelap gulita, mereka berjalan hati-hati melewati setiap barisan kursi. Beruntung, penonton malam ini tidak seramai biasanya.


"Hah!" Kylan berteriak keras saat sebuah adegan hantu menampakkan wajahnya secara close up dan tampak menyeramkam. Laki-laki itu bahkan sampai tidak sengaja memeluk Sunny yang berjalan di belakangnya.


"Kau serius? Kau takut?" tanya Sunny. Ia tidak habis pikir, mengapa Kylan setakut itu?


Setelah keluar dari ruangan, Kylan merasa lega. Sungguh, film horor adalah sesuatu yang sangat menyiksa baginya.


"Kau mau makan? Maaf karena mengacaukan acara nonton kita," ucap Kylan. Ia jadi merasa bersalah pada Sunny.


"Boleh, maaf karena tidak menanyakan dulu apa kau suka filmnya atau tidak. Aku pikir kau tidak takut apapun," ujar Sunny dengan sedikit mengangkat sudut bibirnya. Entah mengapa, Kylan merasa tersinggung.


"Hei, aku memang tidak takut apapun. Asal jangan film horor!" seru Kylan. Pengalaman kencan pertama bersama Sunny ini seakan melukai harga dirinya sebagai laki-laki tangguh.


Sunny tersenyum, diam-diam ia mengagumi Kylan dalam hati. Betapa lucu dan menggemaskannya laki-laki itu saat sedang terpojok.


"Ah, dia cute," batin Sunny.


🖤🖤🖤