
Jojo menatap Olivia dengan pandangan yang sulit diartikan. Gadis itu merasa iba, di sisi lain Olivia terlalu memaksakan kehendak orang lain, membuat Jojo terkadang merasa kesal.
Datang ke tempat ini untuk pertama kalinya dan memberi kejutan pada Kalingga, Jojo tidak menyangka jika dirinya yang terkejut. Meski begitu, Jojo tidak sedikitpun berprasangka buruk pada Kalingga. Ia mengenal Kalingga lebih baik dari siapapun.
"Tolonglah, Olivia. Aku mohon, jangan membuatku merasa bersalah dan jangan memaksa," ucap Kalingga dengan nada tegas.
"Aku tidak menyangka kau akan melakukan ini padaku, Kalingga!" seru Olivia. Ia bangkit dari sofa dan berjalan keluar dari ruangan tanpa pamit.
Jojo menarik napas lega, ia benar-benar merasa takut dan khawatir. Jojo paham jika Kalingga sedang marah, kesal, dan tidak baik-baik saja. Namun laki-laki itu masih berbicara dengan sopan pada Olivia, karena Kalingga pasti tidak ingin menyakiti perasaan wanita itu.
"Oh!" Kalingga mengusap rambutnya dan mengepalkan tangan. Sementara Jojo hanya bisa melihat laki-laki itu dan mengusap punggungnya.
"Maaf, aku berjanji akan membereskan semuanya," ujar Kalingga. Ia meraih kedua tangan Jojo dan menciumnya.
Laki-laki itu merasa menjadi laki-laki yang lemah. Ia tidak bisa memberikan keputusan dengan cepat karena posisinya sedang sulit di hadapan keluarga Olivia. Kalingga merasa marah pada dirinya sendiri karena mengorbankan perasaan Jojo.
"Bagaimana dia ada di sini, Kak?" tanya Kylan.
"Juan bilang dia sudah di sini sejak pukul sembilan. Dia menungguku sampai meeting selesai," jawab Kalingga. Juan adalah orang kepercayaan yang membantu Kalingga mengurus pekerjaannya.
"Dia juga datang ke rumah," sela Jojo.
"Hmm, aku tahu." Kalingga mengangguk pada gadis di sampingnya.
Hanya berselang lima menit sejak kepergian Olivia, Kalingga menerima telepon dari Bram. Keluarga Olivia memutuskan untuk mengundang Kalingga dan ketiga saudaranya datang ke rumah mereka untuk menghadiri acara makan malam pribadi.
Mendapat kabar tersebut, Kalingga dan Kylan tidak keberatan. Mereka semua akan datang dan meluruskan semua yang terjadi. Kalingga pun langsung menghubungi Keenan dan meminta adiknya agar pulang lebih awal untuk datang bersama mereka.
"Baiklah, kita tidak akan bisa berpikir dengan perut kosong. Ayo makan!" seru Jojo. Wajahnya yang terlihat cukup sedih itu berusaha disembunyikan. Jojo tersenyum dan mengeluarkan apa yang sudah ia bawa bersama Kylan.
Jojo menata semua makanan di atas meja dan menyiapkannya dengan rapi, ia juga membeli tiga hamburger beserta kentang goreng. Melihat semua makanan sudah tersaji, Kylan keluar dari ruangan untuk meminta seseorang mengirim minuman pada mereka.
Kalingga sadar, perasaan Jojo sedang terluka. Dan gadis itu sangat pandai merahasiakannya. Laki-laki itu semakin merasa bersalah.
"Sayang, Olivia datang tanpa sepengetahuanku. Kami sempat berdebat hampir satu jam sebelum kau datang. Aku harap, kau tidak berpikir buruk," ucap Kalingga.
"Kak, aku baik-baik saja. Aku percaya padamu." Jojo tersenyum.
Di dasar lubuk hatinya, Jojo mempercayai semua yang Kalingga katakan. Namun tidak bisa dipungkiri, kehadiran Olivia di ruangan ini membuatnya sedikit tergores rasa cemburu.
"Apa yang akan kau katakan pada orang tua Nona Olivia?" tanya Jojo.
"Segalanya, aku akan berkata jujur. Mereka orang baik, aku yakin mereka akan mengerti."
"Semoga memang begitu, Kak."
Tidak berselang lama, Kylan kembali masuk bersama seorang OB yang membawa beberapa gelas minuman dingin.
"Ayo, dinginkan kepala kalian. Anggap saja angin lalu," ucap Kylan sambil menyerahkan gelas berisi jus jeruk ke tangan Jojo dan Kalingga.
"Maksudmu, angin topan?" tanya Jojo sambil mengulum senyum.
"Tenang saja, kami akan mengatasinya." Kylan meyakinkan. Ia tahu Jojo pasti mengkhawatirkan hubungannya bersama Kalingga. Karena di posisi ini, Jojo adalah orang paling terancam.
Kalingga berterima kasih karena mereka sudah datang dan menyempatkan diri mengantar makan siang. Laki-laki itu bersyukur memiliki saudara yang selalu bisa diandalkan dan kekasih yang selalu mengerti perasaannya.
🖤🖤🖤
"Apa semua akan baik-baik saja?" tanya Jojo saat membantu Kalingga memasang dasi.
"Mereka keluarga terhormat, Tuan Bram pasti bisa mengerti keadaanku. Lagi pula, laki-laki di dunia ini tidak hanya aku," jawab Kalingga.
"Tapi hanya kau yang mampu menarik hati Nona Olivia."
"Sayangnya, hanya kau yang mampu menarik hatiku." Kalingga menyentak pinggang Jojo dan mendekatkan tubuh mereka hingga saling menempel.
"Ah, Kak!"
"Aku akan membereskan semuanya dan pulang dengan cepat. Lalu aku akan melanjutkannya."
"Melanjutkan apa?" tanya Jojo dengan mata melotot.
"Menerkammu!" ucap Kalingga sambil menggerakkan tangannya seperti gaya harimau yang akan mencabik-cabik mangsanya.
Jojo menelan ludah, ia segera merapikan dasi Kalingga dan menyuruh laki-laki itu keluar dari kamar, karena suara Kai sudah terdengar menggema dari lantai bawah.
Jojo mengantar empat laki-laki itu keluar dari rumah. Ia berdoa semoga semua akan terlewati dengan mudah dan keadaan tetap baik-baik saja.
"Kami pergi dulu. Jangan khawatir, Kakak akan baik-baik saja," ucap Kylan pada Jojo.
"Baiklah. Hati-hati di jalan dan jangan pulang terlalu larut."
Jojo melambaikan tangan saat kedua mobil sudah berjalan meninggalkan halaman rumahnya.
Gadis itu menutup pintu lalu duduk di kursi ruang tamu. Perasaannya gelisah dan tidak nyaman. Ia khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk, termasuk hancurnya hubungan Kalingga dengan keluarga Bram jika Kalingga tetap menolak kehadiran Olivia.
"Kak, kenapa kita tidak membawa Kakak ipar?" tanya Kai pada Kalingga saat perjalanan. Kebetulan keduanya berada di mobil yang sama.
"Jika kita membawanya, sama seperti kita membawa rusa ke kandang singa," jawab Kalingga.
"Kau terlalu meremehkan Jojo, Kak."
"Tidak, aku melindunginya. Kau tidak akan tahu apa yang bisa keluarga mereka lakukan pada Jojo. Mereka tidak seperti yang kau pikirkan, Kai."
Mendengar penjelasan Kalingga, Kai tidak lagi ingin bertanya. Sepertinya ada banyak hal yang tidak ia ketahui, dan itu membuat bocah itu merasa penasaran dan terdorong untuk mencari tahu.
Sepanjang perjalanan, Kai membuka ponselnya dan berselancar di akun sosial media miliki Olivia. Bocah itu selalu enggan dan tidak tertarik dengan kehidupan Olivia, namun karena ini menyangkut keluarganya, ia menjadi penasaran.
"Olivia punya banyak foto bersama artis Internasional. Sebenarnya, apa pekerjaannya?" tanya Kai pada Kalingga.
"Entah, tapi dia punya akses besar berkat keluarganya."
"Dia pengangguran dan mesin penghancur uang," gumam Kai.
"Apapun yang terjadi, kita tidak akan menerima penawaran mereka. Kita sudah tidak terikat dengan mereka, perusahaan kita berdiri sendiri, namun kita tetap menghormati jasa mereka di masa lalu," ujar Kalingga.
🖤🖤🖤