ANAK ASUHKU

ANAK ASUHKU
Pekerjaan Kylan


Setelah melihat bagaimana adiknya tersenyum dengan wajah bersemu merah setiap kali semua orang membicarakan tentang bagaimana baiknya Angelina selama ini, Kalingga sudah memutuskan langkah selanjutnya.


Kalingga akan menghentikan ekspor produk dan memutus kerjasama dengan Aslan. Semua itu memang membuat usahanya semakin berkembang dan perusahaannya lebih terkenal hingga ke mancanegara. Namun jika harus mengorbankan perasaan saudaranya, Kalingga lebih baik kehilangan sebuah segalanya.


Mereka semua menikmati sarapan pagi sambil mengobrol, Jojo juga menyeduh teh hangat hingga membuat semua orang semakin betah di meja makan.


"Apa kalian belum ada rencana untuk menikah?" tanya Kylan pada Keenan.


"Belum, kami ingin fokus dulu pada karir. Lagi pula kami belum siap," jawab Keenan.


"Bagaimana denganmu? Apa kencan semalam berlangsung baik?" tanya Jojo pada Kylan.


"Baik, sangat baik!" seru Kylan sambil menampakkan wajah dengan senyum lebar.


"Dilihat dari wajahmu, sepertinya tidak berlangsung baik," sela Kai sambil menggigit potongan roti bakar.


"Kenapa aku harus punya adik tidak berakhlak sepertimu, hah? Kau tidak pernah mempercayaiku," gerutunya Kylan.


"Dilihat dari cara bicaramu, aku semakin yakin jika tebakanku benar!" ujar Kai santai. Saat itu juga, Kylan menoleh pada adik bungsunya dengan menampakkan matanya yang melotot lebar.


"Jika kau benar, tidak perlu tersinggung dan tidak perlu marah, Kak. Kau sensitif seperti merek test pack Kakak Ipar." Kai tertawa mengejek.


"Sudahlah, hentikan. Ini masih terlalu pagi untuk bertengkar," tegur Kalingga. Seketika Kai dan Kylan diam dan hanya saling melirik tajam.


Sarapan pagi mereka berakhir setelah semua yang ada di atas meja telah habis. Keenan kembali ke kamar saat menerima telepon dari Angelina, sementara Kai pergi ke halaman depan untuk membersihkan taman.


"Sayang, aku akan tidur beberapa menit," pamit Kalingga sambil memeluk Jojo di depan Kylan. Laki-laki itu baru pulang pukul satu dini hari dan hampir tidak bisa tidur karena memikirkan kata-kata Aslan yang tidak pernah ia duga.


"Baiklah, aku akan membereskan semua ini." Jojo membiarkan suaminya kembali ke kamar.


Di dapur, Kylan duduk manis sambil memperhatikan Jojo yang berjalan mondar-mandir membawa piring dan gelas kotor ke wastafel. Wanita itu mulai mengelap meja dan menata kembali meja makan menjadi rapi.


Saat melihat Jojo hendak mencuci piring, Kylan merasa tidak tega. Perut buncit itu terlihat tidak nyaman dan Jojo kesulitan bergerak dengan bebas.


"Mau ku bantu?" tanya Kylan.


"Hmm, apa kau bisa mencuci piring?" tanya balik Jojo.


"Tentu saja, kenapa kalian semua seakan meremehkanku?" gumam Kylan. Ia bangkit dari tempat duduknya yang nyaman lalu menggantikan Jojo berdiri di depan wastafel.


"Apa kau tidak keberatan mencuci semuanya?" tanya Jojo. Ia memastikan kembali apakah Kylan benar-benar mau membantunya.


Awal mulanya, hanya ada lima piring dan lima gelas yang berada di bak wastafel, namun saat Jojo mulai ke sana ke mari mendatangi Kylan, cucian piring itu semakin banyak.


"Yang ini juga tolong di cuci, ya," pinta Jojo sambil membawa teflon, panci hingga mug kaca.


"Ah, tentu saja. Ini cuma sedikit," ujar Kylan.


Jojo semakin senang mendengar Kylan tidak mengeluh, wanita itu lalu naik ke lantai atas dan membawa cangkir dan gelas dari kamar Kai, ia juga mengambil mangkuk yang ada di kamarnya sendiri.


Sat persatu Jojo mengumpulkan barang-barang yang harus di cuci, ia mendatangi Kylan dan menambahkan pekerjaan laki-laki itu.


"Kenapa jadi semakin banyak?" tanya Kylan.


"Tidak, ini yang terakhir," jawab Jojo sambil menyerahkan baskom bekas adonan.


"Ah, aku merasa seperti sedang dikerjai," batin Kylan. Ia membantu Jojo karena berpikir hanya ada lima piring dan lima gelas yang harus dicuci. Namun nyatanya, cucian piring juga bisa beranak pinak menjadi sangat banyak.


"Apa kau keberatan? Jika tidak sanggup, aku akan mencucinya sendiri," ujar Jojo sambil tersenyum di belakang Kylan.


"Mencuci piring sebanyak ini akan membuat kulit tanganku menjadi kasar, apa kau tidak tahu jika aku selalu menjaga kehalusan seluruh kulit tubuhku?" keluh Kylan. Bibirnya membentuk kerucut dan terus mendesah resah.


"Aaaahh, begitu?" Jojo mengangguk samar. "Apa kau tidak tahu, sebagaian wanita tidak menyukai laki-laki yang memiliki kulit permukaan tangan yang halus. Karena kulit tangan terkadang menjadi salah satu tanda apakah laki-laki itu tipe pekerja keras atau bukan," lanjut Jojo.


"Memangnya begitu?"


"Hmm, laki-laki yang memiliki kulit tangan halus dan lembut, bisa jadi karena dia laki-laki pemalas. Tidak pernah bekerja di kebun, tidak pernah mencuci pakaian atau mencuci piring. Sementara laki-laki dengan kulit tangan yang sedikit kasar, itu karena dia adalah laki-laki yang tidak hanya peduli soal penampilan, ia bekerja keras, bisa mengerjakan pekerjaan rumah, tidak segan membantu wanita," jelas Jojo.


Kylan tampak diam dan berpikir, namun tangannya tetap mencuci semua piring dengan bersih dan kesat.


"Bolehkah aku meminta nasehat darimu?" tanya Kylan.


"Kerjakan semuanya, tidak boleh ada minyak yang tertinggal di piring porselen itu. Aku akan memberikan nasehat kencan padamu," jawab Jojo tegas.


"Oke, siapa takut!"


Jojo duduk santai sambil mengupas buah apel. Ia bersenandung ria dan menunggu Kylan menyelesaikan pekerjaannya.


🖤🖤🖤