
Seperti yang sudah diprediksi oleh Kalingga, Jojo lulus dengan nilai sempurna. Dan besok pagi, mereka akan terbang ke pulau sebrang untuk mengunjungi orang tua Jojo.
Semua orang mengucapkan selamat pada Jojo. Pada akhirnya, perjuangan gadis itu akan segera berakhir. Semua telah usai, dan kini gadis itu tinggal menunggu tanggal wisudanya.
Sementara itu, Kai juga akan segera menghadapi ujian nasional dalam waktu dekat. Oleh karena itu, Kalingga dan Jojo tidak bisa pergi berlama-lama, selain jadwal pekerjaan yang menumpuk, Jojo juga tidak tega meninggalkan Kai begitu saja.
"Bagaimana jika kita mengadakan pesta kelulusan?" tanya Kylan bersemangat.
"Tidak, itu pemborosan!" tolak Jojo saat makan malam bersama empat laki-laki kebanggaannya.
"Kakak kenapa tega sekali padaku, aku bahkan belum melaksanakan ujian nasional tapi malah mengadakan pesta kelulusan untuk Kakak ipar," gumam Kai.
"Kita mengadakan pesta dua kali. Untuk Jojo, dan untukmu!"
"Benarkah? Boleh?" Kai menoleh pada Kalingga. Namun ekspresi wajah kakak sulungnya itu tampak datar dan tidak tertarik dengan obrolan mereka.
Wajah penuh semangat Kai kembali suram setelah tidak mendapatkan respon dari Kalingga. Tampaknya memang tidak akan ada pesta perayaan hari kelulusan siapapun.
"Berapa lama kalian pergi?" tanya Kylan.
"Beberapa hari, mungkin tiga sampai empat hari," jawab Jojo.
"Perjalanan kalian jauh, tapi kenapa hanya pergi sesingkat itu?"
"Kakak pasti banyak pekerjaan, dan aku ada shooting iklan juga beberapa pemotretan yang harus diselesaikan dengan cepat," jelas Jojo.
"Wah, artis baru kita sedang sibuk rupanya," ucap Kai senang. Ia mengedipkan mata pada Jojo dengan genit.
"Hmm, ini semua berkat kalian semua. Jika saja kalian tidak pernah setuju untuk menjadikanku model Anyelir, mungkin aku tidak akan pernah bisa seperti ini," jawab Jojo.
Seketika, Kai berdiri. Ia menepuk dadanya dengan penuh kebanggaan, bersikap seolah ia adalah seorang pahlawan.
"Sudah pasti, ini adalah ideku!" seru Kai.
"Ih, sok!" gumam Kylan dengan senyum sinis.
Kai kembali duduk, ia melanjutkan makan dan mengabaikan ekspresi wajah Kylan yang terus meledeknya.
"Kakak ipar, apa kau tidak butuh sekretaris?" tanya Kai.
"Tidak," sela Kalingga memberi jawaban sebelum Jojo bersuara.
"Ah, Kakak. Aku kan tanya Kakak ipar," keluh Kai dengan wajah cemberut.
"Mungkin nanti, tidak sekarang." Jojo memberi jawaban.
"Bagaimana jika aku saja? Selain tampan, aku juga berbakat dalam segala bidang." Kai menawarkan diri.
"Tidak, kau harus sekolah dan fokus belajar. Jangan lakukan apapun!" tegas Jojo. Ia menolak mentah-mentah tawaran calon adik iparnya.
Kai tidak bisa membantah, percuma saja jika tidak ada orang yang mendukungnya. Karena sudah jelas, tidak seorangpun tertarik dengan tawarannya.
Semua kembali melanjutkan makan dengan tenang. Ini adalah malam terakhir mereka memakan masakan Jojo, karena untuk beberapa hari ke depan, mereka harus bisa mengurus rumah dan diri mereka masing-masing.
"Aku akan membereskan rumah dan membersihkan semuanya sebelum pergi. Kalau kalian tidak ada waktu untuk mencuci pakaian, antar saja ke jasa laundry," ucap Jojo dari arah wastafel.
"Kau tidak perlu bangun pagi-pagi sekali, Sayang. Mereka bisa melakukan semua pekerjaan rumah!" seru Kalingga. Jojo hanya tersenyum, ia enggan berdebat dengan Kalingga.
"Sejauh ini, ada yang mengganjal di pikiranku," ujar Kylan sambil mengupas jeruk.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Keenan. Ia menoleh dan menatap adiknya.
"Apa hanya aku yang merasa aneh sejak Kakak dan Jojo ada hubungan khusus?"
"Aneh? Kenapa?"
"Bagaimana bisa calon kakak iparku adalah orang yang mencuci pakaian dalamku setiap hari. Apa hanya aku yang merasa canggung? Apa di luar sana juga ada kakak ipar yang mencuci pakaian dalam semua saudara laki-laki suaminya? Apa menurut kalian ini tidak aneh? Apa ini memalukan?" Pertanyaan Kylan bertubi-tubi membuat semua orang diam dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Kalingga pun mulai melamun, ia sendiri merasa malu karena Jojo sudah mendapatkan tugas mencuci semua pakaiannya termasuk hal yang paling pribadi.
Sementara di depan wastafel, Jojo hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala samar. Mengapa pikiran Kylan bisa tertuju pada hal seperti itu?
"Ya, itu terasa aneh," gumam Keenan setuju.
"Bahkan Kakak Ipar bisa menghafal ukuran celana dal*am kita semua. Dia bisa membedakan milik kita. Itu lebih menakutkan," sela Kai.
"Untung hanya ukurannya, bukan isinya," lanjut Kylan.
Mendengar percakapan di belakangnya, Jojo membanting sendok di wastafel, hal itu membuat empat laki-laki di meja makan terkejut dan menoleh serentak.
"Mengapa pikiran kalian mesum sekali? Apakah tidak ada hal lain yang bisa kalian bicarakan?" tanya Jojo kesal. Jika terus dibiarkan, maka pembahasan empat laki-laki itu akan semakin menyesatkan.
"Kami hanya mengkhawatirkan jati diri kami. Kenapa kau jadi marah?" tanya Kylan.
"Ayo, bubar! Kembali ke kamar masing-masing atau lanjutkan saja di ruang tengah. Telingaku terasa gatal mendengarnya," keluh Jojo mengusir semua orang.
Tanpa di perintah dua kali, tiga laki-laki itu mulai membubarkan diri, kecuali Kalingga. Ia masih duduk diam dan menunggu Jojo menyelesaikan pekerjaannya.
Selang beberapa menit, Jojo sudah menyelesaikan semua cucian piring di wastafel dan mendekati Kalingga. Laki-laki itu terlihat melamun dan memikirkan sesuatu.
"Ada apa, Kak?" tanya Jojo. Ia menarik kursi dan duduk di samping Kalingga.
"Hmm, perkataan Kylan membuatku gelisah. Apa benar kau bisa membedakan semua pakaian dalam kami semua?" tanya Kalingga.
Jojo hampir tertawa mendengar pertanyaan laki-laki itu. Mengapa harus ada pembahasan seperti ini? Jojo merasa malu sendiri.
"Memangnya kenapa, Kak?"
"Hanya penasaran. Aku curiga, apa yang kau pikirkan saat mencuci milikku?" tanya Kalingga dengan suara sedikit berbisik. Ia menatap Jojo sambil menunggu jawaban.
"Hah, aku tidak memikirkan apapun. Tolong jangan berpikiran seperti Kylan, itu membuatku geli."
Kalingga memanyunkan bibir mendengar jawaban Jojo. Laki-laki itu masih merasa penasaran dan ingin tahu. Apa jangan-jangan Jojo bisa menebak isi dari bungkusnya?
🖤🖤🖤