ANAK ASUHKU

ANAK ASUHKU
Kalimat Perpisahan


Lutut Kalingga dan ketiga saudaranya terasa lemas. Semuanya duduk bersimpuh dengan tangan berpegangan pada pinggiran tempat tidur Merlinda.


Tangis tidak akan lagi membangunkan wanita itu, mereka hanya bisa berdoa, semoga ini adalah yang terbaik untuk semuanya.


Kini Merlinda tidak lagi mengalami rasa sakit, semuanya telah sirna seiring napas yang terhenti. Jojo berjalan dengan langkah kaki gemetar menghampiri empat bersaudara yang tertunduk lemas, wanita itu memeluk Kalingga.


"Ikhlas, sabar," bisik Jojo sambil membingkai wajah basah penuh air mata itu.


Jojo membantu Kalingga berdiri, meminta laki-laki itu tegar dan kuat, agar adik-adiknya tidak semakin bersedih.


Secara bergantian, Jojo memeluk saudara Kalingga satu persatu. Wanita itu meminta mereka untuk sabar, kuat dan ikhlas. Bahwa semua yang hidup akan mati, dan semua yang hadir akan kembali pada sang pemilik.


Johnathan mendekati istrinya, ia memeluk dan mencium wajah Merlinda. Tangis dan kesedihan tidak bisa laki-laki itu sembunyikan meski ia sudah berkata ikhlas. Ia begitu kehilangan wanita yang telah menemanainya selama bertahun-tahun.


Mereka semua larut dalam air mata dan kesedihan selama beberapa saat, lalu kepulangan Merlinda harus segera diurus agar pemakaman cepat terlaksana.


Sebagai permintaan terakhir seorang anak, Kalingga meminta izin pada Johnathan agar Merlinda di pulangkan ke rumah mereka. Rumah tempat mereka semua pernah berkumpul dan merajut kebahagiaan bersama.


Johnathan tidak keberatan, ia setuju dan memberi kesempatan anak-anak Merlinda untuk mengurus ibunya untuk yang terakhir kalinya.


Setelah mengurus seluruh administrasi di rumah sakit, Kalingga dan ketiga saudaranya membawa Merlinda pulang ke rumah. Mereka menyiapkan tempat pemakaman terbaik yang terletak tidak jauh dari kompleks perumahannya. Beruntung, ada satu lahan kosong yang terletak tepat di samping makam Abraham, dan mereka setuju untuk memakamkan mereka berdampingan.


Kabar kematian Merlinda tersebar ke seluruh sahabat dekat dan teman keluarga mereka. Orang-orang yang pernah mengenal Merlinda datang berbondong-bondong ke rumah Kalingga untuk mengucapkan belasungkawa.


Di saat-saat terakhir mereka bersama, Kalingga dan ketiga adiknya tidak sedetikpun bangkit dari samping Merlinda. Mereka terus mendampingi wanita itu hingga proses pemakaman selesai.


Gundukan tanah basah bertabur bunga seakan menjadi tempat terakhir Kalingga dan saudaranya untuk mengubur semua mimpi mereka tentang keluarga yang utuh dan bahagia. Merlinda telah tiada, wanita yang menjadi cinta pertama empat anak laki-laki yang duduk mengelilingi makamnya.


"Beristirahatlah dengan tenang, Ma. Kami mencintaimu lebih dari yang kau tahu. Terima kasih untuk segalanya," ucap Keenan sambil tersenyum.


Jojo, Angelina, dan Johnathan mendamping mereka hingga akhir. Meski sedih karena kehilangan, mereka semua lega karena pada akhirnya Merlinda tidak lagi mengalami kesakitan.


Jojo tersenyum melihat empat laki-laki itu berdiri dengan tegar. Mereka semua berjalan bersama meninggalkan area pemakaman.


"Ada sesuatu yang Mama kalian tinggalkan. Ini hadiah untuk kalian," ucap Johnathan saat mereka sampai di tempat parkir. Laki-laki paruh baya dengan uban menghiasi rambutnya itu menyerahkan sebuah lukisan berukuran sedang.


Lukisan tentang seorang wanita dewasa yang berlarian bersama empat bocah laki-laki di sebuah taman bunga itu mnggambarkan betapa besar cinta Merlinda untuk anak-anaknya.


"Terima kasih, Tuan. Terima kasih juga karena sudah menjadi suami yang baik untuk Mama kami, terima kasih karena kau adalah satu-satunya pelipur lara saat Mama kehilangan seluruh harapan hidupnya," ucap Kalingga.


Johnathan tersenyum dan memeluk empat laki-laki di depannya secara bergantian.


🖤🖤🖤


Proses pemakaman telah berakhir, rumah mereka kini kembali sepi seperti biasanya.


"Kak, terima kasih sudah datang," ucap Jojo pada Angelina. Ia mengantarkan wanita itu di depan gerbang rumahnya.


"Kabari aku jika butuh sesuatu. Kuatkan mereka, ini akan sangat menghancurkan perasaan mereka semua," ujar Angelina. Mereka berpelukan sebelum berpisah.


Di dalam rumah, Kalingga dan ketiga saudaranya duduk melamun di ruang tengah.


"Aku akan memasak untuk makan malam kita, kalian bisa istirahat," ucap Jojo.


Beberapa saat kemudian, Kylan dan Kai menyusul pergi. Sementara Kalingga masih belum berniat beranjak dari tempat duduknya.


"Sayang, istirahatlah," pinta Jojo sambil mengelus pundak Kalingga.


Laki-laki itu berdiri, namun tidak untuk kembali ke kamarnya. Ia justru mengambil lukisan pemberian Johnathan dan memasangnya di dinding ruang tengah di atas vas bunga kesukaan Kalingga.


Setelah lukisan terpasang, keduanya berdiri dan memandang gambaran di atas kain kanvas itu. Perasaan sedih kembali muncul memenuhi hati Kalingga.


Jojo meraba lukisan, lalu merasakan sesuatu yang mengganjal penglihatan di sudut bawahnya. Gadis itu meraba bagian belakang lukisan dan menemukan sebuah kertas yang terselip.


"Sayang, kau menemukan sesuatu?" tanya Kalingga. Jojo membuka kertas dan membaca isinya.


"Ini alamat pemakaman," jawab Jojo.


"Dari mana kau tahu?"


"Mama kalian memberitahuku, jika dia akan memberitahu kalian tempat di mana ibu kandung kalian di makamkan setelah kepergiannya," jelas Jojo. Alamat pemakaman itu lengkap beserta nama wanita yang diduga adalah Ibu kandung empat bersaudara.


Kalingga mengernyitkan dahi, ia seperti mencoba menggali sesuatu dalam ingatannya. Hanya beberapa saat, ia berlari menaiki anak tangga, lalu membuka kamar kosong yang terletak di lantai atas, tepat di samping kamar Kai.


"Sayang, kau mencari sesuatu?" tanya Jojo bingung. Ia melihat Kalingga mulai mengobrak abrik isi lemari.


Dulunya, kamar ini adalah kamar yang dipakai oleh Abraham dan Merlinda. Kamar paling besar di antara kamar lainnya. Namun seperti yang terlihat, kamar ini selalu terkunci dan tak terurus. Bahkan Jojo baru sekali ini masuk dan melihat isi kamar.


Tanpa menjawab, Kalingga membuka seluruh pintu lemari dan memeriksa seluruh laci.


"Sayang, katakan sesuatu. Aku akan membantumu mencarinya," desak Jojo.


"Sebuah foto," jawab Kalingga singkat.


Meskipun Jojo tidak mengerti tentang foto apa yang sedang Kalingga cari, wanita itu tetap berusaha mencari. Ia menemukan beberapa foto yang terselip di bagian bawah rak lemari, ia menunjukkannya pada Kalingga.


"Tidak, bukan foto ini," ucap Kalingga.


Mereka kembali membongkar seluruh isi kamar dan mencari apa yang Kalingga inginkan.


"Apakah foto ini?" tanya Jojo. Ia memperlihatkan sebuah foto lama yang sudah mulai rusak. Saat mengenali seseorang di foto tersebut, Kalingga mengambilnya dari tangan Jojo.


"Ini adalah Bu Maria. Kami hanya bertemu satu kali saat aku masih kecil, Mama memperkenalkannya sebagai saudara jauh. Tapi selanjutnya, kami beberapa kali bertemu tanpa sepengetahuan Mama, karena Papa mengajakku dan melarangku mengatakannya pada Mama," jelas Kalingga.


"Itu artinya ...."


"Benar, kemungkinan dia adalah Ibu kandung kami. Karena sejauh yang aku tahu, Mama dan Papa sama-sama anak tunggal dan tidak punya saudara," ungkap Kalingga.


Saat Jojo berpikir jika Kalingga akan memberitahu adik-adiknya, malah yang terjadi adalah sebaliknya. Laki-laki itu mengambil korek api yang tergeletak di lantai dan membakar foto di tangannya.


"Sayang ...." Suara Jojo tertahan di tenggorokan. Wanita itu menghela napas panjang.


🖤🖤🖤