
Jojo bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengambil salep, gigitan semut merah menimbulkan rasa gatal dan panas sekaligus. Ia tidak tega melihat Kylan mengeluh karena tubuhnya dipenuhi dengan gigitan semut.
"Kau baik-baik saja?" tanya Jojo. Ia mengoleskan salep ke setiap bercak merah yang ditinggalkan semut setelah menggigitnya.
"Ah, sakit!" keluh Kylan sambil meringis.
"Laki-laki jantan tidak boleh cengeng!" ledek Kalingga.
"Kakak! Kau yang enak-enakan menghamili Jojo, tapi aku yang harus kesulitan menuruti keinginannya," ucap Kylan.
"Aku juga," sela Kai.
"Ya, aku juga." Keenan pun ikut-ikutan.
"Siapa yang pernah bilang agar rumah ini dipenuhi dengan anak-anak agar lebih ramai. Baru seperti ini saja kalian mengeluh, apa lagi kalau Kakak Ipar kalian hamil tiap tahun, apa kalian sanggup?" tanya Kalingga.
"Tiap tahun?" tanya Jojo dengan mata membulat penuh.
"Hmm, baiklah. Semua ini demi keponakan!" Kylan kembali tersenyum. Lagipula ia sudah merasa baik-baik saja. Ia tidak selesai kelihatannya.
Mereka akhirnya hanya memutuskan duduk sambil memandang tiga buah mangga muda yang menggantung sambil sedikit bergoyang tertiup angin, membuat Jojo seakan-akan merasa jika buah itu sedang melambai ke arahnya.
Melihat Kakak Iparnya nampak sangat ingin, Kai mulai berprasangka buruk.
"Kakak Ipar, pohon mangga ini adalah satu-satunya pohon berbuah di rumah ini. Meski sekeras apapun kau menginginkannya, aku tidak akan setuju jika Kakak merobohkannya," tegas Kai. Seolah-olah ia tidak akan rela jika Kalingga sampai punya niat merobohkan pohon ini seperti yang ia lakukan di pulau kelapa.
"Aku tidak bilang begitu," gumam Jojo.
"Lalu, apa yang kau rencanakan? Hah?" tanya Kai lagi.
"Sayang, bagaimana jika aku pergi membelinya ke toko buah saja?" sela Kalingga.
"Ah, Sayang. Aku mau yang langsung dipetik dari pohonnya," tolak Jojo. Sepertinya apa yang ada di depan matanya lebih menggoda dari apapun.
"Aku pernah lihat galah panjang di gudang sana, dulu Pak Lin pernah memakainya untuk membersihkan pohon palem di depan rumah," ucap Jojo.
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi," gumam Kylan. Ia akhirnya menyuruh Kai untuk mengambil galah ke gudang yang dimaksud oleh Jojo.
Hanya berselang lima menit, Kai kembali dengan galah panjang yang terbuat dari bambu. Namun setelah percobaan beberapa kali, panjang galah tidak bisa meraih buah mangga yang Jojo inginkan.
"Percuma, ini kurang panjang!" seru Keenan. Ia sudah merasa lehernya hampir patah karena terus menerus melihat keatas dan berusaha meraih buah dengan galah yang tidak seberapa panjangnya.
"Hai, kalian di sini rupanya. Aku mencari kalian." Tiba-tiba suara seorang wanita membuat semua orang menoleh serentak.
"Wow, sejak kapan kalian suka pakai baju couple?" tanya Jojo senang. Ia melihat baju yang dikenakan oleh Angelina dan Keenan, keduanya sama. Angelina hanya tersenyum malu-malu, sementara Jojo menepuk tempat duduk di sebelahnya dan meminta Angelina duduk.
"Tidak apa-apa, Kak. Kami sejak tadi di sini, kau bisa masuk sesuka hatimu," ungkap Jojo. Bukankah wanita itu akan segera menjadi bagian dari keluarga ini? Jojo tidak memberi batasan pada Angelina karena tanpa diminta pun ia selalu tahu batasan-batasannya.
"Bagaimana ini?" tanya Kalingga. "Kai, kau panjat sedikit sampai di sebelah sana agar galah ini bisa meraihnya," perintahnya.
"Tidak! Enak saja!" tolak Kai mentah-mentah. "Meskipun Kakak memberiku uang, aku tidak mau!" lanjutnya.
Setelah melihat situasi, Angelina memberi saran agar mereka saling gendong. Orang dengan berat badan paling ringan berada di atas, dan yang paling kuat harus menopang yang lain.
"Aku paling kecil, jangan menyuruhku menggendong siapapun!" ucap Kai. Bocah itu sudah waspada karena khawatir.
"Kalau begitu kita undi, dua orang di bawah, dan hanya satu yang akan naik." Kalingga memberi saran. Akhirnya mereka kembali mengundi keberuntungan dengan bermain gunting batu kertas.
Sepertinya keberuntungan berpihak pada Kylan, ia hanya perlu membantu Kai sementara Keenan dan Kalingga bertugas sebagai penopang.
Dua laki-laki saling merangkul dan merapatkan bagian atas tubuh mereka dengan kaki berdiri kuat dan kokoh. Kylan membantu Kai memanjat tubuh kedua Kakaknya hingga bisa berdiri tegak di atas pundak Kalingga dan Keenan.
Setelah tubuh mereka bertiga imbang, Kylan memberikan galah pada Kai dan meminta bocah itu segera menjatuhkan target mereka.
"Ini sulit," keluh Kai. Ia memukul-mukul tiga mangga itu berkali-kali namun tak kunjung jatuh.
"Jangan memukulnya, nanti buahnya rusak!" protes Jojo.
"Kakak, jangan goyang-goyang! Aku nanti jatuh," protes Kai pada kedua kakaknya yang sedang berusaha berdiri kokoh dengan kaki gemetar.
"Kau terlihat kecil tapi kau berat! Cepat!" seru Keenan.
Setelah cukup lama berusaha, akhirnya tiga buah mangga muda telah jatuh dari pohonnya. Jojo dan Angelina segera mengambil buah yang jatuh sementara Kylan membantu adik bungsunya turun.
"Ah, pundakku!" seru Keenan mengeluh.
"Dasar lemah," ejek Kai.
Keenan tidak membalas perkataan Kai demi menjaga imagenya di depan Angelina. Laki-laki itu hanya menghela napas panjang untuk meredakan keinginan mengunyah kepala adiknya.
Setelah mendapatkan mangga yang diinginkan, Jojo dan Angelina segera ke dapur. Mereka menyiapkan kecap manis dan irisan cabai lalu mencampurnya.
Setelah mangga dikupas, dipotong sesuai selera dan dicuci bersih, mereka berdua menikmatinya sambil duduk manis. Rasa asam, pedas dan manis yang berbaur membuat air liur mengucur deras di dalam mulut. Kalingga dan ketiga adiknya hanya bisa meringis membayangkan betapa asamnya mangga muda di tangan dua wanita itu.
"Apa seenak itu rasanya?" tanya Kylan penasaran. Lama-lama ia menelan ludah karena ingin. Namun hanya selang beberapa menit, semua habis dimakan oleh Jojo dan Angelina.
🖤🖤🖤