
Beberapa bulan kemudian.
Usia kehamilan Jojo kini sudah menginjak tujuh bulan, wanita itu sudah berhenti total dari semua pekerjaannya yang melelahkan, termasuk syuting iklan dan pemotretan. Meski agensi menyayangkan keputusannya karena cuti lebih awal padahal hari persalinan masih jauh, Jojo tidak masalah.
Bagi Jojo, kehamilannya adalah anugerah terbesar. Ia harus menjaganya sepenuh hati agar ia dan calon bayinya tetap sehat hingga hari kelahiran nanti.
Kini Jojo tidak perlu repot mengurus rumah, karena ia dan keempat laki-laki penghuni rumah ini sudah memutuskan untuk mengangkat istri Pak Teguh sebagai asisten rumah tangga.
Wanita paruh baya berusia empat puluh delapan tahun yang bernama Bu Yura itu sudah bekerja selama beberapa bulan di rumah ini dan mendapatkan kepercayaan penuh dari seluruh penghuni rumah.
Jojo tidak hanya memberikan gaji yang besar untuk Bu Yura, namun Jojo juga mempekerjakan Pak Teguh sebagai tukang kebun di rumah ini. Jojo melakukan hal itu agar sepasang suami istri itu tidak berpisah, dan Pak Teguh tidak perlu susah-susah bekerja panas-panasan di jalan untuk mencari pelanggan.
"Kakak Ipar, sedang apa kau di sini?" tanya Kai. Ia melihat Jojo duduk sendirian di taman samping rumahnya sambil melamun.
"Mencari udara segar," jawab Jojo. "Hari ini panas sekali. Kenapa tidak ada penjual es keliling yang lewat di depan rumah kita?" keluhnya. Kai menelan ludah, sejak kapan perumahan elite mereka didatangi pedagang keliling?
"Apa kau ingin sesuatu?" tanya Kai. Ia baru saja pulang dari kampus dan merasa lelah, sebenarnya ia ingin beristirahat, namun tidak tega mengabaikan kakak iparnya.
"Es buah terdengar sangat menyegarkan, apa kau mau membelinya untukku, Adik Ipar?" tanya Jojo dengan mata berbinar.
"Ah, es buah. Baiklah, sepertinya tidak jauh dari jalan raya ada yang jual," ucap Kai setuju. Selagi ia mampu, ia akan memberikan apapun keinginan kakak iparnya, seperti pesan Kalingga setiap hari.
"Tidak, es buah yang selalu kau beli saat SMA lebih enak. Aku mau yang itu."
"Baiklah, baiklah. Aku akan membelinya ke sana," ujar Kai sambil menghela napas panjang. Akhir-akhir ini Jojo sedikit sensitif, karena semakin hari ia semakin kesulitan melakukan banyak hal karena perutnya semakin membesar. Semua orang berusaha memahami perasaan wanita itu, dan berusaha melakukan yang terbaik agar ia tetap bahagia menjalani kehamilannya.
Setelah meletakkan tasnya ke dalam kamar, Kai mengganti pakaian dan pergi mengendarai sepeda motornya. Saat keluar dari area perumahan, ia melihat penjual es buah yang sedang berhenti di trotoar pinggir jalan.
"Ah, beli yang ini saja. Kakak Ipar tidak akan tahu," batin Kai. Ia hanya perlu mengatakan pada Jojo jika ini es buah yang ia beli di dekat sekolah SMA-nya, maka itu tidak akan menjadi masalah. Lagi pula jarak sekolah lamanya cukup jauh.
Setelah satu porsi es buah sudah terbungkus, Kai pulang ke rumah dengan penuh semangat. Jojo tidak akan bisa membedakan rasa es ini karena dilihat dari isinya sama saja.
Kai memasukkan kembali motornya ke garasi, namun ia terkejut mendapati wanita berperut buncit sudah menunggu di halaman rumahnya.
"Ada?" tanya Jojo.
"Hmm, ini." Kai menyerahkan sebungkus es buah ke tangan Jojo. Wanita itu sangat senang dan segera pergi ke dapur untuk mencicipinya.
"Aku menyuruhnya libur. Pak Teguh sedang kurang sehat," jawab Jojo sambil sibuk menuang es buah ke dalam mangkuk.
"Oh." Kai mengangguk paham, ia berjalan meninggalkan dapur dan hendak kembali ke kamar, namun tiba-tiba Jojo kembali memanggilnya.
"Ini bukan es buah yang biasa kau beli. Rasanya lain," keluh Jojo dengan wajah sedih. Ia menyingkirkan mangkuk di depannya.
"Beda apanya? Ini sama saja, Kakak Ipar!" seru Kai. Ia segera mencicipinya dan tidak merasakan perbedaan apapun, rasa manis dari kuah dan varian isinya sama saja.
"Ah, kau bohong," gumam Jojo sambil menunduk.
"Tidak, siapa yang berbohong. Ini es yang aku beli di dekat sekolah lamaku, Kak!"
Jojo terdiam, tiba-tiba Kai mendengar suara wanita itu terisak. Bocah itu melotot, apa kaka iparnya sedang menangis?
"Kakak Ipar, apa kau menangis?" tanya Kai. Ia mendekati Jojo dan melihat wajah kakak iparnya.
"Kau tahu aku tidak suka dibohongi, kenapa berbohong?" tanya Jojo. Buliran bening air matanya mngalir deras di pipi.
Melihat hal itu, Kai menelan ludah. Kini ia merasa bingung, bagaimana bisa ia membuat kakak iparnya menangis?
"Sudahlah, Kakak Ipar. Maaf aku berbohong. Apa kau mau es buah di sekolah lamaku? Kau mau berapa bungkus? Tiga? Lima? Aku akan membelinya. Berhentilah menangis," pinta Kai. Ia mengusap punggung Jojo dengan perasaan tidak karuan.
"Aku mau dua," ucap Jojo di sela tangisnya.
"Dua bungkus? Hanya dua? Baiklah. Berhenti menangis dan aku akan pergi membelinya," ucap Kai. Ia berjalan tergesa-gesa dan hampir berlari keluar dari rumah. Secepat kilat, ia pergi mengendarai motornya.
Di dalam rumah, Jojo mengusap air matanya. Entah mengapa akhir-akhir ini ia merasa sangat emosional. Ia mudah sekali menangis tiba-tiba hanya karena hal-hal sepele. Bahkan hanya karena Kalingga berpamitan akan lembur hingga tengah malam saja, Jojo hampir menangis histeris. Ia merasa tidak bisa jauh dari suaminya.
Sepanjang perjalanan, Kai terus bergumam. Ia merasa menyesal telah berbohong pada Jojo hingga membuat kakak iparnya menangis.
Jarak rumah dan sekolah SMA lamanya hampir memakan waktu dua puluh menit, ia mengendarai sepeda motornya dengan cepat karena khawatir penjual es itu sudah pergi dari lokasi biasanya.
Beruntung, Kai masih bisa mendapatkan tiga bungkus terakhir. Jika terlambat sedikit saja, es buah ini pasti sudah terjual habis. Dan ia tidak bisa membayangkan Jojo akan menangis histeris di depannya. Jika hal itu sampai terjadi, habislah dia di tebang Kalingga.
🖤🖤🖤