ANAK ASUHKU

ANAK ASUHKU
Berkeliling Desa


Hari pertama di rumah calon mertuanya, Kalingga hanya di minta untuk beristirahat dan menghabiskan waktu untuk makan masakan desa beserta berbagai jajanan jaman dulu lainnya. Kalingga sangat senang, ia tidak menyangka jika kedua orang tua Jojo sangat baik. Jika saja orang tuanya juga seperti ini, ia pasti lebih bahagia karena tidak perlu mengkhawatirkan pujaan hatinya.


Pagi-pagi sekali, Jojo masuk ke dalam kamar Kalingga dan berniat membangunkan laki-laki itu. Namun saat masuk, Jojo sudah melihat Kalingga selesai mandi dan berpakaian rapi.


"Kak, aku kira kau belum bangun," ujar Jojo. Ia duduk di tepi kasur dan melihat kamar sudah kembali rapi.


"Aku harus bangun pagi dan mendapatkan citra baik sebagai menantu idaman. Aku tidak akan mengecewakan calon mertuaku," jawab Kalingga bersemangat.


"Sebentar lagi kita sarapan, setelah itu aku akan mengajakmu berjalan-jalan keliling desa."


"Kau akan memamerkan calon suami tampanmu ini ke seluruh pelosok desa?" tanya Kalingga.


"Percaya diri sekali," batin Jojo. Namun ia tidak mengatakannya, dan hanya tersenyum mendengar pertanyaan Kalingga.


Laki-laki itu menanyakan banyak hal tentang setiap foto yang tergantung di dinding. Jojo dengan senang hati memberitahu laki-laki itu tentang setiap momen berharga yang kebetulan diabadikan dalam bentuk gambar.


Beberapa saat kemudian, Ibu Jojo datang dan mengajak mereka berdua sarapan.


Meski seumur hidupnya tinggal di daerah kota dan di kelilingi makanan modern, Kalingga tidak keberatan mencicipi semua makanan yang di masak oleh calon mertuanya. Laki-laki itu bahkan terang-terangan memuji kenikmatan setiap menu yang di hidangkan. Tidak heran jika Jojo juga pandai memasak, karena Ibunya memiliki ketrampilan memasak yang mengagumkan.


"Apa toko kita tutup, Bu?" tanya Jojo.


"Ibu menutupnya karena karyawan kita menikah. Karena kalian pulang, mungkin toko akan tutup beberapa hari agar Ibu bisa di rumah," jelas Asri.


"Biar aku yang menunggunya, Bu. Kebetulan aku akan mengajak Kak Kalingga jalan-jalan pagi, setelah itu kami akan buka toko sampai sore. Kami tidak punya kegiatan di rumah," jelas Jojo.


"Setelah jalan-jalan, di rumah saja, Nak. Kalian kan sudah banyak bekerja di kota, gunakan waktu di sini untuk istirahat," sela Ayah Jojo. Laki-laki berusia lima puluh lima tahun bernama Narjo itu merasa tidak enak hati jika anak dan calon menantunya malah sibuk membantu pekerjaannya.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya juga senang jika bisa membantu." Kalingga bersuara. Dengan terpaksa, Asri dan Narjo mengizinkan.


Setelah sarapan usai, Jojo mengeluarkan sebuah sepeda motor dari garasi sempit samping rumahnya. Ia meminta Kalingga memboncengnya dan berjalan-jalan mengelilingi desa.


Desa asri yang diapit oleh pegunungan di samping kanan dan kiri ini membuat Kalingga bahagia. Cuaca yang cerah namun sejuk dengan sawah dan ladang di sepanjang jalan membuat suasana hati Kalingga lebih tenang. Ia bisa melupakan segala hiruk pikuk masalah pekerjaan dan kesibukannya, ia ingin tenang menghabiskan waktu bersama orang tersayang.


"Pegangan, aku tidak mau bertanggung jawab jika sampai kau jatuh," ucap Kalingga.


"Aku tidak akan jatuh, Kak. Aku pegang kaosmu," jawab Jojo. Kedua tangannya memegang ujung kaos Kalingga.


"Kau sudah jatuh di hatiku berulang kali. Jatuh di atas jalan setapak ini lebih menyakitkan. Pegangan dengan benar!"


"Dasar!" gumam Jojo. Pada akhirnya, ia melingkarkan kedua tangannya di perut Kalingga, membuat laki-laki itu semakin senang dan tersenyum puas.


Mereka mengelilingi desa, melihat sawah dan perkebunan buah semangka. Beberapa orang yang mengenali Jojo juga menyapa saat gadis itu lewat.


Setelah puas berkeliling, Jojo mengajak Kalingga ke sebuah toko serba ada yang berada tidak jauh dari rumahnya. Toko itu menjual berbagai macam kebutuhan pokok, dari beras, jagung, ubi hingga bumbu dapur. Selain itu, toko juga menyediakan peralatan sekolah dan berbagai keperluan kecil rumah tangga.


"Siapa yang biasa menjaga toko?" tanya Kalingga.


"Ayah dan Ibu, tapi aku juga meminta mereka mempekerjakan dua orang karyawan untuk membantu."


"Setelah berkeliling, toko ini termasuk toko paling besar dan lengkap di desa. Prospek penjualannya pasti bagus."


"Ya, Kak. Ini hadiah untuk kedua orang tuaku. Aku ingin mereka bersantai di hari tua, karena semua keperluan untuk membeli barang dan sebagainya sudah diatur oleh karyawan. Ayah dan Ibu hanya duduk manis dan mengatur keuangan," jelas Jojo.


"Kau juga membeli sawah?" tanya Kalingga.


"Itu investasi hari tua. Milik ayah dan ibuku sebagai ganti sawah mereka yang terjual untuk biaya pengobatan. Sawah itu disewakan pada orang lain, aku tidak mengizinkan ayah untuk bekerja di sawah lagi."


Kalingga tersenyum bangga dan merangkul pundak Jojo. Ia sangat senang mendapatkan seorang calon istri yang memiliki pemikiran sama dengannya. Jojo sangat menguasai kriteria sebagai wanita idaman bagi Kalingga, bahwa gadis itu lebih dari yang ia harapkan.


Saat mereka sedang asik mengobrol, datang salah seorang laki-laki masuk ke dalam toko. Ia melihat Jojo dan Kalingga dengan pandangan aneh.


"Alvian, lama tidak bertemu," sapa Jojo. Ia bangkit dari kursi dan mendekati laki-laki itu.


"Jojo," gumam Alvian. Ia melihat gadis cantik itu berjalan mendekat.


"Apa kabar?" tanya Alvian sambil mengulurkan tangan.


"Baik, bagaimana kabarmu? Aku dengar, sekarang kau bekerja di kota."


"Ah, ya. Apa Bibi menceritakannya padamu?"


"Ya, Ibu selalu bercerita tentangmu."


Alvian tersenyum dan mengangguk. Ia melemparkan pandangan pada laki-laki yang duduk di belakang meja karyawan yang asik bermain ponsel. Laki-laki itu merasakan hatinya teriris, mengetahui gadis yang ia tunggu selama bertahun-tahun telah pulang membawa calon suami.


"Jadi, sekarang kau sukses, ya. Aku bangga melihatmu berada di acara televisi. Aku senang akhirnya kau pulang," ucap Alvian.


"Terima kasih. Senang bisa bertemu lagi denganmu Alvian."


"Apa dia calon suamimu?" tanya Alvian. Wajahnya mulai serius, ia meletakkan sebelah tangannya di pundak Jojo dan menatap dua bola mata bersinar yang ia kagumi sejak lama.


Jojo mengangguk dan tersenyum kecil. Entah mengapa, ia merasa telah menyakiti perasaan laki-laki di hadapannya.


"Aku tahu. Maaf telah membuatmu tidak nyaman karena aku terlalu berharap, semoga apapun yang kalian rencanakan, akan berjalan baik kedepannya," ucap Alvian. Ia mengusap rambut Jojo dengan lembut dan berakhir dengan sentuhan di pipi. Hanya beberapa detik, Jojo langsung menghindar. Ia sedikit mundur dan menjauh dari Alvian.


Dari kejauhan, Kalingga merasakan hawa panas mengepul di sekelilingnya. Laki-laki itu berusaha untuk tidak melihat dan menutup telinga, namun sikap Alvian dan cara pandang laki-laki itu, menampakkan perasaan yang berbeda untuk Jojo.


🖤🖤🖤