
Sebelum Kalingga membahas hal yang lebih jauh lagi, Jojo mulai membicarakan hal lain tentang rencananya besok pagi.
Mereka harus tiba di bandara pukul delapan pagi, dan akan naik pesawat selama tiga jam. Setelah itu, Kalingga sudah mengatur semuanya untuk sampai ke desa tempat orang tua Jojo tinggal.
"Kak, hari ini aku menerima telepon dari Nyonya Merlinda," ucap Jojo. Gadis itu ingin merahasiakannya, namun ia kuasa jika harus menyembunyikan sesuatu dari Kalingga.
"Mama masih berani menghubungimu?" tanya Kalingga. Ia tidak habis pikir, bahkan setelah kejadian beberapa waktu lalu, Merlinda bahkan masih berani menelepon Jojo.
"Hanya menanyakan kabar kalian."
Kalingga mendengkus kesal. Rasa sakit hatinya bahkan masih belum hilang setelah mendengar penghinaan yang Merlinda lontarkan untuk kekasihnya.
"Bukankah sebaiknya kita bicarakan hubungan kita pada Nyonya Merlinda terlebih dahulu, Kak?"
"Restu orang tuamu adalah yang utama. Jika mamaku tidak merestui kita, bukan masalah," jawab Kalingga.
"Kenapa berbicara seperti itu? Restu semua orang adalah hal yang penting."
Kalingga menarik napas panjang. Sebenarnya laki-laki itu berencana untuk menikah tanpa memberitahu Merlinda. Ia tidak perlu meminta restu pada wanita itu untuk menikahi Jojo. Hal paling utama bagi Kalingga adalah restu dari ketiga saudaranya dan orang tua Jojo. Mereka sudah lebih dari cukup baginya.
"Jangan bilang kalau kau berencana menikahiku tanpa memberitahu Nyonya Merlinda, Kak. Jangan lakukan itu!" seru Jojo.
"Bagaimana jika begitu? Kau keberatan?" tanya Kalingga. Ia tahu Merlinda tidak semudah itu untuk memberi mereka restu.
"Paling tidak, kita akan mencobanya, Sayang. Orang tuamu berhak tahu, dan kita akan menghadapinya bersama." Jojo menggenggam tangan Kalingga, berusaha meyakinkan kekasihnya bahwa mereka pasti bisa melaluinya bersama.
Melihat keinginan kuat Jojo, Kalingga tidak bisa menolak. Gadis itu selalu memikirkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Meski Kalingga sadar jika Merlinda sudah berulang kali menyakiti Jojo, gadis itu seperti tidak pernah memiliki dendam dan sakit hati.
Semakin hari, Kalingga semakin bangga dan yakin jika Jojo adalah gadis yang pantas ia perjuangkan. Tidak peduli dari mana gadis itu berasal dan bagaimana asal usulnya, Kalingga tetap memberikan cinta dan seluruh hatinya.
"Apakah kau adalah bidadari yang dikirimkan malaikat untukku? Kenapa hatimu sangat baik dan tulus?" tanya Kalingga.
"Tidak, aku adalah wanita yang diciptakan Tuhan untuk mendampingimu, berada di sisimu dan hidup bersamamu. Semua manusia diciptakan lengkap dengan hatinya, Kak. Perasaan sakit itu ada, tapi aku menyadari siapa diriku."
Kalingga tersenyum, ia meraih tubuh gadis itu dan memeluknya erat. Kalingga merasa menjadi laki-laki paling beruntung. Ia tidak hanya akan mendapatkan seorang istri, namun juga orang kepercayaan untuk membantunya mengurus ketiga adik laki-lakinya.
Jojo bagaikan harapan yang yang setiap waktu Kalingga sebutkan. Gadis dengan penuh kesabaran, kerendahan hati dan tangguh adalah jawaban dari setiap doanya. Kalingga bahkan tidak percaya, Tuhan begitu baik mengirimkan sosok gadis seperti itu dalam hidupnya.
"Aku mencintaimu, Sayang. Terima kasih." Kalingga semakin mempererat pelukannya.
Jojo bagaikan lentera yang bersinar terang saat segala kesulitan dan kegelisahan membayangi hidup Kalingga. Pada akhirnya, kini ia merasa tidak sendirian.
Setelah cukup lama saling mencurahkan perasaan, Jojo meminta Kalingga untuk segera beristirahat. Mereka berpisah setelah hati keduanya merasa lega.
🖤🖤🖤
Pagi-pagi sekali, Jojo sudah bangun dan membereskan seluruh isi rumah. Ia mengepel seluruh lantai dari ujung ke ujung. Gadis itu akan merasa khawatir jika meninggalkan rumah dalam keadaan buruk.
"Tinggal sedikit lagi, Kak. Sebentar lagi aku akan selesai."
"Aku sudah melarangmu membereskan rumah, mereka bisa melakukannya sendiri. Pagi ini tidak perlu memasak, aku sudah pesan makanan untuk sarapan pagi kita semua."
Kalingga berjalan malas menuruni anak tangga, meski ia berusaha bangun sepagi mungkin, ia tidak pernah bisa mengalahkan Jojo. Kalingga sudah paham, jika Jojo tidak akan bisa mengabaikan pekerjaannya, dan laki-laki itu mulai merasa kasihan jika Jojo terus seperti ini.
Pukul enam lewat tiga puluh menit setelah semua orang menyelesaikan sarapan, Kai memeluk Jojo. Ia akan merasa kesepian jika calon kakak iparnya pergi meski hanya beberapa hari.
"Semoga selamat sampai tujuan. Beri aku kabar dan jangan lupa oleh-oleh untukku," ucap Kai sambil memeluk Jojo. Mereka terlihat sangat cocok, tidak akan ada yang bisa menebak jika pada awalnya Kai pernah sangat membenci Jojo.
"Jangan membuat masalah atau menyusahkan Kakakmu selama aku pergi."
"Siap, Kakak Ipar!" Kai berdiri tegap dengan gerakan hormat.
Kylan dan Keenan menunda pekerjaan mereka sementara karena berniat mengantarkan Jojo dan Kalingga ke bandara pukul tujuh pagi. Keduanya menikmati waktu bersantai selagi Kalingga dan Jojo bersiap.
Mereka berangkat dengan cepat setelah mempersiapkan barang bawaan. Kalingga berada di mobil Keenan bersama Jojo sementara Keenan menumpang di mobil Kylan.
Setelah sampai di bandara, Keenan dan Kylan memeluk Jojo dan Kalingga bergantian.
"Jangan pulang terlalu malam, pastikan Kai tidak membuat masalah dan kalian harus makan teratur," ucap Jojo.
"Jangan khawatirkan kami," jawab Kylan. Ia senang pada akhirnya Kalingga dan Jojo akan mulai berjuang mengumpulkan restu orang-orang tersayang.
Jojo melambaikan tangan saat Keenan dan Kylan berjalan meninggalkan mereka. Ia selalu merasa khawatir dan tidak tega saat pergi meninggalkan rumah.
"Lucu sekali, mereka semua sudah dewasa dan aku masih mengkhawatirkannya," gumam Jojo.
"Kau juga sangat berarti untuk mereka, Sayang. Sekali saja, tolong lupakan mereka dan hanya aku yang ada di pikiranmu," pinta Kalingga. Ia menggandeng Jojo melewati bagian pemeriksaan untuk segera masuk ke dalam pesawat.
"Bagaimana tanggapan calon mertuaku? Apa mereka tidak keberatan jika aku datang?" tanya Kalingga saat mereka sudah duduk di kursi pesawat kelas bisnis.
"Aku tidak mengatakan bahwa kita akan datang. Aku hanya menceritakan pada mereka kalau aku akan segera memperkenalkan seorang calon menantu," jawab Jojo.
Gadis itu paham akan kekhawatiran Kalingga. Bagaimanapun, laki-laki itu pasti merasa takut jika kedatanganya tidak diharapkan. Namun Jojo terus menghibur Kalingga, bahwa orang tuanya tidak akan keberatan mendapatkan menantu setampan laki-laki itu.
"Bagaimana bisa mereka menolak laki-laki tampan dan penuh pesona sepertimu, Kak. Kau adalah menantu idaman," ucap Jojo.
"Apa kau sedang merayuku, Sayang?" goda Kalingga sambil meraih dagu Jojo.
"Sepertinya kau yang lebih sering merayuku, Kak!"
🖤🖤🖤