ANAK ASUHKU

ANAK ASUHKU
Basah Atau Banjir?


Setelah menikmati hari santai selama beberapa hari, kini Jojo kembali ke rutinitas paginya. Setelah bangun tidur, gadis itu sudah membersihkan seluruh bagian rumah dan memasak untuk menu sarapan seluruh penghuni rumah.


Pukul enam tepat, Jojo sudah mengetuk empat pintu kamar lantai atas secara bergantian. Keenan, Kylan serta Kai sudah turun ke lantai bawah dan duduk manis di ruang makan. Sementara Kalingga, sepertinya masih menyelesaikan ritual paginya.


"Ke mana Kakak?" tanya Kylan.


"Aku ada syuting pagi. Bisakah aku makan lebih dulu?" Keenan membalik piring miliknya dan bersiap mengambil nasi.


Melihat tiga laki-laki di depannya sudah terlihat lapar, akhirnya Jojo menyuruh mereka makan terlebih dahulu.


"Habiskan makanan kalian, aku akan lihat Kakak ke kamarnya," ucap Jojo.


Gadis itu berjalan meninggalkan ruang makan dan naik ke lantai atas. Sudah beberapa menit menunggu dan Kalingga tidak kunjung turun, artinya laki-laki itu pasti sedang butuh bantuan.


"Kak," ucap Jojo membuka pintu beberapa sentimeter tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


"Ah, Sayang." Kalingga terkejut, ia bergegas membereskan bedcover dari tempat tidurnya dan melipatnya.


"Aku baru menggantinya sebelum kita pergi ke rumah orang tuaku. Kenapa kau melipatnya lagi, Kak?" tanya Jojo.


"Ah, itu ... kotor," jawab Kalingga sambil menggaruk kepalanya.


"Kotor? Kenapa? Apa kau menumpahkan sesuatu?" tanya Jojo lagi.


Gadis itu mendekati Kalingga dan hendak melihat di bagian mana bedcover yang kotor. Karena mencuci barang setebal ini membutuhkan waktu yang lama dan menyita tenaga, Jojo jadi merasa lelah sebelum melakukannya.


"Kau tidak perlu mencucinya, Sayang. Aku akan membawanya ke jasa laundry saja." Kalingga berusaha menghalangi.


Jojo menyipit menatap penuh rasa ingin tahu, apa Kalingga menyembunyikan sesuatu darinya?


"Aku akan turun lima menit lagi, Sayang. Kau bisa menungguku di bawah," ujar Kalingga dengan sedikit memaksa. Jojo merasa sedang diusir, gadis itu cemberut saat keluar dari kamar Kalingga.


Saat kembali ke ruang makan, Keenan dan kedua adiknya heran. Mengapa Jojo turun sendirian?


"Ke mana Kakak? Apa dia belum bangun?" tanya Kylan. Jojo tidak menjawab, ia diam dan duduk di samping Kai.


"Ada apa?" tanya Keenan.


"Kita menunggunya hampir setengah jam dan dia sibuk mengganti bedcover tempat tidurnya. Padahal aku baru menggantinya beberapa hari lalu," jelas Jojo.


"Oh." Keenan, Kylan dan Kai hanya ber-oh ria sambil menganggukkan kepala.


"Kenapa reaksi kalian seperti itu?" tanya Jojo.


"Apa kau ingat perkataanku?" tanya Kylan. "Laki-laki terkadang tidak bisa mengontrol diri saat pagi, mungkin Kakak mengganti sendiri bedcovernya agar kau tidak tahu kalau dia baru bermimpi indah," lanjut Kylan.


"Betul, kau harus memaklumi kami," sela Keenan setuju.


"Kalian harus sadar sedang berbicara dengan siapa? Apa kalian tidak malu, dia calon kakak ipar kita," ucap Kai dengan suara berbisik.


"Diam! Jangan membicarakan hal seperti itu lagi!" seru Jojo merasa geli. Gadis itu merasa kepalanya sakit mendadak, ia akan menjadi gila jika seumur hidupnya mengurus semua laki-laki di rumah ini.


Keenan dan Kylan saling senggol, keduanya sadar jika salah bicara dan membahas kejantanan di depan Jojo.


Hidup seatap bersama empat laki-laki dengan sikap, sifat dan kebiasaan berbeda membuat Jojo hampir hilang akal. Gadis itu memijat pelipisnya dan memperhatikan tiga laki-laki yang melanjutkan makan dalam keheningan.


Setelah ketiganya sudah menyelesaikan sarapan, satu persatu mulai membubarkan diri, tinggal Jojo yang masih duduk seorang diri menunggu Kalingga.


"Diam!" ucap Kalingga sambil melotot. Keenan dan Kai yang sudah sampai di pintu kamarnya hanya bisa tertawa mendengar pertanyaan tidak sopan Kylan.


Dulu, tidak seorangpun berani meledek Kalingga apapun yang terjadi, karena pada dasarnya kakak sulung mereka memang irit bicara.


Namun kehadiran Jojo mengubah sikap Kalingga yang terkesan dingin dan pendiam, kini Keenan, Kylan dan Kai bisa menikmati hari-hari mereka dengan menggoda kakak sulungnya.


"Apa mereka mengatakan sesuatu?" tanya Kalingga saat sampai di meja makan.


"Tidak, Kak. Ayo makan, ini sudah siang," ucap Jojo. Ia tidak akan membahas penjelasan singkat dari Kylan bersama Kalingga. Mereka empat bersaudara sama saja, pemikirannya tidak akan berbelok jauh dari hal-hal seperti itu.


Saat keduanya makan, tiga laki-laki bergantian datang dan berpamitan untuk pergi. Setelah itu, mereka menyelesaikan sarapan dengan cepat sebelum hari makin siang.


"Aku pergi dulu, Kai akan menjemputmu nanti," ucap Kalingga sambil memeluk Jojo.


"Aku bisa pulang naik ojek, Kak."


"Aku akan segera membeli mobil baru dan mencari sopir untukmu. Akan sangat bahaya jika setiap hari kau harus naik ojek online. Kenapa tidak suka naik taksi?"


"Aku tidak suka macet, lagi pula aku punya tukang ojek langganan, Kak. Dia bapak tua yang baik," ucap Jojo.


"Hmm, baiklah. Selalu berhati-hati dan jangan mudah percaya pada orang baru," ucap Kalingga. Jojo tersenyum, ia mengantar Kalingga ke depan pintu utama.


Pagi ini, Jojo memiliki jadwal pemotretan untuk iklan salah satu produk kecantikan, jadwalnya mulai padat seiring namanya semakin terkenal.


🖤🖤🖤


Jojo datang ke sebuah studio foto yang letaknya searah dengan kantor agensinya. Meski menjadi model terkenal dengan bayaran cukup tinggi, Jojo tidak malu pulang dan pergi menaiki ojek online.


Gadis itu melakukan beberapa sesi pemotretan dengan berbagai tema. Ia di tunjuk sebagai satu-satunya model untuk sebuah brand kecantikan yang baru meluncurkan produk pertama mereka.


Semakin hari, Jojo semakin berpengalaman dan bisa menyesuaikan diri dengan orang-orang baru dan pekerjaannya.


Pukul dua belas siang, Kai meneleponnya dan meminta kakak iparnya untuk mengirim lokasi terkini. Bocah itu mengatakan jika kegiatan sekolah sudah berakhir dan akan segera menjemput Jojo.


"Nona, apa kau perlu tumpangan?" tanya salah seorang staf yang bekerja bersamanya.


"Tidak, calon adik iparku akan segera datang," tolak Jojo.


Gadis itu membersihkan make up dan membereskan barang-barang miliknya. Ia segera keluar dari studio dan menunggu.


Selang beberapa menit, sebuah mobil berwarna hitam datang dan berhenti di depannya.


"Maaf, Nona Jovanka?" tanya seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan kacamata berwarna hitam.


"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Jojo.


"Ah, ya. Tuan Kalingga mengirim saya datang untuk menjemputmu, Nona. Dia sedang menunggu."


"Benarkah? Dia tidak mengatakan apapun padaku," ucap Jojo.


"Dia ingin memberi kejutan. Silahkan masuk." Laki-laki tidak dikenal itu membuka pintu mobilnya.


Karena Kalingga memang sangat sering memberi kejutan, Jojo tidak merasa curiga. Ia menuruti laki-laki itu dan masuk ke dalam mobil.


🖤🖤🖤