
Perjalanan yang melelahkan pun akhirnya usai, kini Jojo dan Kalingga kembali sampai di rumah dan bisa memulai aktifitas pekerjaan mereka mulai besok pagi.
Sesampainya di rumah, Jojo melihat rumah dalam keadaan bersih dan rapi. Ini tidak seperti saat pertama kali ia pergi beberapa hari bersama Kalingga ke luar negeri beberapa bulan lalu.
"Kakak Ipar, akhirnya ... kau pulang." Kai begitu senang dan menyambut Jojo, bocah itu membantu calon kakak iparnya merapikan barang bawaan yang sudah dibawa.
"Ke mana yang lain?" tanya Kalingga. Mereka sampai di rumah pukul lima sore karena sempat mampir ke berbagai toko oleh-oleh di dekat wilayah rumah Jojo.
"Belum ada yang pulang," jawab Kai. Keenan dan Kylan sepertinya sedang banyak pekerjaan dan membuat keduanya lupa jika sore ini kakaknya sudah kembali dari kampung halaman Jojo.
Jojo membongkar barang bawaannya dan memberi Kai berbagai macam makanan daerah yang sulit ditemui di daerah kota seperti ini. Meski mendapatkan oleh-oleh sederhana, Kai tampak bersemangat dan antusias.
Jojo dan Kalingga akhirnya memutuskan untuk ke kamar masing-masing dan mengistirahatkan tubuh selama beberapa menit. Kalingga melarang Jojo memasak untuk makan malam mereka karena laki-laki itu berjanji akan memesan makanan.
Pukul tujuh malam, Kylan datang ke kamar Jojo dan mengetuk pintu. Laki-laki itu meminta Jojo keluar untuk makan malam bersama.
"Aku benar-benar lupa kalau kalian sampai sore tadi," ucap Keenan saat semua sudah berkumpul di meja makan.
"Tidak apa-apa. Kami tahu kau sibuk," jawab Kalingga.
"Bagaimana suasana di desa Jojo, Kak? Pasti menyenangkan berada di sana?" tanya Kai. Ia sangat penasaran bagaimana pengalaman Kalingga berada di daerah orang. Karena sejak kecil, mereka tidak pernah pergi jauh dari rumah.
"Kalian tahu, aku populer di sana. Semua orang mengajakku berkenalan dan memuji ketampananku," ucap Kalingga penuh kebanggan.
"Ah, bohong!" desis Kylan tidak terima. "Baru juga mereka melihat Kak Kalingga. Bagaimana jika mereka melihatku? Pasti pingsan dan kejang," lanjut Kylan.
"Betul, mereka pingsan dan kejang karena melihat bagaimana jeleknya dirimu," bantah Jojo.
"Aku tidak sabar ingin ikut pergi ke sana," gumam Keenan.
"Kita akan mengosongkan semua jadwal pekerjaan setelah hari pernikahan kami. Kalian semua harus mengambil libur selama beberapa hari," jelas Kalingga.
"Pernikahan?" ucap Keenan, Kylan dan Kai bersamaan, ketiganya melongo.
"Kami akan menikah setelah wisuda kelulusan Jojo, tentu saja setelah pengumuman ujian nasionalmu juga keluar," jelas Kalingga.
"Wow, apa kedua orang tua Jojo sudah memberi restu?" tanya Keenan.
"Tentu saja, mereka tidak akan menolak mendapatkan calon menantu sekeren diriku."
"Oek!" Kai bertingkah seolah-olah ingin muntah, dan Jojo memukul bahu bocah itu keras.
"Tidak sopan!" seru Jojo dengan mata melotot.
Mereka akhirnya melanjutkan makan sambil membicarakan banyak hal, termasuk urusan kantor yang sedang ditangani oleh Keenan selama Kalingga pergi.
Mereka makan lebih lambat dari biasanya. Selain karena ada banyak hal yang sedang dibahas, mereka juga menikmati kebersamaan setelah beberapa hari terpisah.
Jojo membagikan oleh-oleh yang sudah ia bawa dari kampung halaman, semua orang begitu senang dan menerima pemberian Jojo.
"Tolong bawakan ini untuk Kak Angelina, Kak." Jojo menyerahkan satu kotak makanan daerah yang sudah dikemas cantik.
"Kak, aku kan minta tolong padamu. Kenapa kau tega sekali," keluh Jojo sambil memasang wajah sedih.
"Jangan berlagak sedih begitu," gumam Keenan sambil melirik Jojo.
Melihat Keenan mengabaikannya, Jojo berakting menangis tanpa air mata namun dengan suara isakan yang menyayat hati. Sementara itu, Kalingga juga membantu akting Jojo dengan memeluk gadis itu seolah-olah menenangkannya.
Keenan tertawa mengejek, sejak kapan dua orang itu bisa kompak berakting?
"Sudahlah, Kak. Kau membuat Jojo sedih," ujar Kai pada Keenan.
"Hah, kau sudah sangat pantas menjadi aktris. Aku akan mendaftarkanmu jadi pemeran pendukung," decak Keenan sambil merebut apa yang Jojo bawa.
Laki-laki itu memasang wajah cemberut dan berjalan meninggalkan meja makan, ia menaiki anak tangga dan kembali ke kamar. Sepeninggal Keenan, Jojo kembali tersenyum dan bertepuk tangan kecil.
"Kau sengaja melakukannya?" tanya Kylan sambil mengulum senyum.
"Mereka harus lebih sering bertemu. Jika tidak, mantan tak berperasaan akan menghantui Kak Keenan seumur hidupnya," jawab Jojo. Ia berniat akan membantu Keenan dekat dengan Angelina sebelum Callista kembali mendekati laki-laki itu.
Jojo melihat Kalingga tampak lelah, ia meminta laki-laki itu segera kembali ke kamar dan melanjutkan istirahat. Kalingga harus kembali bekerja besok pagi, karena Keenan sudah terlalu banyak membatalkan jadwal kegiatannya untuk mengurus pekerjaan kantor.
Sebelum kembali ke kamar, Kalingga memeluk Jojo di depan Kylan dan Kai. Membuat dua orang itu menelan ludah kasar dan hanya bisa menarik napas panjang.
"Kalian semakin mesra, ya." Kylan mulai meledek Jojo yang asik mencuci piring bekas makan.
"Jangan iri, Kak. Jangan iri," ucap Kai sambil menepuk punggung Kylan.
"Tidak, aku tidak iri. Aku juga bisa kalau hanya seperti itu."
"Dasar, playboy!" seru Jojo dari arah wastafel.
"Hei, jaga bicaramu, Jojo. Apa gunanya dianugerahi wajah tampan menawan dan banyak uang kalau aku hanya bisa mendapatkan satu wanita," ucap Kylan membela diri. Kai tertawa mendengar jawaban kakaknya, ia setuju dengan hal itu.
Mendengar perkataan Kylan, Jojo membanting piring di wastafel dan membuat dua laki-laki itu diam seketika. Kylan dan Kai saling dorong dan saling memukul saat melihat Jojo membalikkan tubuh menghadap mereka.
"Hei, playboy! Sepertinya kau belum pernah dihajar orang. Memangnya anak siapa yang kau permainkan perasaannya seperti itu? Hah?" Jojo berkacak pinggang.
Kylan menelan ludah, sementara Kai menahan tawa karena melihat ekspresi ketakutan dari kakaknya.
"Ah, perutku mendadak sakit, Jo. Aku akan kembali ke kamar," ucap Kylan tergesa-gesa sambil berjalan meninggalkan ruang makan.
"Anak nakal!" gumam Jojo sambil mengembuskan napas kasar.
Setelah mengistirahatkan pikirannya selama beberapa hari, kini ia harus kembali berada dalam ujian kesabaran karena harus berurusan lagi dengan formasi lengkap empat bersaudara.
"Dia contoh yang buruk, jangan sampai kau menirunya, Kai." Jojo memperingatkan aset berharganya.
"Kakak ipar, tenang saja. Aku ini anak baik, jangan khawatir."
🖤🖤🖤