ANAK ASUHKU

ANAK ASUHKU
Jangan menyentuh Laki-laki lain


Pagi hari, Jojo bangun dengan tubuh lelah dan kurang sehat. Akhir-akhir ini ia mengalami insomnia, dan ia tidak bisa membuat dirinya tidur dengan nyenyak setiap harinya.


Jika ada orang yang bisa ia salahkan, mungkin orang itu adalah Kalingga. Mengapa laki-laki itu seakan bergentayangan di kepalanya?


"Tidak, ini salahku. Harusnya aku tidak mempedulikan rayuannya!" batin Jojo.


Pagi ini, ia hanya memasak sup ayam serta ayam dan ikan goreng. Ia harus tetap mengurus keempat anak asuhnya meski pagi ini ia ingin sekali menikmati kasurnya yang nyaman dan empuk.


"Kakak ipar, kau terlihat sakit," ucap Kai saat mereka semua sedang makan bersama.


Semua orang menoleh, menatap Kai dengan pandangan menyelidik. Kakak ipar katanya? Siapa yang akan menikahi Jojo? Kylan dan Keenan merasa curiga satu sama lain.


"Bicara apa kau ini." Jojo memukul pundak Kai. Kebetulan mereka selalu duduk bersebelahan setiap hari.


"Serius, apa kau kurang sehat?" tanya Kai lagi. Kalingga pun nampak curiga, ia berpikiran sama dengan adik bungsunya.


"Tidak, aku baik-baik saja."


"Kau pucat, Jojo. Setelah sarapan tidak perlu mengerjakan apapun, istirahat saja di kamarmu," sela Kalingga.


Jojo melirik sinis pada laki-laki itu. Ingin sekali Jojo berteriak bahwa semua ini adalah ulah Kalingga. Laki-laki itu yang membuatnya kesulitan tidur setiap malam hingga matanya berkantung kehitaman.


Di antara semua orang, Jojo dan Keenan adalah dua orang yang sama-sama terlihat pucat dan kurang sehat. Pagi ini Keenan bahkan tidak menghabiskan sarapannya dan mengeluh pusing serta mual.


Jojo merasa bertanggung jawab atas keadaan keempat anak asuhnya termasuk Keenan, tidak mempedulikan dirinya sendiri dan menanyakan dengan detail kondisi laki-laki itu.


Setelah sarapan, Jojo mengantar minuman hangat ke kamar Keenan dan menyuruh laki-laki itu beristirahat.


"Apa yang salah denganmu, Kak? Semalam kau baik-baik saja," ucap Jojo. Ia melihat Keenan berbaring di sofa kamarnya.


"Entahlah, Jo. Aku merasa pusing dan mual. Pagi ini aku juga mengalami diare."


"Apa kau salah makan sesuatu?" tanya Jojo. Keenan hanya menggeleng, ia sendiri lupa apa yang sudah ia makan hingga membuat perutnya terasa tidak nyaman.


Saat Jojo membalur punggung Keenan dengan minyak aromaterapi sebagai penghangat, Kalingga tiba-tiba datang.


"Biar aku saja!" Kalingga merebut botol minyak di tangan Jojo dan meminta gadis itu duduk. Laki-laki itu mulai membalur punggung Keenan dengan minyak dengan sedikit pijatan.


"Kenapa bisa seperti ini? Apa kau makan sesuatu?" tanya Kalingga. Adiknya adalah tipe orang yang pilih-pilih saat makan di luar rumah. Kalingga tidak yakin jika Keenan sakit karena makanan.


"Dia diare, Kak," sela Jojo.


"Ayo ke rumah sakit."


"Tidak perlu, mungkin setelah ini akan membaik. Sepertinya aku hanya masuk angin karena terlalu lelah dan pulang tengah malam," jelas Keenan.


"Kalau diarenya lebih sering, aku bisa memberimu obat, Kak," sela Jojo.


"Baik, terima kasih, Jojo." Keenan tersenyum pada gadis itu.


Kalingga mengajak Jojo keluar dari kamar Keenan dan membiarkan adiknya beristirahat. Ia membawa Jojo ke kamarnya.


"Kau juga sedang kurang sehat. Jangan terlalu mementingkan orang lain dibanding dirimu sendiri," tegur Kalingga. Ia tahu Jojo sangat bertanggungjawab atas pekerjaannya untuk mengasuh mereka berempat. Namun tidak dengan mengabaikan kesehatannya sendiri.


"Aku baik-baik saja, Kak."


"Wajahmu pucat, apa kau kurang tidur?"


"Aku tidak akan ke kantor, mana mungkin aku membiarkan dua orang sakit di rumah tanpa pengawasan!"


"Kak, pergilah. Aku juga tidak akan pergi kuliah, jadi aku bisa istirahat dan mengurus Kak Keenan."


"Kau yakin?" Kalingga memastikan. Jojo tersenyum dan mengangguk.


Kalingga meminta Jojo menemaninya di kamar sementara dirinya sibuk berganti pakaian. Jojo juga membantu laki-laki itu memasang dasi sesuai keinginan Kalingga. Beberapa waktu terakhir, pekerjaan ini seperti menjadi keharusan bagi Jojo. Kalingga selalu memaksanya duduk di kamar ini setiap selesai sarapan dan menemani laki-laki itu mengobrol.


Setelah selesai Jojo mengantar Kalingga ke depan pintu utama, kini ia bahkan merasa seperti menjadi asisten pribadi anak sulungnya.


"Hei, jangan menyentuh kulit laki-laki lain selain aku, termasuk Keenan atau Kylan. Kau mengerti?" ucap Kalingga sebelum ia pergi.


Jojo hanya bisa melongo mendengar peringatan Kalingga. Apa maksud laki-laki itu?


"Ah, dia benar-benar keterlaluan," batin Jojo mengeluh.


Beberapa waktu lalu, Kalingga memperingatkannya agar tidak menyukai laki-laki manapun selain dirinya, itu masih bisa diterima oleh akal sehat. Lalu sekarang, ia melarang Jojo menyentuh kulit laki-laki lain, yang benar saja?


Jojo kembali ke dalam rumah dan melihat keadaan Keenan untuk memastikan keadaannya.


"Kak, jika perlu sesuatu kau bisa panggil aku," ucap Jojo.


"Aku sudah lebih baik, jangan khawatir. Siang nanti aku harus ke studio, ada sedikit urusan," ujar Keenan.


"Kak, kau sedang kurang sehat. Jangan kemana-mana!"


"Ini jadwal terakhirku bulan ini, kontraknya sudah ditandatangani. Lagi pula, aku sudah membaik."


Tidak ada yang bisa Jojo lakukan selain mengizinkannya. Ia tahu pekerjaan Keenan sangat berarti, jadi Jojo pun tidak bisa membuatnya tetap tinggal di rumah selama ia cukup sehat.


Pukul sebelas siang saat Keenan sudah pergi, Jojo di rumah sendirian. Ia sibuk mengerjakan skripsi dan melakukan revisi berulang kali. Beberapa waktu terakhir ia memang sangat sibuk, apa lagi kini dirinya terikat kontrak dengan sebuah agensi, artinya ia harus lebih pandai membagi waktu antara urusan pendidikannya dan kedua pekerjaannya.


Saat Jojo sedang sibuk dengan laptopnya, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan panggilan masuk dari sebuah nomor tak dikenal.


Jojo segera mengangkat panggilan dan terkejut. Gadis itu terduduk lemas di lantai saat mendapati kabar buruk yang disampaikan oleh Angelina.


Tanpa banyak berpikir, Jojo berganti pakaian dan bergegas pergi ke rumah sakit. Ia memesan ojek online tanpa memberitahu anak asuhnya yang lain. Gadis itu gelisah sepanjang jalan, apa yang sebenarnya terjadi pada Keenan?


Setelah lima belas menit perjalanan, Jojo sudah ditunggu oleh wanita cantik ya ia kenal sebagai Angelina. Wanita itu menghampiri Jojo dengan wajah panik.


"Apa yang terjadi pada Kakak? Apa dia baik-baik saja?" tanya Jijo.


"Diagnosa awal dia mengalami keracunan," jawab Angelina. Wanita bermata sembab itu tampaknya baru saja menangis.


Jojo merasa khawatir, matanya berkunang-kunang saat mendengar salah satu anak asuhnya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Angelina dengan sigap menopang tubuh Jojo dan mengajak gadis itu duduk di kursi dekat ruang pemeriksaan.


"Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Jojo sambil bergumam.


"Semoga." Angelina hanya menjawab lirih.


Keduanya menunggu cukup lama di depan ruangan tempat Keenan diperiksa. Jojo gelisah, pikirannya hanya dipenuhi dengan segala hal tentang Keenan, apa yang sudah ia masak, menu apa yang membuat Keenan seperti itu, atau apa yang Keenan beli diluar rumah?


🖤🖤🖤