
Hari-hari berikutnya berjalan sangat baik. Jojo membeli mobil baru untuk dirinya sendiri meski sebagian harga mobil menggunakan uang Kalingga. Keenan dan Kylan juga mencari orang khusus yang ditunjuk sebagai sopir sekaligus orang yang bertanggung jawab atas keselamatan Jojo saat mereka tidak ada.
Jojo itu tidak ingin dicap sebagai gadis matrealistis, memiliki calon suami kaya tidak membuatnya ingin dimanja dan menerima semua fasilitas mewah secara cuma-cuma.
"Ini brosur beberapa hotel yang kau minta," ucap Keenan sambil memberikan beberapa lembar kertas brosur pada Jojo. Seluruh penghuni rumah sedang menikmati minggu santai sambil membuat ikan bakar di halaman belakang rumah.
"Untuk apa?" tanya Kalingga.
"Aku berencana akan memesan hotel selama beberapa hari untuk ayah dan ibuku, Kak," jawab Jojo.
"Kenapa tidak membawa mereka ke rumah ini, Sayang? Ada satu kamar kosong."
"Ini akan mengganggu privasi kalian. Lagi pula tidak hanya kau dan aku yang tinggal di rumah ini, Kak. Aku rasa yang lain juga tidak akan nyaman jika orang tuaku di sini selama beberapa hari. Terutama Kai dan Kylan, mereka pasti tertekan karena tidak bisa bertingkah," jelas Jojo.
Kylan dan Kai yang asik menunggu ikan di atas arang panas itu menganggukkan kepala. Benar apa yang Jojo katakan, jika ada orang tua Jojo di rumah ini, mereka pasti tidak akan bisa bertingkah sesuka hati.
"Baiklah kalau begitu. Pilih saja hotel mana yang kau mau, aku akan membayar semua biayanya, Sayang."
"Tidak, aku akan membayarnya sendiri, Kak," tolak Jojo. Ia sudah merasa bisa menghasilkan banyak uang sendiri, ia tidak ingin merepotkan Kalingga untuk kepentingannya.
Lagi pula, Kalingga sudah memesan dua tiket pesawat dan meminta orang untuk menjemput kedua mertuanya dari rumah dan mengantarkan mereka sampai ke bandara. Laki-laki itu sudah mengeluarkan cukup banyak uang selama ini.
Jadwal pekerjaan Kalingga dan pemotretan Jojo sangat padat hingga mereka tidak bisa datang untuk menjemput. Meski begitu, orang tua Jojo tidak keberatan, mereka sudah sangat bahagia bisa datang ke acara wisuda Jojo dengan berbagai fasilitas.
"Bagaimana semua persiapannya?" tanya Kalingga pada Keenan.
"Angelina bilang semua beres. Kalian hanya perlu datang untuk melakukan pemotretan prewedding," jawab Keenan.
Berkat usaha Jojo, kini Keenan dan Angelina semakin dekat. Bahkan Angelina membantu mereka untuk mencari wedding planner, wanita itu juga memiliki tugas penting untuk menyediakan kue pernikahan khusus di acara pernikahan Jojo dan Kalingga nanti.
"Oke, ikan sudah siap!" ucap Kylan sambil menata ikan bakar yang sudah matang di atas piring.
"Apa kita akan memakannya seperti ini saja?" tanya Kai. Ini adalah pertama kali dalam hidupnya membuat ikan bakar langsung di atas arang. Jojo bilang jika ikan yang dibakar secara tradisional akan menghasilakan cita rasa nikmat yang berbeda.
"Itu sudah matang, kau bisa memakannya seperti itu tapi lebih enak jika diberi bumbu pedas. Semakin pedas akan semakin nikmat," jawab Jojo.
"Ah, aku akan mencicipinya kalau begitu." Kylan mulai mengupas kulit ikan dan mencicipi dagingnya. Melihat Kylan begitu menikmati, Keenan dan yang lain akhirnya tidak sabar dan mulai mencongkel daging dari tubuh ikan tersebut.
Mereka masing-masing hanya mendapatkan satu ikan, sementara sisanya dibawa oleh Jojo ke dapur untuk dibumbui.
"Jadi, kalian tidak akan meminta restu pada Mama?" tanya Keenan saat Jojo sudah melenggang masuk ke dalam rumah.
"Tidak perlu, tidak penting," sela Kylan.
Keenan, Kylan dan Kai menoleh serentak. Meski ada rasa keberatan, mereka tidak akan melarang. Ini adalah keputusan Kalingga dan Jojo, mereka tidak ingin terlalu ikut campur.
Kalingga dan Jojo sepakat untuk memberitahu rencana pernikahan mereka pada Merlinda saat sudah dekat menjelang hari pernikahan. Jojo sudah berusaha keras memantaskan diri dengan terus berkarir di dunia entertainment. Ia harap, Merlinda akan merestui mereka karena kini Jojo bukan lagi seorang maid.
"Kami mendukungmu, Kak. Apapun keputusan Mama nanti, itu tidak akan merubah apapun. Kalian tetap bisa menikah dan bahagia," ujar Keenan.
Hanya berselang sepuluh menit, Jojo sudah kembali dan meminta mereka semua masuk. Makan siang ikan bakar dengan sambal super pedas sudah siap.
🖤🖤🖤
Pukul tujuh malam, Jojo dan Kalingga sudah siap. Jojo memakai gaun malam berwarna nude dengan sentuhan mutiara di bagian dada. Ini merupakan gaun edisi terbatas keluaran terbaru dari brand Anyelir.
Jojo berusaha tampil maksimal di depan Merlinda, berharap usahanya selama ini tidak akan sia-sia.
"Hmm, kau sangat cantik," puji Kalingga. Ia duduk di ruang tamu beserta ketiga saudaranya sambil menunggu Jojo bersiap. Dan mereka bertiga kerkesiap saat melihat penampilan anggun gadis itu malam ini. Meski mereka sudah mulai terbiasa melihat Jojo tampil glamour dengan berbagai gaun mewah, namun Jojo selalu tampil cantik dengan caranya.
"Terima kasih, Sayang." Jojo mengangguk dan tersenyum.
"Good luck!" seru Kai sambil memberi dua jempol.
"Kalian pasti bisa. Ayo cepat pergi," ucap Keenan.
Jojo dan Kalingga pergi dan diantar oleh seorang sopir. Meski sudah berusaha keras tetap tenang, nyatanya Jojo tidak bisa menyembunyikan rasa gugup dan kekhawatirannya. Gadis itu masih takut, jika kedatangan mereka akan sia-sia.
Jarak rumah Kalingga dan kediaman keluarga besar Johnathan berkisar tiga puluh menit. Semakin dekat, Jojo semakin was-was. Kalingga merasakan apa yang gadis di sampingnya rasakan. Laki-laki itu menggenggam tangan Jojo dengan erat dan berusaha menenangkannya.
"Ada aku, tidak apa-apa." Kalingga membelai rambut Jojo dengan lembut.
Mobil mereka kini sudah berada di halaman rumah berukuran sangat luas dengan gaya Eropa klasik. Kalingga sudah menelepon Merlinda sehari sebelumnya dan mengatakan jika ia perlu bicara, meski tidak mengatakan dengan jelas tujuan utamanya.
Namun jika Merlinda peka, harusnya wanita paruh baya itu sudah bisa menduga tujuan kedatangan anak sulungnya. Karena beberapa waktu terakhir, kabar hubungan Jojo dan Kalingga bahkan gencar dibahas di berbagai media infotainment.
Sebelum turun dari mobil, Jojo menarik napas panjang dan melonggarkan paru-parunya. Ia merasa dadanya kian penuh dan sesak, namun meski begitu, Kalingga menguatkannya.
Kalingga memencet bel di samping pintu, lalu seseorang yang sangat ia kenali membukanya dengan cepat.
Merlinda menyambut Kalingga dengan wajah bahagia penuh senyuman. Namun saat seorang gadis bergeser dari balik punggung Kalingga, senyum Merlinda perlahan memudar.
🖤🖤🖤