
Jojo berusaha mengembalikan kesadaran sepenuhnya. Ia berjalan menuju kamar mandi dan mencuci muka. Melihat berbagai macam makanan sudah terhidang di depan mata, gadis itu merasa lapar.
"Kenapa memesan banyak sekali makanan?" tanya Jojo.
"Aku tidak tahu makanan apa yang kau suka, jadi aku harus memesan beberapa menu," jawab Kalingga.
"Kak, sudah mengajakku ke sini saja aku senang sekali. Jangan terlalu boros, jangan mengeluarkan banyak uang untuk hal-hal yang kurang penting. Seharusnya beli saja makanan yang kau suka, aku juga pasti menyukainya," ujar Jojo. Gadis itu merasa tidak enak hati karena terlalu merepotkan Kalingga. Mengajaknya, tentu menjadi beban tersendiri untuk laki-laki itu.
"Jo, aku berterima kasih kau mau ikut denganku. Semua adik-adikku sibuk, kalau nggak ada kamu, aku pasti di sini sendirian," ucap Kalingga.
Laki-laki itu beruntung Jojo menemaninya datang ke tempat yang sangat jauh dari rumah dan ketiga saudaranya. Kalingga merasa nyaman karena punya teman mengobrol, bertukar pendapat, dan sepemikiran dengannya.
Jojo dan Kalingga akhirnya makan bersama. Laki-laki itu meminjam ponsel Jojo dan menyambungkan jaringan wifi dari hotel ke ponsel gadis itu. Jojo sangat senang, ia sudah kesepian karena tidak bisa berkomunikasi dengan siapapun.
"Wah, aku akan menelpon Kai," ucap Jojo senang. Orang pertama yang ada di pikirannya saat ini hanyalah bocah bandel itu.
"Dia pasti masih sekolah, Jo. Jangan mengganggunya." Kalingga melarang.
Jojo baru ingat, jika perbedaan waktu negara ini dengan negaranya adalah 11 jam lebih lambat. Jadi, jika di sini menunjukkan pukul sepuluh malam, maka di negaranya masih pukul 12 siang.
Kalingga dan Jojo makan dengan lahap. Seharian ini, mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam pesawat. Beruntung, Jojo dan Kalingga adalah dua orang yang memiliki banyak kesamaan dalam pemikiran, jadi mengobrol bagi mereka adalah hal yang menyenangkan.
Setelah menghabiskan makan malam yang terlambat, Kalingga pamit untuk kembali ke kamarnya, sementara Jojo akan mandi sebelum melanjutkan tidur.
"Jangan lupa kunci kamarmu. Meskipun ini hotel besar dan aman, belum tentu kau juga akan aman," ucap Kalingga mengingatkan. Jojo mengantar laki-laki itu keluar, ia lalu menuruti saran Kalingga untuk mengunci pintu sebelum pergi mandi.
🖤🖤🖤
Pagi-pagi sekali, Jojo sudah bangun. Gadis itu harus menyesuaikan diri di waktu yang berbeda dengan negara asalnya. Pagi-pagi sekali saat bangun dari tidur, gadis itu mengirim banyak sekali foto yang sudah ia ambil sejak keberangkatan hingga sampai di hotel ke nomor Kaivan. Rupanya, Jojo ingin memamerkan kebahagiaannya berlibur bersama Kalingga.
"Sombong! Jangan lupa bawakan aku oleh-oleh," balas Kai melalui aplikasi pesan.
Jojo tertawa dalam hati membaca isi pesan Kai. Bocah laki-laki itu pasti menertawakannya karena Jojo bersikap terlalu kuno dan berlebihan. Hal seperti itu saja dipamerkan!
Setelah mandi dan bersiap, Jojo berdandan cantik. Ia memakai gaun pemberian Keenan dan Kylan. Meski awalnya merasa kurang nyaman karena gaun yang ketat dan minim, Jojo berusaha menyesuaikan diri. Ia tidak mau membuat Kalingga malu karena mengajak gadis sepertinya.
Setelah siap, Jojo pergi ke kamar Kalingga. Ia mengetuk pintu dan hanya beberapa detik, Kalingga sudah membukanya.
Saat pertama kali melihat gadis cantik yang berdiri di depan pintunya, lagi-lagi Kalingga terpesona. Laki-laki itu memandang kaki dengan ukuran sepatu tiga puluh enam yang memakai hight heels berwarna silver. Matanya semakin naik, melihat tubuh ramping yang dibalut gaun yang anggun dan feminim. Saat menatap mata bulat yang bersinar penuh kebahagiaan, Kalingga memalingkah wajah.
"Kau sudah siap?" tanya Kalingga. Ia berbalik sambil mempersilahkan Jojo masuk. Laki-laki itu sudah berpakaian rapi dengan jas berwarna abu-abu dan sepatu hitam mengkilat.
"Ya, itu cocok." Kalingga menjawab tanpa menoleh. Ia sibuk merapikan tempat tidurnya.
"Kak, lihat aku!" seru Jojo. Kalingga menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia tidak tahan berlama-lama memandang Jojo. Setiap kali pandangan mata mereka bertemu, jantung Kalingga berdetak kencang, dadanya berdesir. Ada sesuatu yang sulit ia ungkapkan.
"Kak, apakah seburuk itu penampilanku sampai kau tidak mau melihatku?" tanya Jojo. Ia merasa frustasi karena Kalingga mengabaikannya.
Jojo berdiri di dekat tempat tidur, ia menggerakkan tubuhnya perlahan ke kanan dan ke kiri, membuat bagian bawah gaunnya bergerak melambai mengikuti gerakan gadis itu.
Kalingga berjalan mendekat, berdiri tepat di hadapan Jojo. Laki-laki itu merasakan jantungnya bagai ingin melompat dari dalam kerongkongan. Pandangan mata gadis cantik di depannya, seakan menembus langsung ke dalam hatinya.
"Kamu cantik, gaun ini sangat cocok untukmu," ujar Kalingga. Ia mengucapkan kata itu tepat di depan wajah Jojo. Gadis itu sedikit mundur untuk menghindari Kalingga yang semakin dekat.
"Baik, terima kasih." Jojo tersenyum dan mengangguk. Ia berbalik dan memegang dadanya yang berdegup kencang.
"Apa dia mendengar detak jantungku?" batin Jojo bertanya. Gadis itu bergidik ngeri, mengusir segala pemikiran aneh yang ada di kepalanya.
"Kita akan sarapan, pergi berjalan-jalan sebentar lalu survei ke dua lokasi. Untuk dua lokasi lainnya, kita datangi besok," ujar Kalingga. Jojo hanya mengangguk.
Setelah Kalingga siap, mereka berjalan bersama menuju lift dan pergi ke restoran yang sudah berada di dalam kawasan hotel. Hotel elite dengan fasilitas lengkap ini bahkan menyediakan segala keperluan, seperti bar, ruang fitness, kolam renang, taman bermain anak, hingga minimarket.
Saat Kalingga menawarkan menu makanan, Jojo hanya ingin makan makanan yang sama dengan apa yang Kalingga suka.
"Kau suka tempat ini?" tanya Kalingga.
"Ya, ini tempat yang bagus. Hanya saja, jika bukan karena dirimu, mungkin aku tidak mungkin bisa menyewa kamar hotel ini meski hanya satu jam, Kak."
"Jadilah orang sukses, maka kau bisa membeli hotel sendiri," ucap Kalingga. Ia memperhatikan gadis yang tersenyum di depannya.
"Doakan aku, Kak. Jika aku tidak bisa menjadi orang sukses, maka aku akan mencari suami sukses, mudah!" jawab Jojo enteng. Mendengar jawaban Jojo, Kalingga hampir tertawa.
"Apakah seperti itu caramu untuk sukses dengan instan?" tanya Kalingga.
"Hei, aku hanya bercanda. Sukses bagiku adalah kebahagiaan orang tuaku. Aku hanya perlu membuat mereka bangga dan tidak menyesal telah membesarkaku, itu saja."
Kalingga tersenyum sambil mengusap wajahnya. Gadis ini penuh kejutan, pemikiran yang sederhana dan menakjubkan. Sungguh, dia sosok gadis lain dari yang lain.
"Kau membuatku kagum, Jo!" gumam Kalingga.
🖤🖤🖤