ANAK ASUHKU

ANAK ASUHKU
Beruntung?


Setelah melanjutkan perjalanan cukup lama, Jojo dan Kalingga akhirnya tiba di kota New York pukul 9 malam waktu setempat. Ini adalah salah satu kota metropolis terbesar di Amerika Serikat. Kota yang memiliki julukan "Big Apple" ini memiliki karakteristik yang penuh dengan seni. Mulai dari seni pertunjukan hingga pagelaran mode seperti New York Fashion Week.


Meski brand miliknya bahkan belum sepenuhnya merambah pasar Nasional, Kalingga cukup percaya diri jika apa yang akan ia bawa ke kota mode ini bisa diterima oleh masyarakat setempat yang sepenuhnya memuja fashion sebagai kebutuhan hidup.


New York dipenuhi dengan orang-orang dari berbagai negara untuk tinggal dan menetap. Kota ini merupakan kota terpadat di Amerika Serikat dengan rata-rata penduduk merupakan imigran dari berbagai negara di dunia.


"Kita akan menginap di sini?" tanya Jojo saat mereka turun dari sebuah taksi. Kalingga dan Jojo berdiri di sebuah gedung hotel besar di pusat kota, letaknya cukup jauh dari bandara.


"Ini adalah hotel yang disediakan oleh Tuan Aslan. Kau masih ingat April? Tuan Aslan adalah ayahnya," jelas Kalingga.


Laki-laki itu menyeret kopernya masuk diikuti oleh Jojo. Gadis di belakang Kalingga begitu takjub melihat interior hotel yang begitu mewah dan berkilau. Lampu kristal besar tergantung di berbagai sudut, guci-guci mahal dengan ukiran yang indah berdiri kokoh menghiasi ruangan.


Tidak sampai lima menit menunggu, Kalingga sudah mendapatkan dua kunci kamar hotel berupa kartu. Ia dan Jojo menaiki lift untuk sampai di kamar mereka, seorang petugas hotel juga membantu keduanya membawa koper.


"Ini kunci kamarmu," ucap Kalingga sambil menyerahkan sebuah kartu dengan gantungan berwarna gold bertulisankan 'New York'.


"Wah, apa aku punya kamar sendiri?" tanya Jojo.


"Tentu saja. Tapi jika kau mau kita tidur satu kamar, aku tidak akan menolak," canda Kalingga. Ia mengulum senyum sambil menunggu tanggapan gadis yang berdiri di sampingnya.


"Kak!" seru Jojo. Gadis itu memanyunkan bibirnya.


Setelah sampai di lantai sepuluh, Kalingga mengantar Jojo ke kamarnya terlebih dahulu. Laki-laki itu membantu Jojo memasukkan koper ke dalam lemari dan memberitahu tentang jadwal mereka besok pagi.


"Kita bisa istirahat sepuasnya. Setelah ini, aku akan pesan makanan dan meminta petugas hotel mengantarnya ke kamarmu," ujar Kalingga.


"Kamarmu sebelah mana, Kak?" tanya Jojo.


"Di sebelah kanan. Kalau kau perlu sesuatu, telepon aku."


"Nomorku nggak bisa dipakai di sini." Jono mengeluh.


"Ah, baiklah. Datang ke kamarku kapan saja jika membutuhkan sesuatu."


Jojo mengangguk dan membiarkan Kalingga keluar dari kamarnya. Gadis itu mengeluarkan kepalanya dari balik pintu, matanya mengikuti Kalingga hingga laki-laki itu masuk ke dalam kamar. Gadis itu hanya ingin memastikan letak kamar Kalingga karena takut melakukan kesalahan.


Jojo ingin sekali berteriak untuk mengungkapkan kegembiraannya. Gadis itu memotret pemandangan dari jendela hotel yang memperlihatkan indahnya kota New York saat malam. Gedung-gedung tinggi pencakar langit hingga kerumunan pejalan kaki yang berjalan cepat di trotoar terlihat seperti semut yang berdesakan dari lantai sepuluh. Lampu berkelap-kelip menghiasi setiap sudut kota, terlihat seperti kota yang tak pernah tidur.


Jika saja ia bisa menggunakan nomornya, ia pasti sudah mengirim foto-foto ini pada Kai. Bocah laki-laki itu pasti iri jika tahu bahwa Kalingga mengajaknya menginap di hotel mewah. Apa lagi, Jojo juga sempat berswafoto bersama Kalingga saat di dalam pesawat.


Rasanya memang sangat menyenangkan, gadis desa yang terbiasa hidup sederhana di kota demi menyelesaikan pendidikannya, bisa pergi ke luar negri dan menginap di hotel mewah. Bahkan Jojo sangat ingin membawa Irene serta kedua orang tuanya ke tempat ini jika punya kesempatan.


Setelah puas mengisi galeri ponselnya dengan berbagai foto pemandangan, Jojo membongkar isi kopernya. Gadis itu memindah beberapa pakaian yang mudah kusut dan menggantungnya di dalam lemari besar.


Besok pagi, Jojo akan menemani Kalingga survey ke beberapa gerai milik Aslan yang akan menjadi tempat penjualan beberapa model gaun dan lingerie dari perusahaan Kalingga. Jojo tentu tidak mau penampilannya dianggap buruk oleh orang lain, karena ia sedang menemani seorang pengusaha fashion tampan. Beruntung, ia memiliki dua gaun pemberian Keenan dan Kylan.


"Jo, apa kau baik-baik saja?" tanya Kalingga dari arah luar. Laki-laki itu membawa beberapa makanan ringan yang mereka beli saat di bandara, namun Jojo lupa dan memasukkan makanan itu ke dalam koper milik Kalingga.


Tidak ada jawaban, Jojo terbuai dalam mimpi indahnya.


Kalingga pun merasa khawatir, ia dengan tidak sengaja menekan daun pintu dan kamar pun terbuka.


"Ya Tuhan, dia tidak mengunci kamarnya," gumam Kalingga. Laki-laki itu lupa memberitahu Jojo cara mengunci kamar dan membukanya dengan menggunakan cardlock. Beruntung, tidak ada orang lain yang masuk tiba-tiba.


Kalingga meletakkan makanan ringan di atas meja dekat sofa. Ia melihat Jojo tertidur dengan posisi memeluk guling. Gadis itu bahkan belum mandi, mungkin karena terlalu lelah setelah perjalanan sejauh itu.


Kalingga ingin sekali membangunkan Jojo agar ia bisa keluar dan Jojo bisa mengunci kamarnya, namun ia tidak tega untuk mengganggu tidur gadis itu.


Pada akhirnya, Kalingga memutuskan berbaring di sofa dan menunggu makanan yang ia pesan datang, karena pesanannya akan diantarkan oleh petugas hotel ke kamar ini.


Tidak berselang lama, petugas hotel mengetuk pintu dan mendorong troli berisi beberapa hidangan makan malam hingga pencuci mulut.


Kalingga dengan hati-hati membangunkan Jojo, ia mengusap wajah gadis itu dengan telapak tangannya yang dingin.


"Jo, ayo bangun. Kita makan dulu," ucap Kalingga. Ia menyibak anak rambut yang menjuntai menutupi sebagian wajah Jojo.


"Hmm." Jojo berdehem. Ia berpikir jika suara Kalingga berasal dari mimpinya.


"Ayo bangun!" ulang Kalingga. Saat menyadari jika suara itu nyata di dekat telinganya, Jojo tersentak dan bangun seketika.


"Kak, apa yang kau lakukan di dalam kamarku?" tanya Jojo. Ia mengusap wajahnya, berusaha mengumpulkan kesadaran yang berterbangan.


"Kenapa tidak mengunci kamarmu? Bagaimana jika ada yang masuk?" tanya Kalingga.


"Oh, iya. Aku lupa."


"Apa saat di rumah juga kau terbiasa tidur tanpa mengunci pintu?"


"Bisa jadi, kadang aku ini pelupa, Kak." Jojo menjawab sambil menggeliat di atas kasur. Gadis itu meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku karena seharian kurang beraktifitas.


"Hmm, beruntung, aku yang masuk ke dalam kamarmu," ujar Kalingga sambil menghela napas.


"Memang apa untungnya kalau kau yang masuk?" tanya Jojo heran.


"Ya, beruntung. Bagaimana jika orang lain? Kalau aku, kan, tidak mungkin berbuat macam-macam."


🖤🖤🖤