
Jojo mulai sibuk datang ke kantor agensi secara rutin selama beberapa hari terakhir untuk menjalani pelatihan catwalk. Ia diundang oleh salah satu designer terkenal untuk menjadi model catwalk di acara pagelaran fashion besar yang akan diadakan satu malam setelah sidang skripsi Jojo.
Jojo sudah melakukan tiga kali pemotretan untuk beberapa produk yang sudah meneken kontrak dengannya beberapa hari lalu. Dan dengan penuh perhatian, Kalingga selalu menemani gadis itu setiap kali ada kegiatan di luar rumah.
Karena kesibukan yang padat, empat laki-laki di rumah itu mulai paham dan tidak membebankan segala pekerjaan pada pengasuhnya. Untuk urusan membereskan kamar, semua bersedia melakukannya sendiri.
Jojo hanya bertugas untuk memasak, mencuci pakaian dan membereskan rumah. Selain melakukan dua pekerjaan sekaligus, Jojo tetap belajar dengan giat dan rajin. Ia selalu menantikan hari kelulusannya, dan ia tidak akan menyia-nyiakan apa yang sudah ia usahakan selama ini.
"Hei, Kakak ipar. Sedang apa?" tanya Kai saat melihat Jojo duduk di lantai sambil memandangi layar laptopnya.
"Berhenti memanggilku seperti itu. Jam berapa ini? Kenapa baru pulang?" tanya Jojo. Ia melirik jam besar yang tergantung di dinding dan Kai terlambat pulang sekolah lebih dari satu jam.
"Galak sekali," gumam Kai.
"Harusnya kau sampai di rumah satu jam yang lalu. Mampir ke mana?"
"Ada sedikit keperluan di rumah teman. Berbaik hatilah padaku sekali-kali, Jo."
"Sebentar lagi ujian nasional. Jangan keluyuran dan belajar di rumah. Apa kau tidak mau kuliah di universitas impianmu?" tanya Jojo.
"Aku tidak yakin bisa masuk ke sana. Tapi demi cintaku, aku akan memperjuangkannya!" seru Kai bersemangat. Namun beberapa detik kemudian, Kai menutup mulutnya dan terlihat gugup.
Jojo membulatkan mata lebar sambil menoleh. 'Cintaku?'
"Katakan padaku, jujur!" tegas Jojo.
"Ah, Jojo. Memangnya hanya kau dan Kakak saja yang butuh cinta-cintaan. Aku juga butuh cinta, Jo. Sebagai semangat dan masa depan untuk diperjuangkan!" Kai mengangkat tangannya dan mengepal semangat.
"Sekolah saja belum lulus sudah cinta-cintaan," gumam Jojo sambil menghembuskan napas kasar.
Ia tidak membatasi Kai dalam hal seperti itu, asalkan bocah itu tetap mengutamakan sekolah dan pulang tepat waktu, Jojo membiarkannya. Masa-masa remaja seusia Kai memang sangat umum merasakan cinta monyet, cinta masa remaja yang menggelikan.
Kai mengeluarkan sekotak brownies kesukaan Jojo, ia meletakkannya di depan gadis itu dan Jojo bergerak cepat membukanya.
"Ah, kau calon adik ipar yang sangat baik dan pengertian. Aku tidak akan menyesal mencintai Kakakmu." Jojo berseru gembira. Kai hanya mencebik, tahu jika ucapan Jojo hanya bualan belaka.
"Apa kau menyukai brownies?" tanya Kai. Jojo mengangguk.
"Makanan apa yang kau sukai?" Kai mulai mengintrogasi, melakukan penyelidikan sesuai instruksi Kalingga.
"Aku suka semuanya."
"Aku suka jawaban yang lebih jelas, Jojo!"
"Emm, aku suka sate ayam, sate daging, nasi goreng jawa, cah kangkung, dan makanan daerah lainnya," jawab Jojo. "Ah, aku rindu rumah," lanjutnya dengan wajah sedih.
"Bagaimana dengan makanan kota? Kau suka yang seperti apa?" tanya Kai lagi. Ia memegang ponselnya sambil mencatat dalam note.
"Aku suka gurame bakar, cumi-cumi, dan jenis-jenis makanan sea food lainnya," jelas Jojo. Kai mengangguk sambil terus mencatat
"Apa kau suka minum jus?" tanya Kai lagi.
Jojo menjawab tanpa curiga karena mulutnya juga sibuk mengunyah brownies kesukaannya. Brownies coklat bertabur kacang almond itu adalah brownies yang di produksi oleh usaha rumahan milik Angelina, dan Jojo mengidolakan wanita itu.
"Kapan terakhir kali kau pulang kampung?" tanya Kai.
"Sudah lama, satu tahun lebih."
"Selama itu? Apa kau tidak rindu orang tuamu?" tanya Kai penasaran.
Jojo menjelaskan jika pekerjaannya tidak bisa ia tinggalkan, juga jadwal kuliahnya yang padat di dua semester terakhir. Kondisi ayahnya yang pernah sakit parah hingga harus menjual sawah, membuat Jojo harus bekerja lebih keras lagi agar mendapatkan banyak uang dan membiayai hidup kedua orang tuanya dari kejauhan.
Sebagai seorang anak tunggal, tentu ia di tuntut untuk menjadi anak yang kuat. Menjalani hidup sederhana dan diharuskan berhemat agar tetap bisa memiliki sedikit tabungan untuk bekal masa depan.
Mendengar kisah yang mengalir begitu saja dari mulut Jojo, Kai merasa tersentuh. Betapa tidak tahu dirinya ia karena selalu merasa kurang padahal kakak-kakaknya selalu memberikan apa yang ia inginkan, bahkan mereka tidak pernah menuntut Kai untuk membantu pekerjaan mereka, hanya memintanya belajar dengan giat dan menjadi orang baik.
"Kapan kau berencana akan pulang?" tanya Kai lagi.
"Sebelum wisuda, aku akan menjemput mereka saat uang tabunganku sudah cukup banyak agar bisa membawa mereka berlibur dan menginap di hotel," jelas Jojo.
Gadis sederhana, cantik, berpengalaman, multitalenta, punya banyak bakat, bisa diandalkan dan berbakti pada orang tua. Bahkan Kai tidak menemukan celah sedikitpun pada calon kakak iparnya. Hanya saja, gadis itu sensitif dan suka marah, itu saja kekurangannya.
"Ngomong-ngomong, aku merasa seperti sedang diintrogasi," ucap Jojo sambil melirik Kai.
"Hah, tidak, tidak. Untuk apa aku melakukan itu, aku kan hanya bertanya," tangkas Kai sambil mematikan ponselnya.
"Dasar, kepo!" seru Jojo.
Kai merasa hal ini sudah cukup, ia akan melanjutkan pekerjaannya setelah Jojo tidak menaruh curiga. Bocah itu bergegas masuk ke dalam kamarnya dan berganti pakaian. Sementara Jojo masih asik menikmati brownies yang tersisa.
Gadis itu mulai membatasi asupan gula dan lemak yang masuk ke dalam tubuhnya. Jika biasanya ia selalu makan apa saja yang ada di depan matanya, kini ia mulai menjaga diri.
Profesi barunya sebagai seorang model tentu menuntut Jojo agar selalu tampil sempurna dengan tubuh ramping. Ia harus berusaha menahan ***** makannya agar tidak kehilangan mimpi dan cita-citanya. Namun godaan brownies yang Kai bawa, membuatnya lupa akan program tetap langsing, kini ia menganut semboyan 'Dietnya besok saja!'
🖤🖤🖤
Malam ini Jojo memasak beberapa menu dengan bahan dasar ayam dan jamur. Ia membuat beberapa menu sehat yang tidak mengandung banyak lemak.
"Resep baru?" tanya Kalingga sambil berdiri di samping Jojo yang menata piring di atas meja makan.
"Hmm, menu rendah lemak untuk menghindari kolesterol," jawab Jojo sambil tersenyum.
"Kau semakin pandai membuatku terkesan. Dan aku jadi semakin mencintaimu," ucap Kalingga sambil mengusap rambut Jojo.
Dari arah lain, Kai berjalan mendekat dan tidak sengaja mendengar perkataan Kalingga.
"Oek!" ucap Kai sambil menirukan gaya mual dan ingin muntah. Mendengar pujian Kalingga membuatnya geli, sejak kapan kakaknya jadi pandai merayu.
"Beruntung kau saudaraku!" Kalingga hanya bisa membantin tingkah menyebalkan adiknya.
🖤🖤🖤