
Selang lima belas menit, semua piring, gelas, teflon hingga peralatan dapur telah tertata rapi di tempatnya dalam keadaan kering. Jojo menyanjung pekerjaan laki-laki itu.
"Duduklah, apa kencan kalian semalam berjalan kurang baik?" tanya Jojo. Ia meminta Kylan duduk di sampingnya dan memberikan beberapa potong buah apel yang sudah ia kupas.
"Cukup baik, hanya saja ... Dia mengajakku menonton film horor, itu sungguh mengganggu," keluh Kylan.
"Kau takut film horor?" tanya Jojo dengan mata melotot. Yang benar saja? Playboy itu masih punya rasa takut?
"Hei, aku tidak takut. Aku hanya tidak suka!" bantah Kylan.
"Alasan!"
"Baiklah, aku takut," gumam Kylan. Ia sangat membenci film horor karena selalu tidak
bisa tidur nyenyak dan terasa dibayang-bayangi segala adegan seram di film yang ia tonton.
"Kau tidak takut berpacaran dengan dua hingga tiga wanita sekaligus tapi takut film horor?" Jojo tertawa terbahak-bahak.
"Itu kan persolan lain, kenapa menyinggung hal itu. Lagipula aku sudah bertaubat!"
"Dengar, apa kau tidak tahu jika seorang wanita sudah marah dan murka, maka tidak ada satupun hantu yang lebih menyeramkan dari amarahnya," ucap Jojo.
"Benar, mungkin itu sebabnya Kakak tidak pernah membuatmu marah, karena dia tidak mau ada hantu di rumah ini," ledek Kylan. Jojo memukul kepala laki-laki itu.
"Ah, aku tidak mau bicara denganmu!" seru Jojo sambil beranjak pergi. Namun Kylan menghentikannya dan kembali memintanya duduk di kursi. Laki-laki itu meminta maaf dan memperlihatkan wajah manis penuh senyuman agar Kakak iparnya tidak marah padanya.
Kylan lalu menceritakan segala keluh kesahnya tentang Sunny. Gadis itu tidak pernah mau menerima barang pemberian darinya dengan cuma-cuma, mereka bahkan harus patungan untuk membayar makanan di restoran. Kylan merasa harga dirinya terluka setiap kali Sunny menolak kebaikannya.
"Bukankah sudah jelas dia wanita baik? Mandiri? Berpendirian teguh? Dia tidak ingin merepotkanmu. Dia ingin kalian hidup berdampingan untuk saling melengkapi satu sama lain, bukan menggantungkan dirinya padamu!" seru Jojo.
"Apa benar begitu?"
"Orang tuanya mendidiknya dengan sangat baik. Tidak akan ada laki-laki yang bisa meremehkan gadis seperti Sunny."
"Ah, kau benar. Aku bahkan sampai berpikir jika aku hanya butiran debu dalam hidupnya," keluh Kylan lagi.
"Kau hanya belum mendapatkan posisimu di hatinya. Jangan cengeng!"
Meminta pendapat dan nasehat Jojo hanya berisi omelan dan ejekan. Meski begitu, Kylan merasa lebih baik, paling tidak ia punya tempat untuk mencurahkan kegelisahan dan perasaan gundahnya.
🖤🖤🖤
Pukul sebelas siang, Jojo sudah menyiapkan daging dan berbagai keperluan untuk membuat steak daging. Ia meminta Kalingga dan ketiga saudaranya untuk mempersiapkan alat mereka di halaman belakang rumah.
"Ke mana Kak Angelina? Kenapa belum sampai?" tanya Jojo pada Keenan.
"Apa kalian sudah lapar?" tanya Jojo lagi.
"Belum, aku menemukan brownies di kulkas. Jadi aku menghabiskannya," jawab Kai.
"Apa kau bilang? menemukan? Itu milikku!" seru Jojo.
"Ya maaf," ucap Kai dengan lirih. Ia menampakkan wajah tak berdosa seperti bayi. Jojo hanya bisa menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Ia berusaha menahan diri untuk tidak mudah terpancing emosi demi kesehatan mentalnya.
Karena anggota makan siang belum lengkap, maka mereka menundanya hingga Angelina datang. Sambil menunggu wanita itu, mereka berlima asik mengobrol sambil menikmati makanan ringan dan buah segar. Mereka duduk di atas tikar dengan atap pohon rindang seperti sedang berkemah di pegunungan.
Perut yang semakin hari semakin besar membuat Jojo tidak tahan berlama-lama duduk tanpa sandaran. Karena Kalingga sangat memahami kondisi istrinya, ia meminta Jojo berbaring dan memakai pahanya sebagai bantal.
"Ada mangga di atas kepala kalian," ucap Jojo.
"Mangga?" Semua orang mendongak, melihat tiga buah mangga yang tergantung di ranting pohon cukup tinggi.
"Entah sudah berapa lama pohon ini tidak berbuah, aku bahkan lupa jika ini adalah pohon mangga," gumam Keenan. Karena mereka semua tidak pernah memperhatikan kondisi belakang rumah, membuat pohon ini terbengkalai dan tak terawat. Namun semenjak ada Jojo yang merawat dan membersihkan tanaman di sekitarnya, pohon ini mulai tumbuh subur dan berdaun rimbun.
"Sepertinya itu enak. Ah, tiba-tiba air liur dalam mulutku terasa ...." Belum sempat Jojo melanjutkan kalimatnya, Kai mulai waspada.
"Kakak Ipar, kau tidak akan menyuruh kami memanjat nya, kan?" tanya Kai. Jojo langsung bangun, ia duduk dan menatap buah mangga penuh minat.
"Sebenarnya aku tidak berpikiran seperti itu, tapi karena kau mengatakannya, aku jadi ingin kalian memanjat nya," ucap Jojo. Wanita itu menekuk bibirnya dengan wajah sedih, matanya berkaca-kaca melihat buah mangga yang terlihat belum masak.
Keenan, Kylan dan Kai langsung menatap Kalingga. Mereka semua berharap Kalingga akan menjadi pahlawan hari ini, karena bagaimanapun, Kalingga adalah orang yang bertanggungjawab atas kehamilan Jojo.
"Kenapa kalian melotot padaku? Kalian tahu aku tidak bisa memanjat!" seru Kalingga.
"Kalau begitu, kita undi saja. Siapa yang kalah, dia yang harus naik atau mencari cara lain untuk mendapatkannya." Kylan memberi saran. Mereka berempat akhirnya memutuskan untuk bermain baru gunting kertas.
"Batu, gunting, ker-tas!" Keempat laki-laki itu mulai bermain, dan Kylan akhirnya menjadi orang yang kalah.
"Ah, sial!" gerutunya kesal. Padahal ini adalah idenya, namun ternyata ia yang harus menanggung kekalahan.
Karena tidak mau ketiga saudaranya meremehkan dirinya, Kylan memutuskan untuk memanjat pohon dengan penuh semangat. Ia naik dari satu ranting ke ranting lain. Namun tiba-tiba Kylan berteriak, ia bahkan langsung melompat ke semak-semak.
"Aaaaaaahh! Semut! Semut! Semut!" seru Kylan. Ia menggosok seluruh badannya dan melepaskan kaosnya.
Kalingga, Keenan dan Kai membantu Kylan. Mereka mengambil semut merah besar yang menempel di kepala dan merayap di tubuhnya.
"Ah, sialnya aku!"
🖤🖤🖤