
Mobil mewah yang berjalan memasuki perkampungan kecil setelah berkelok-kelok melewati pegunungan dan persawahan, membuat semua orang yang melihat merasa penasaran dan tertarik untuk mencari tahu siapa penumpangnya.
Jojo begitu bersemangat, ia tidak sabar untuk melihat reaksi kedua orang tuanya saat mengetahui anak kecintaan mereka telah pulang.
Setelah sampai di kampung halaman tempat kelahiran Jojo, mereka disambut meriah oleh para tetangga dan sanak saudara yang letak rumahnya berdekatan.
Setiap pasang mata yang melihat mobil berhenti di sebuah rumah berukuran sedang dengan banyak sekali tanaman herbal di teras depan, berbondong-bondong mendekat. Mereka semua sudah melihat dan mendengar jika salah satu anak yang sedang merantau untuk sekolah kini menjadi seorang model dan artis terkenal.
"Jojo! Itu Jojo!" teriak salah seorang tetangga saat melihat seorang gadis bergaun merah muda bermotif bunga turun dari salah satu pintu mobil.
Mereka semua lebih terkejut lagi saat seorang laki-laki juga turun dan berdiri di samping Jojo. Laki-laki tampan berkemeja merah maroon dengan senyum mempesona itu menggandeng tangan Jojo memasuki halaman rumah.
"Siapa dia? Siapa dia?" Semua orang berbisik ingin tahu.
Mendengar suara mobil berhenti dan ramainya orang di depan rumah, orang tua Jojo pun keluar dan melihat siapa yang datang. Mereka menangis haru dan hampir tidak bisa berjalan saat melihat anak gadisnya berdiri di hadapan mereka.
"Nak," ucap Ibu Jojo sambil melebarkan kedua tangan menyambut pelukan putri semata wayangnya.
Ayah Jojo pun tidak sanggup berkata-kata, beliau menangis dan memeluk istri beserta anaknya. Suasana haru dan tangis kebahagiaan menular pada semua orang yang melihat.
Para tetangga pun paham jika Jojo sudah cukup lama tidak pulang. Mereka semua tahu jika gadis itu berjuang di luar pulau untuk menempuh pendidikan dan bekerja membantu pengobatan ayahnya.
Sementara Jojo dan kedua orang tuanya saling menumpahkan kerinduan, Kalingga disibukkan menjawab pertanyaan orang-orang yang tertarik padanya. Tidak jarang ibu-ibu serta nenek-nenek yang datang melontarkan pujian secara terang-terangan hingga mencubit pipi Kalingga dengan gemas.
Kalingga menanggapi semua orang dengan sopan dan ramah. Ia tidak segan-segan mencium tangan para orang tua yang mendekatinya.
Saat kedua orang tua Jojo sadar jika anak mereka datang membawa seorang laki-laki istimewa, mereka segera mendekati Kalingga.
Kalingga membungkuk dan mencium tangan Ibu dan Ayah Jojo dengan hormat. Kedua orang tua Jojo menatap anaknya, dan Jojo memberi isyarat jika tamu mereka adalah laki-laki istimewa yang pernah ia ceritakan.
Tidak hanya itu, Kalingga juga meminta sopir untuk mengeluarkan semua barang bawaan yang ada di bagasi mobil. Ia membeli cukup banyak oleh-oleh serta suvenir untuk dibagikan ke para tetangga dan sanak saudara Jojo. Kalingga juga membawa hadiah khusus untuk kedua calon mertuanya.
Semua orang berterima kasih setelah Jojo dan Kalingga membagikan beberapa oleh-oleh untuk mereka semua.
"Kenapa repot-repot, Nak?" tanya Ibu Jojo. Ia melihat begitu banyak barang yang dibagikan.
"Tidak apa-apa, Bu. Sekali-kali, ini semua pemberian Kak Kalingga," jawab Jojo. Karena memang benar, semua barang yang mereka bawa adalah barang yang dibeli khusus oleh Kalingga.
Ayah Jojo memeluk Kalingga, berterima kasih atas kebaikan laki-laki itu. Mereka tidak pernah menyangka, jika setelah sekian lama tidak pulang, Jojo pulang dengan membawa seorang calon anggota keluarga baru.
"Calon menantu Ibu sangat tampan," puji Ibu Jojo sambil mengelus pundak Kalingga. Laki-laki yang dipuji itu mengangguk sopan dan tersenyum malu-malu.
"Terima kasih, Bu," jawab Kalingga.
Jojo menyenggol lengan laki-laki itu dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Beruntung, proses renovasi rumah sudah selesai dua minggu lalu hingga Jojo tidak malu dengan kondisi rumah mereka sebelumnya. Semua ini, berkat usaha dan kerja keras Jojo mencari uang dan mengangkat perekonomian keluarganya.
"Bagaimana aku harus memanggil mereka?" batin Kalingga bertanya. Ia ingin mengobrol, namun bingung saat ingin memanggil kedua calon mertuanya.
"Apa dia calon menantu Ibu, Nak?" tanya Ibu Jojo pada putrinya.
"Jojo sudah menceritakan semuanya. Semoga hubungan kalian berjalan baik dan lancar. Terima kasih sudah menjaga Jojo selama ini," sela Ayah Jojo.
Dengan hati-hati, Kalingga akhirnya mengutarakan niat dan tujuannya datang jauh-jauh ke desa ini, yaitu ingin meresmikan hubungannya bersama Jojo. Dan Kalingga meminta restu dari keduanya.
Kedua orang tua Jojo tersenyum senang. Mereka melempar pandangan pada anak gadisnya, dan saat melihat wajah Jojo bersemu merah dengan senyum malu, kedua orang tua Jojo paham, jika mereka sungguh saling mencintai.
"Nak, semua keputusan ada di tangan Jojo. Kami tahu kalian saling mencintai. Kami merestui, semoga kebahagiaan terus mengiringi setiap langkah kalian nanti," ucap Ayah Jojo.
Kalingga sangat senang, ia berterima kasih dan mencium tangan kedua calon mertuanya. Begitupun dengan Jojo, gadis itu tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.
Kalingga pun mengutarakan niatnya untuk menyelenggarakan pernikahan setelah hari wisuda Jojo. Saat itu juga kedua orang tua Jojo bertepatan akan ada di kota, dan Kalingga juga berencana untuk mengadakan pesta pernikahan di desa ini juga.
Sebagai orang tua, Ayah dan Ibu Jojo hanya ingin anaknya bahagia. Mereka mendukung apapun keinginan Jojo dan Kalingga, asalkan baik bagi keduanya.
Mereka mengobrol banyak hal. Kedua orang tua Jojo sangat ramah dan menerima dengan baik kehadiran Kalingga. Bahkan keduanya tidak canggung memuji bagaimana ketampanan Kalingga dan kebaikan laki-laki itu. Selama ini, mereka mendengar banyak hal tentang Kalingga dari Jojo. Sangat terlihat dengan jelas, bahwa anak semata wayangnya begitu mencintai Kalingga.
"Nak, silahkan beristirahat. Ini kamar Jojo," ucap Ibu Jojo pada Kalingga. Ia menunjukkan letak kamar Jojo dan mempersilahkan calon menantunya beristirahat. Perjalanan yang jauh dan memakan banyak waktu pasti membuat Kalingga lelah.
"Jojo bisa istirahat di kamar Ibu. Sebelum sah menjadi sepasang suami istri, tidak baik tidur dalam kamar yang sama," ujar Ayah Jojo.
Jojo mengedipkan mata genit pada Kalingga, ia membiarkan laki-laki itu masuk dan merebahkan diri setelah cukup lama duduk di perjalanan.
Kalingga masuk ke dalam kamar Jojo. Laki-laki itu meletakkan kopernya dan berbaring di atas kasur berukuran sedang. Ia melihat banyak sekali foto Jojo yang dipajang di dinding. Bahkan beberapa foto menunjukkan aksi seorang anak perempuan sedang berlatih seni bela diri serta membawa sebuah piala kemenangan di atas podium. Laki-laki itu semakin kagum, ternyata masih banyak hal yang tidak ia ketahui tentang pujaan hatinya.
Kalingga meraih satu foto yang berada di atas meja dekat tempat tidur. Sebuah foto gadis kecil dengan rambut di kuncir dua berusia sekitar lima tahun bersama teman laki-laki sebayanya sedang duduk di kursi dan berseragam sekolah. Sepertinya itu adalah foto saat Jojo lulus sekolah taman kanak-kanak.
"Ah, dia imut," gumam Kalingga.
Sementara di ruangan lain, Ibu Jojo sedang berbicara dari hati ke hati dengan putrinya. Setelah sekian lama tidak bertemu, mereka tidak bisa berjauhan meski hanya beberapa menit.
"Bu, dia tampan, Kan?" tanya Jojo sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Ibunya.
"Sangat tampan. Pasti semua tetangga kita akan iri jika Ibu punya menantu setampan dia," jawab Ibu Jojo.
Wanita berumur empat puluh tujuh tahun bernama Asri itu mengelus rambut Jojo dengan lembut. Ia tidak menduga bahwa Jojo akan pulang, padahal anak gadisnya mengatakan jika baru bisa pulang beberapa bulan lagi sebelum wisuda.
"Tapi, Nak. Dia pasti berasal dari keluarga kaya, apakah keluarganya juga memperlakanmu dengan baik?" tanya Asri khawatir.
"Sebelum kami menjalin hubungan, aku bekerja di rumahnya sebagai asisten rumah tangga dan mengurus dia beserta ketiga saudaranya, Bu. Mereka semua seperti keluarga bagiku, aku diperlakukan dengan sangat baik," jelas Jojo.
"Bagaimana dengan kedua orang tuanya? Apa mereka juga menerimamu? Kita bukan berasal dari keluarga kaya seperti mereka."
Pertanyaan Ibunya membuat Jojo menelan ludah dan diam. Sepertinya ia belum bisa memberi jawaban.
🖤🖤🖤