
Sejenak, Kalingga terdiam. Mengapa sejak lama ia tidak bisa memahami bahwa orang di hadapannya itu memiliki tujuan lain?
"Maaf, perasaan adikku bukanlah bisnis, Tuan. Dan cinta tidak bisa dinegosiasi," ucap Kalingga. Ia tidak akan pernah mengorbankan perasaan saudaranya.
"Jangan memberi keputusan sebelum menanyakan pada Keenan. Sampaikan hal ini padanya, kita akan bertemu lagi hari senin." Aslan berlalu pergi dan meninggalkan Kalingga yang masih duduk mematung di tempatnya.
Kalingga memijat kepalanya yang terasa berat dan nyeri, ia bergegas pergi dari kafe tersebut dan pulang.
Sesampainya di rumah, Kalingga melihat istrinya tertidur pulas di kursi ruang tamu, sementara di kursi lain, Keenan juga sudah tidak sadarkan diri.
Ada hal yang selalu membuatnya bahagia meski masalah dan berbagai kegaduhan terjadi di luar rumah, yaitu kehadiran Jojo.
Laki-laki itu bergegas mencuci tangan dan kakinya lalu menggendong Jojo ke kamar mereka. Kalingga berpikir jika wanita itu menunggunya hingga tidak sengaja tertidur.
🖤🖤🖤
Pagi-pagi sekali, Jojo sudah terbangun. Ia merasa bingung saat mengetahui dirinya kini berada di dalam kamar dan Kalingga ada di sampingnya.
Saat melihat jam di dinding, ia bergegas turun dari tempat tidur, namun Kalingga menghentikannya dengan mendekap tubuh wanita itu.
"Ini masih pagi, Sayang," ucap Kalingga dengan suara serak dan berat.
"Aku harus menyiapkan sarapan kita, Sayang."
"Apa Bibi tidak datang?"
"Tidak, Pak Teguh butuh istirahat. Aku memberi mereka libur selama beberapa hari."
"Lima menit lagi, tetaplah seperti ini," ujar Kalingga sambil membalik tubuh Jojo agar mereka saling berhadapan. Kalingga merosot dan mendekatkan wajahnya di depan perut buncit istrinya.
"Bagaimana kabarmu di dalam sana, Baby? Kau baik-baik saja?" tanya Kalingga berbicara dengan buah hatinya yang masih berada di dalam perut Jojo.
Mendengar suara dan sentuhan hangat tangan Kalingga, bayi di dalam rahim itu seakan mengerti. Gerakan dan tendangan halus ia lakukan untuk memberi isyarat pada Kalingga jika ia baik-baik saja.
"Ah, aku mencintaimu. Terus sehat dan lekas lahir dengan selamat," bisik Kalingga. Ia tersenyum dan berkali-kali mencium perut buncit sang istri.
Setelah beberapa menit, Jojo membiarkan Kalingga kembali tertidur. Ia harus menyiapkan sarapan untuk seluruh penghuni rumah pagi ini.
Sejak adanya asisten rumah tangga, Jojo jarang sekali memasak. Kalingga selalu melarangnya melakukan pekerjaan apapun, namun karena Jojo merasa baik-baik saja, ia tidak keberatan memasak selama Bu Yura tidak bekerja.
Saat Jojo membuka lemari pendingin, ia menemukan brownies. Wanita itu ingat jika Keenan pergi membelinya semalam. Tanpa menunggu lama, ia memasak sambil melahap hampir separuh isinya.
"Hei, kenapa makan brownies sepagi ini? Apa itu tidak apa-apa?" tanya Keenan yang tiba-tiba saja ada di belakangnya. Laki-laki itu hendak lari pagi di halaman depan dan tidak sengaja melihat Jojo di dapur.
Tepat pukul enam, menu sarapan telah terhidang di meja. Jojo segera naik ke lantai atas dan mengetuk pintu kamar Kylan dan Kai untuk menyuruh mereka segera turun. Saat sampai di kamarnya sendiri, ia melihat Kalingga sudah duduk di sofa sambil menatap layar laptopnya.
"Sayang, ayo sarapan," ajak Jojo. Ia duduk di samping Kalingga dan bersandar pada bahu laki-laki itu.
"Aku akan turun lima menit lagi. Jangan terlalu sering naik turun tangga, aku khawatir itu berbahaya untuk kandunganmu, Sayang," ujar Kalingga. Ia membingkai wajah Jojo dan mencium bibirnya sekilas.
"Aku baik-baik saja." Jojo tersenyum. Ia balik mencium bibir Kalingga. Namun saat akan melepaskan diri, Kalingga kembali mengapit tubuhnya dan terus menyesap bibirnya dengan lembut.
Mereka menikmati hari bersama dengan pelukan dan ciuman hangat setiap pagi. Membuat suasana hati keduanya selalu bahagia untuk menyelesaikan kesibukan setiap hari.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Jojo. Meski Kalingga tidak mengatakan apapun, Jojo punya firasat karena suaminya nampak gelisah. Wajahnya tidak seceria biasanya di hari minggu.
Saat Jojo menanyakan hal itu, tiba-tiba terdengar helaan napas panjang dari mulut Kalingga. Ada sesuatu yang ia sembunyikan, yang membuat dirinya gelisah dan terbebani.
Pelan-pelan, Jojo membujuk Kalingga untuk bercerita. Apapun masalah akan cepat selesai jika dibicarakan bersama.
"Tuan Aslan memintaku membujuk Keenan agar menjalin hubungan dengan April. Sepertinya aku tidak sadar jika selama ini dia membantuku demi Keenan," jelas Kalingga. Mendengar hal itu, Jojo menarik napas panjang sambil tersenyum. Ia mengusap punggung suaminya.
"Keluarga adalah hal terpenting. Kita bisa mencari kekayaan dan kesuksesan dari jalan lain, jangan mengorbankan perasaannya," ujar Jojo.
Jojo terus meyakinkan Kalingga jika semua akan baik-baik saja meskipun perusahaannya menghentikan ekspor barang ke luar negeri. Jojo berjanji akan membantunya, mereka tidak boleh lemah hanya karena Aslan tidak akan berada di pihak mereka.
Setelah mengobrol singkat, Kalingga merasa lega. Ia tidak perlu membicarakan hal ini pada Keenan atau menanyakan pendapatnya, karena semua orang tahu bagaimana perasaan Keenan untuk Angelina.
Di meja makan, Keenan, Kylan dan Kai sudah menunggu. Mereka menikmati pancake, roti bakar, hingga sandwich untuk menu sarapan.
"Kalian semua libur?" tanya Jojo.
"Hmm, aku akan menghabiskan waktu libur ku di rumah seharian," jawab Kylan.
"Aku pun, aku juga ingin bersantai. Menjadi mahasiswa baru ternyata sangat melelahkan," keluh Kai.
"Keren, nanti kita akan membuat daging panggang di halaman belakang!" seru Jojo senang.
"Angelina akan datang nanti, kita makan bersama." Keenan terlihat sangat senang.
Hal itu membuat Jojo dan Kalingga saling berpandangan, bukankah sudah jelas jika tidak ada yang perlu mereka tanyakan pada laki-laki itu? Membiarkan Keenan bahagia adalah hal penting, itu berarti Kalingga harus merelakan perusahaannya untuk menghentikan kerjasama dengan orang tua April.
🖤🖤🖤