Terjerat Cinta Sang Casanova

Terjerat Cinta Sang Casanova
TCSC Part 7


Malam harinya dengan memberanikan dirinya, gadis tomboy itu menemui ibunya di ruang tamu. "Bu, Zea ingin bicara sesuatu sama ibu? "


"Bicara apa Zea, minta uang lagi? " ledek Ibu.


"Aku serius Bu. " rengeknya. Ibu terkekeh, menarik tangan puterinya hingga duduk di sofa, Zea menghela nafas pelan setelah itu memandang lekat wanita paruh baya yang melahirkan dirinya.


.


"Bu, apa aku memiliki kakak yang lain selain Sakti. " Ibu sangat terkejut mendengar pertanyaan Zea, dia tak bisa berkata apa apa, bingung harus menjelaskan bagaimana pada putrinya itu.


"Ngawur kamu Ze, kakak kamu ya cuma Sakti. Memangnya kenapa kok kamu bertanya seperti itu sama ibu. " Zeapun menjelaskan pertemuannya dengan Ibu, Ibu langsung memegang bahunya dan menatapnya lekat.


"Di dunia ini orang memiliki kesamaan Zea, termasuk wajah dan mungkin saja kamu dan gadis itu sungguh kebetulan. " Zea terdiam, dia melihat ibunya yang terlihat gelisah dan ragu namun gadis itu memilih diam. Ibupun bangkit dan pergi ke kamarnya, Zea menghela nafas berat melihat kepergian ibunya.


to Om Beruang


Om, bisakah om membantuku? Aku perlu bantuanmu Om, please!


Tring


From Om Beruang


Asalkan kamu menuruti segala keinginan aku.


Zea terpaksa mengiyakan, dia memang harus melakukan ini karena penasaran mengenai sosok Dilla. Bukannya tak mempercayai ucapan ibunya, hanya saja dia masih ragu dengan apa yang di katakan ibunya barusan.


Sakti yang melihat adiknya melamun segera saja mendatanginya kemudian duduk di samping Zea. "Ze, abang lihat tadi kamu dan ibu ngobrolnya kayak serius gitu, memangnya ngobrolin apa? "


"Enggak apa kok bang, ibu cuma minta aku buat fokus pada sekolahku! Sakti mengangguk, dengan jahil mengacak acak rambut Zea. Zea langsung memasang wajah kesalnya kearah sang kakak. Zea sebenarnya ingin cerita sama abangnya ini namun dia urungkan karena tak ingin membuat kakaknya itu marah marah pada orang tua mereka.


"Ya sudah istirahat gih, besok kamu sekolah! Zea mengangguk, dia bangkit dan langsung pergi ke kamarnya.


##


Esok harinya Tiara datang dan berniat mengajak Zea ke sekolah bareng namun ternyata Zea berangkat duluan, di jemput oleh Arshaka. "Ish abang kenapa kamu enggak kasih tahu aku kalau Zea sudah berangkat. " sungut Tiara.


"Hehehe sengaja, biar kamu mampir. " Tiara mendengus pelan, diliriknya jam di tangannya kemudian kembali menatap Sakti. Sakti mengacak rambutnya, melajukan motornya setelah berpamitan pada Ayah dan ibu. Tiara memeluk pinggang Sakti, Sakti kini tengah tersenyum sumringah. Setibanya di dekat area sekolah, Tiara segera turun dari motor.


"Terimakasih ya bang udah nganterin Ara ke sekolah. "


"Sama sama Ara, nanti abang jemput lagi. " Tiara sebenarnya keberatan namun Sakti tak mempermasalahkannya, diapun tersenyum manis kearah kakak sahabatnya itu. Sakti mencium keningnya singkat, setelah itu melajukan motornya setelah berpamitan pada Tiara.


Tiara senyum senyum sendiri mendapat perlakuan spesial dari Sakti, namun menggeleng pelan mengingat usia keduanya terpaut jauh. "Rasa rasanya aku enggak pantes buat abang Sakti, dia sudah dewasa sedangkan aku hanyalah gadis manja. "


"Eh iya soal Zea. " Tiara buru buru masuk ke dalam gedung sekolahnya, dia bergegas mencari keberadaan sahabat tomboynya itu. Setelah lama mencari akhirnya Tiara menemukan sahabatnya itu tengah duduk di bawah pohon dengan raut muka masamnya.


"Kamu kenapa Ze kok kayaknya kesel banget!


"Ah aku sebel banget sama om beruang, masa iya pria tua itu menjadikan aku pembantunya sih. " omel Zea yang langsung bercerita hingga selesai. Tiara tertawa terbahak bahak, dia menatap sahabatnya itu dengan perasaan iba sekaligus lucu.


"Dih amit amit jangan sampai, pokoknya aku enggak mau jatuh cinta sama si beruang. " Tiara tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya, Zea mengusap wajahnya pelan kemudian menghela nafas panjang. Demi keinginannya dia harus rela menjadi babunya Arshaka selama seminggu dan enggak boleh membantah.


##Perusahaan Liem


Bara membawa laporan ke ruangan Arshaka, pria itu menaikkan sebelah alisnya melihat kelakuan bossnya yang tak biasa. "Boss ini laporan yang perlu anda periksa dan tanda tangani. "


"Hemm ya, taruh saja di situ Bara!


"Shak, aku dengar kamu dan Mona sudah balikan ya. " Arshaka mendongak, melirik kearah asisten sekaligus temannya kemudian mengangguk. Bara menghela nafas pelan, menarik kursi lalu duduk di hadapan Arshaka.


"Memangnya kamu masih cinta sama ex mantanmu itu? "


"Masih makanya aku balikan sama dia, selain itu aku juga punya pembantu baru yang bisa aku manfaatin. " Arshaka menyeringai, Bara yang melihatnya merasa heran dan juga penasaran. Arshaka memiliki rencana sendiri mendekati Zea, dia memiliki tujuan tertentu.


"Aku mau lihat gadis seperti apa kamu Zea, hingga keluargaku selalu membelamu cih. " makinya dalam hati. Arshaka sangat membenci Zea, menurutnya gadis itu adalah gadis pembawa masalah ke dalam kehidupannya. Semenjak Zea hadir, hidupnya yang semula tenang kini menjadi berantakan. Arshaka mengeluarkan ponselnya lalu mengetik sesuatu di dalam sana.


to Mona


Honey, bersiaplah siaplah. Nanti jam dua aku jemput, aku akan mengajakmu menemui keluargaku!


Setelah selesai Arshaka kembali menaruh ponselnya ke dalam saku, memeriksa laporannya. Bara hanya menggeleng, diapun memilih bangkit dan ke luar dari ruangan Arshaka. Beberapa saat Arshaka tiba tiba teringat dengan keponakan cantiknya, dia merasa menyesal kemarin. "Sepertinya nanti aku belikan saja mainan buat Za, Za pasti sangat senang. " pikirnya.


Drt


drt


drt


"Ya Halo Mom ada apa? "


"Datanglah ke rumah dan ajak sekalian Zea bersama kamu. "


"Memangnya ada apa mom? Tut sambungan terputus, Arshaka menghela nafas berat. Namun dia penasaran kenapa sang mommy tiba tiba menyuruhnya mengajak Zea. Tak lama seringaian terbit di sudut bibirnya, ada rencana lain yang kini ada di otaknya.


"Sekalian mengenalkan Mona sama mommy dan daddy. " gumamnya sambil tersenyum sumringah. Arshaka melirik jam tangannya setelah itu menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.


Dua jam berlalu, Arshaka bangkit dan ke luar dari ruangannya. Dia bergegas melewati para karyawan yang berlalu lalang, sampai di luar Arshaka segera melajukan mobilnya kencang menuju ke apartemen Mona, kekasihnya. Setelah tiga puluh menit mobil berhenti di depan Apartemen, Mona yang telah siap langsung masuk begitu saja.


"Sayang, sebelum ke rumah orang tuaku. Kita mampir ke mall bentar ya, beli mainan buat Khanza. "


"Terserah kamu sayang. " Arshakapun mengangguk, tancap gas dan melaju dengan kencang. Diam diam Mona sangat senang karena dirinya sebentar lagi di perkenalkan di keluarga besar O'Neil dan Malik, dirinya sangat yakin jika keluarga Malik pasti akan menerimanya.


"Kelak saat aku remi menjadi istri Shaka, aku pasti diperlakukan layaknya Ratu dan aku sudah tak sabar menunggu hari itu tiba. " batinnya menjerit senang.


bersambung


JANGAN LUPA LIKE, VOTE DAN KOMEN