
Seminggu kemudian
Hari pernikahan Arshaka dan Zea di gelar, nuansanya cukup mewah namun di lakukan secara tertutup, mengingat sang mempelai perempuan masih sekolah. Kini para MUA tengah make up wajah Zea, Zea hanya diam dan tampak murung, mengingat hari yang tak diinginkannya tiba. "Nona harus senyum, bukankah hari ini hari bahagia nona!
"Ck hari bahagia darimana. " dengusnya dalam hati.
"Nah sudah selesai. " Zea melihat dirinya di cermin setelah itu bangkit, ayah dan ibunya datang menjemputnya. Mereka ke luar dari kamar, bergegas pergi ke aula pesta. Ayah menyerahkan Zea pada Arshaka setelah itu kembali ke belakang.
"Saudari Arshaka Evander Malik, bersediakah engkau menerima saudari Starla Zeanne Abraham sebagai istrimu. "
"Ya saya bersedia. "
"Saudari Starla Zeanne Abraham, bersediakah engkau menerima saudara Arshaka sebagai suami anda. "
"Ya saya bersedia. "
"Mulai saat ini kalian resmi menjadi suami
istri. " suara riuh dari para tamu membuat suasana semakin meriah. Arshakapun memyematkan cincin ke jari Zea begitu sebaliknya, saat hendak menciumnya Zea memalingkan wajahnya hingga hanya kecupan pipi yang di dapat.
Arshaka berdecak kesal, namun dia memilih menahannya. Para tamu langsung memberikan selamat pada keduanya, keluarga mereka juga turut memberikan selamat. Orang tua Zea datang, memberi pelukan pada puteri mereka itu diiringi tangisan. "Sayang, kamu harus patuh dan menuruti perkataan suamimu, selain itu jangan kekanakan dan manja. " tegur Ibu menasehati puterinya.
"Iya Bu Zea ngerti. " jawab Zea dengan sangat pelan, Zea beralih memeluk ayahnya dengan erat. Sakti datang bersama Tiara, pria itu bergantian memeluk Zea adiknya. Shaka hanya menatap jengah kearah kakak iparnya itu, dia tahu kalau Sakti tak menyukai dirinya.
Malam harinya setelah acara Resepsi selesai keduanya langsung pergi ke kamar mereka. Arshaka memghampiri Zea yang tengah menghapus make upnya. "Dengar, pernikahan ini hanyalah sebuah formalitas dan jangan pernah berharap kalau aku akan mencinyaimu gadis udik!
Zea hanya memutar bola matanya malas, berbalik dan menatap suaminya itu dengan raut datarnya. "Tanpa mau bilang aku juga tahu om beruang, jangan mengatakannya berkali kali karena aku bosan mendengarnya. "
"Cepat bantu aku turunin resleting gaunku. " pinta Zea dengan nada memaksa.
Arshaka mendengus pelan, namun dia menurutinya. Diapun menurunkan resleting gaun istrinya hingga terlihat punggung mulus Zea, pria itu langsung menelan salivanya kasar. Zea langsung mengambil piyamanya kemudian membawanya ke kamar mandi tanpa mempedulikan Arshaka.
Shaka mengusap wajahnya kasar, pikirannya traveling setelah menatap punggung sang istri. Dengan cepat dia menepis pikiran kotornya, teringat ucapan Mona yang melarangnya melakukan kontak fisik dengan Zea. Beberapa saat berlalu Zea ke luar dengan memakai piyamanya, merasa lelah dia langsung menghempaskan dirinya di atas ranjang.
"Hei gadis udik, kamu tidur di sofa!
"Tidak mau, kamu saja yang tidur di sana. " balas Zea sambil melirik Arshaka. Arshaka berdecak kesal, melepaskan tuxedonya, hingga terlihat dada bidangnya setelah itu pergi ke kamar mandi.
Arshaka kini hanya mengenakan celana panjang, dia mmbiarkan tubuh kekarnya polos tanpa terbalut apapun karena itu kebiasaan dirinya. Dia menghela nafas panjang, melihat tubuh mungil istrinya yang membelakangi dirinya. Diapun langsung naik ke atas ranjang, merebahkan dirinya di sana sambil melirik kearah Zea. "Apa kau sudah tidur gadis udik? "
"Hn. "
Arshaka mendekatkan tubuhnya, tiba tiba dia menggeram kesal, mencium aroma strawberry dari tubuh Zea membuat dirinya panas dingin ehem. Grep Dia membawa Zea ke dalam pelukannya, Zea sangat terkejut dan membalikkan tubuhnya. "Hei jangan memelukku, bukankah tidak ada kontak fisik Om!
"Diam, atau aku akan menciummu. "bentak Arshaka.
"Kamu. " geram Arshaka emosi, diapun berbalik dan memunggungi gadis yang resmi menjadi istrinya itu. Zea langsung menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya lalu memejamkan kedua matanya karena sudah sangat lelah.
##
Sang surya telah nampak, membias masuk melalui jendela kamar dengan tirai terbuka sempurna. Zea membuka matanya, dia melihat dada bidang Arshaka kemudian mengangkat wajahnya, memandang kearah suaminya yang masih dengan mata terpejam. "Om lepasin aku, ish kenapa dia memeluk aku lagi. " gerutunya.
Arshaka membuka matanya, menatap lekat kearah istrinya itu. Cup pria itu mencium bibir Zea sekilas, mengabaikan tatapan melotot dari istri kecilnya. "Hentikan, sekali lagi om menciumku, aku akan melaporkannya pada kekasihmu itu, bagaimana. " ancam Zea.
Arshakapun melepaskan pelukannya, Zea segera bangun dan turun dari ranjang. Dia pergi ke kamar mandi, sementara Arshaka berkali kali mengumpat. "Cih sialan, seharusnya semalam adalah malam pertamaku dengan gadis udik itu. "
Sementara di meja makan para orang gua tengah mengobrol, membahas putera puteri mereka. Tak lama Arshaka dan Zea turun, langsung bergabung bersama mereka. Mommy Jingga menatap menantu dan puteranya dengan senyum menggembang di bibirnya. "Sayang, bagaimana malam pertama kalian semalam? "
Uhuk uhuk Zea tersedak makanannya, dia mengambil segelas air putih kemudian meneguknya. Arshaka melirik tajam kearah mommy tercintanya itu. Mommy Jingga merasa bersalah pada menantunya, Zea menatap kearah sang mertua dengan senyuman kakunya. "Mom, aku dan om Shaka semalam tidak melakukan apapun, kami langsung tidur saja. " ucapnya dengan jujur.
"Lagian mommy aneh, Zea masih sekolah dan mommy jangan berpikir kejauhan seperti itu. " sahut Arshaka. Setelah itu mereka makan dalam keheningan, hanya ada suara dentingan sendok garpu yang beradu.
"Mom, aku dan Zea pulang dulu. "
"Kalian enggak menginap di sini saja sayang? "
"Enggak mom. " Arshaka mencium pipi mommynya sekilas lalu bangkit, Mommy dan Zea berpelukan sekilas setelah itu keduanya pergi. Setelah kepergian anak dan menantunya, wajah mommy langsung murung, daddy Mike mengenggam tangan mommy dengan erat,lalu memeluknya.
**
Selama perjalanan pulang, tak ada yang bersuara. Zea sibuk memainkan game dalam ponselnya mengabaikan suaminya itu. Arshaka fokus menyetir, sesekali melirik kearah Zea.
drt
drt
"Ya halo honey, ada apa? "
"Lain kali saja gimana, aku sibuk dengan perusahaan, love you too! Arshaka menutup teleponnya, ya Monalah yang menghubungi dirinya tadi. Zea hanya bergidik ngeri, merasa geli dengan pernyataan cinta Arshaka pada Mona.
"Ada apa, kenapa kamu melihatku!
"Tidak papa hanya saja, kenapa kamu sejak tadi hanya diam saat aku berbicara dengan Mona? "
"Itu urusan kalian bukan urusanku. " jawab Zea dengan cuek. Arshaka mendengus pelan, melihat sikap istrinya yang benar benar tak peduli padanya. Mobil mewah itu masuk ke pelataran mansion Arshaka, keduanya segera turun dari mobil dan bergegas ke dalam.
"Aku ke kantor dulu, sebaiknya kamu di rumah jangan keluyuran!
"Ya, terserah kamu. Sudah pergi sana, jangan hiraukan aku. " Zea kembali bermain game, mengingat dia cuti tiga hari dari sekolahnya. Arshaka menggeleng setelah itu pergi meninggalkannya sendirian di mansion.
bersambung