
Happy Reading!
Hari berikutnya, Shaka memutuskan menemani istrinya di rumah, mencurahkan kasih sayangnya demi wanitanya. Mengenai pekerjaan kantor, dia serahkan pada sang asisten untuk menghandlenya. Zeapun menghela nafas panjang, menatap sendu suaminya. "Maafkan aku sayang, aku belum bisa melayani kamu di ranjang. " sesal Zea.
"Sst sayang, jangan merasa bersalah. Anggap saja ini hukuman untuk atas sikap kasarku padamu tempo hari!
Shaka langsung memeluknya dengan erat, dia mengeraskan rahangnya mengingat selama ini dia terus terusan menyakiti Zea, parahnya lagi mereka kehilangan janin calon anak mereka. Pria itu merengkuh pinggang ramping wanitanya, menatap lembut istri tercinta. "Jangan lagi mengeluarkan air mata berhargamu hanya karena suami brengsekmu ini sayang, please. "
"Baiklah kalau begitu, aku cari sugar daddy saja gimana? " Zea mencoba menggoda suaminya, dan benar saja raut wajah shaka berubah menjadi kesal.
"Nakal ya, aku akan membuatmu hamil lagi Yank, agar kamu enggak melirik pria lain. " dengus Shaka.
"Oh ya memang berapa ronde. " ledek Zea pada suaminya.
"Sepuluh rondepun aku bisa tapi saat ini libur dulu. " decak Shaka. Zeapun bergidik membayangkan jika dirinya melayani suaminya hingga sepuluh ronde, bisa bisa dia tidak bisa berjalan satu minggu lebih. Zeapun bangkit, wanita itu memilih duduk di pangkuan sang suami. Shaka tersenyum tipis, tangannya mengusap paha wanitanya dengan gerakan sensual.
"Tadi Tiara menghubungi aku, katanya minggu depan acara pernikahannya dengan bang Shakti. " ucap Zea sambil tersenyum.
"Oh ya aku ingin meluruskan masalah kita kemarin, kenapa Mona masih menghubungi kamu mas? "
"Maaf sayang aku lupa memblokirnya!
"Oh ya, aku kira kamu masih berhubungan dengan wanita itu dan kamu belum bisa mengendalikan emosi dan sikap kasarmu, hingga aku kehilangan janin dalam perutku. " tegas Zea dengan sorot mata kecewanya. Shaka hanya bisa menghela nafas berat, rasa bersalah bersarang di dirinya atas kejadian yang menimpa sang istri.
"Untuk sementara, jangan paksa aku untuk melayanimu mas sampai aku benar benar sembuh! Zeapun bangkit, segera mengganti pakaiannya setelah itu ke luar. Shakapun mengusap wajahnya kasar, mengerti dengan sikap istrinya yang terlihat menjaga jarak darinya.
Zea langsung memeluk Shilla, adik iparnya. Mereka mengobrol di ruang tamu. Dengan senyuman bahagia, Zea mencoba menggendong baby Alan. "Seandainya aku enggak keguguran, pasti sembilan bulan ke depan bayiku sudah lahir. " gumam Zea dengan lirih.
Shilla dan Alvaro saling melirik satu sama lain, ibu dua anak itu langsung mengusap punggung sang ipar. "Maafkan kak Shaka ya Ze, kakakku yang bodoh itu memang benar benar keterlaluan. " geram Shilla.
Hiks hiks
Melihat situasi Alvaro segera mengambil alih putera kecilnya, Shilla terus menerus mengusap punggung Zea yang bergetar. Ibu satu anak itu membiarkan iparnya menangis, meluapkan segala kesedihannya. "Aku hancur Shilla, saat tahu aku hamil namun justru janinku keguguran. Lebih kecewanya lagi sikapnya yang emosian dan kasar ditunjukkan Shaka padaku. " ungkap Zea sambil menangis sesegukan.
Shilla begitu kasihan pada kakak iparnya itu, mendengarnya, dia segera memeluk tubuh Zea. Alvaro terdiam, memperhatikan istri dan saudara iparnya itu secara bergantian.
"Sudah Ze, kamu harus kuat menghadapi ini semua, lagian kelak kamu bisa hamil lagi.
oh ya bukankah besok lusa pengumuman kelulusan kamu? " Zea mengangkat wajahnya, lalu mengangguk kecil. Dia berusaha melupakan kejadian kemarin meski sulit untuknya. Pelayan datang menyajikan minuman untuk mereka setelah itu pergi dari sana.
Ehem
"Aku pergi dulu, kak Zidane mengajakku bertemu. "
"Sayang, jangan pergi. " ucap Shaka dengan tegas. Alvaro dan Shilla memberi kode padanya, dia itu menghembuskan nafas kasar dan mengizinkan istrinya pergi. Cemburu tentu saja, Shaka tidak rela jika wanitanya menemui pria lain. Zeapun langsung pergi meninggalkan suami dan iparnya, tatapan Shaka terus tertuju pada istrinya yang menghilang di balik pintu.
"Bisa enggak sih, kakak itu enggak cemburuan banget sama Zea. Apalagi sikap kakak yang suka meledak ledak dan kasar, membuat istri kakak tidak nyaman. Jika kejadian kemarin terulang lagi, aku yakin Zea pasti akan ninggalin kakak selamanya. " ucap Shilla memberi nasihat pada sang kakak.
"Kakak mah gampang banget ucapin maafnya, sedangkan Zea begitu kalut akan kehilangan janin yang tidak dia sadari kehadirannya. " sambung Shilla.
"Maafin kakak Shill. " Shaka langsung bangkit dan menyusul kepergian istrinya. Shilla mendengus sebal, menatap kepergian kakaknya. Alvaro menyerahkan baby Alan pada babysitternya, sedangkan si kecil Khanza pergi bersama Zea tadi.
"Apa, kenapa mas Al ngeliatin aku kek gitu? " ujar Shilla sambil menaikkan sebelah alisnya. Alvaro terkekeh, mencubit pelan hidung isrrinya dengan gemas.
"Kamukan istri mas sayang, wajar dong kalau aku natap kamu, memangnya kamu mau aku natap wanita lain. " goda Alvaro pada Shilla. Bibir Shilla mengerucut, matanya mendelik tajam kearah suaminya dan dibalas kekehan oleh Alvaro.
"Eh ngomong ngomong pria bernama Zidane itu sangat tampan lho mas, pantas saja kak Shaka cemburuan pada Zea hahaha. " ucapnya tergelak. Kini Giliran Alvaro yang cemburu, melihat istrinya memuji ketampanan pria lain.
Cup
Eh Shilla terbengong, alisnya terangkat melihat tatapan suaminya. Alvaro menyeringai kearah sang istri sambil mengusap bibir Shilla. "Ini hukuman untuk kamu, kamu berani memuji pria lain di depanku!
"Dih pria pencemburu. " sindirnya. Shillapun menyusupkan wajahnya ke dada bidang Alvaro.
Menghirup aroma maskulin dari tubuh suaminya yang menjadi candunya.
##
Sementara itu Zea dan Zidane kini berada di tepi danau sore itu. Dari jauh Shaka mengamati keduanya dengan tatapan elangnya. Zeapun membuang nafas berat lalu menoleh kearah pria yang merupakan sahabat kakaknya. "Kak Zid, sebenarnya aku sudah menikah!"
"Terus? "
"Kok kak Zid enggak terkejut sih? " pekiknya. Zidane terkekeh melihat raut kesal dari adik sahabatnya.
"Aku sudah tahu dari kakakmu Zea. " ledeknya. Zea berdecak sebal, namun gadis itu bernafas lega mendengarnya. Zea menampilkan cengirannya, Zidanepun mengacak acak rambut Zea hingga membuat wanita itu kesal.
"Lagian aku pulang ke indonesia, karena ingin memastikan dan mencari seseorang Ze. " ujarnya ambigu. Zeapun tak mengerti dengan maksud ucapan Zidane barusan. Zidane kembali melirik Zea, nampak wanita itu terlihat murung.
"Kenapa wajahmu murung, awas lho Ze wajah jelekmu tambah jelek saat kau murung. " goda Zidane. Zeapun mencebikkan bibirnya, tangannya langsung menampar paha pria itu keras.
"Nyebelin, enak aja muka cantik gini di bilang jelek. " sungut Zea.
"Makanya senyum dong, lagian kalau ada masalah cerita aja! Zea hanya menggeleng kearah Zidane, Zidanepun tersenyum simpul dan memakluminya. Dari jauh Shaka merasakan hatinya panas, melihat kedekatan Zea dengan Zidane namun sebisa mungkin di menahan dirinya untuk tidak emosi dan menghajar Zidane.
tbc