
Setelah tiga hari Serena di izinkan pulang, wanita itu terus menggerutu dengan sikap suaminya yang kian overposesif dan over protektif padanya. Archana mengeleng, melihat tingkah kakak iparnya itu.
"Sudahlah kak Serena, ini demi kebaikan kakak juga bukan. " timpal Archana.
"Kakakmu itu menyebalkan Archa. " dumel Serena untuk kesekian kalinya. Archana menatap jengah dengan sikap iparnya, dia paham jika Serena terlalu tak nyaman diperlakukan berlebihan. Serena memasang wajah cemberutnya, bersandar di sofa sambil melipat tangannya di dada.
"Bagaimana aku bisa ke luar, jika Arsen terus mengurungku di mansion, padahal aku ingin mencari siapa orang yang berani mencelakai aku. " batin Serena gelisah.
"Sayang. " panggil Arsen yang datang dengan langkah kakinya yang cepat menghampiri istrinya. Serena menatap heran suaminya yang terlihat begitu bahagia. Dia sempat melirik benda yang di bawa Arsen, sontak membuatnya penasaran.
"Apa itu sayang? "
"Aku perhatikan, beberapa hari ini sikap manjamu semakin bertambah, aku mengira bibirku mungkin tumbuh dalam perutmu, makanya aku belikan texpack. " ujar Arsen dengan senyum di bibirnya.
Serena terdiam, wanita itu menelan salivanya kasar. Archana ikut berharap jika sang kakak ipar tengah mengandung saat ini. Serena menghela nafas panjang, merasa menyesal karena membuat suaminya akan kembali kecewa padanya namun dia tak mungkin berbohong lagi. "Yank, aku enggak hamil. " ujar Serena Dengan hati hati.
"Bagaimana mungkin, katamu kau tak meminum pil? " pungkas Arsen yang terlihat bingung.
"Aku bersikap manja, agar kau tidak terlalu bersikap posesif padaku. Apa kau lupa Yank, jika aku masih harus membalas Clara dan ibunya! Arsen benar benar kecewa, ternyata sang istri hanya merayunya karena sebuah alasan, bukan karena Serena hamil. Serena bangkit, lantas menghampiri suaminya yang kini diam mematung kemudian membisikkan sesuatu. Wajah Arsen yang suram berubah kembali ceria seperti semula.
"Kalian bisik bisik apa sih? " tanya Archana penasaran.
"Anak kecil tak boleh tahu wlek. " ledek Serena pada adik iparnya yang kini memasang wajah cemberutnya. Archana mendengus sebal, menghentakkan kakinya kesal dan pergi dari sana. Serena dan Arsen terkekeh, keduanya sangat senang membuat Archana merajuk.
"Sayang, ayo ke kamar. " ajak Arsen pada istrinya. Serena mengangguk, keduanya berjalan menuju ke kamar mereka.
Dengan mengenakan lingerie berwarna cokelat, Serena kini duduk di atas pangkuan Arsen. Jakun pria itu naik turun, melihat penampilan istrinya yang begitu seksi di matanya. Serena melepaskan kemeja sang suami, kemudian melemparnya lalu mengusap dada bidang Arsen dengan sensual.
"I'am yours Hubby!
Arsen yang tak kuat, lalu membopongnya dan merebahkan istrinya di ranjang, pria itu menerjang Serena dan membawa ke surga kenikmatan. Wanita itu memberikan pelayanan yang maksimal untuk sang suami dengan penuh cinta.
"Umh ah Arsen. " gumam Serena sambil meremas rambut tebal sang suami. Arsen begitu bersemangat, pria itu semakin cepat menggerakkan pinggulnya.
Sesaat kemudian, keduanya tengah menetralkan nafas mereka yang begitu memburu. Arsen mengusap punggung polos sang istri, lalu di kecupnya dengan singkat. Serena bersandar di dada suaminya, dia biarkan tangan Arsen yang kini masuk ke dalam selimut, menyentuh lekuk tubuhnya.
"Hubby terimakasih, kamu sejak awal selalu menolong dan menjagaku, sebagai istrimu aku belum memenuhi keinginan kamu sayang. " sesal Serena dengan raut sendunya. Arsen menghela nafas panjang, meraih dagu sang istri dan menatap lekat wajah Serena.
"Jangan berkecil hati sayang, aku akan rajin menyirami rumahmu dengan cairan cintaku, agar Arsen Junior segera hadir. " sahut Arsen dengan senyuman menggodanya.
"Kalau perlu 3x 1 hari gimana. " gelaknya yang mendapat cubitan dari istrinya.
"Seperti obat aja, 3x1 sehari. " sungut Serena dengan wajah masamnya. Arsen tersenyum, dia menciumi pucuk kepala Serena dengan lembut.
"Oh ya. " Serena merasa tertarik dengan kisah cinta dari kedua mertuanya. Arsen tersenyum, mengatakan soal kisah cinta orang tuanya pada Serena. Serena senyum senyum sendiri, ternyata kisah mommy Zea dan Daddy Arshaka juga tidaklah mudah.
"Jadi jangan sedih lagi oke, kita nikmati waktu berdua sebelum calon anak kita hadir di tengah tengah kita. " jelasnya. Serena mengangguk, dia mencium suaminya sekali lalu bangkit. Mereka membersihkan diri di kamar mandi, setelah itu mengganti pakaian mereka.
##
"Om Juna. " gumam Archana yang kini memperhatikan Juna tengah bersama seorang wanita. Sebelum pulang gadis itu berniat ingin jalan jalan, tanpa sengaja dia melihat Arjuna bersama seorang wanita di sebuah restauran.
"Apa aku samperin saja ya, tapi kalau mengganggu bagaimana. " batin Archana bimbang. Archana memilih diam di tempatnya, tak ingin menghampiri Arjuna, meski gadis itu merasa penasaran siapa wanita di sebelah Arjuna.
Ya selama beberapa hari ini mereka hanya mengobrol ringan, terselip candaan. Archana merasa nyaman berada di dekat om tampan itu, mengingat selama ini Junalah yang mengantar dan menjemputnya dari kampus. Dia memilih pergi dari sana tanpa menyapa Arjuna, dari kejauhan Arjuna melihat sosoknya.
"Archana. " batin Arjuna.
"Shei, aku pergi dulu. " Juna buru buru bangkit, pria itu pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban Sheila. Pria itu mengedarkan pandangannya, mencari sosok gadis manis itu. Juna segera mengejarnya, menarik tangan Archana hingga gadis itu menoleh.
"Lho Om Juna? " Archana mengernyitkan dahi, melihat sosok Juna yang kini ada di depan dirinya.
"Kenapa kau tak menyapa aku Archa? " tanya Juna balik dengan tatapan penuh selidik.
"Enggak papa, takut ganggu om. " cicitnya pelan.
Juna menghela nafas kasar, merangkul bahu gadis itu lalu membawanya ke dalam mobil. Archana menurut, dia menoleh kearah Juna yang tengah menatapnya. "Kau jangan salah paham Cha, dia tadi Sheila teman lamaku. "
"Om Juna aneh, kenapa mesti jelasin ini sama aku om. Memangnya aku pacarnya om Juna? " Juna terdiam, dia merutuki bibirnya yang berbicara seenaknya. Entah kenapa dia kecewa,ucapan Archana tak sesuai harapannya. Archana menatap bingung pria di hadapannya, namun dia memilih diam.
"Apa kamu tak punya perasaan sama aku, apalagi saat kita berciuman Archa. " desak Juna pada gadisnya. Archana diam, dia bingung harus menjawab apa. Juna mengusap wajahnya kasar, berbalik dan hendak ke luar dari mobil. Archana mencegahnya, menyentuh lengan pria itu.
"Jangan tinggalin aku om. " gumam Archana pelan.
Juna berbalik, balas membawa Archana ke pangkuannya, memeluk tubuh gadis yang selama ini memenuhi hati dan pikirannya. Dia menatap lekat wajah Archana dengan senyuman di bibirnya. "Mulai sekarang panggil aku mas Juna sayang, kamu mau 'kan? "
"Em iya Mas. " Archana belum terbiasa dengan sebutan itu untuk Juna, Juna sangat senang mendengarnya. Dia kembali menciumi wajah Archana, berakhir pada bibir tipis gadis itu. Archana membalasnya dengan kaku, tak lama Juna menyudahi ciumannya.
"Sekarang kita berdua adalah kekasih sayang, mas akan menjaga dan membahagiakan kamu. " ucap Juna dengan serius. Archana terenyuh mendengarnya, tak di pungkiri hatinya selalu berdebar kencang berada di dekat Juna.
"Iya mas Juna. " jawab Archana singkat. Setelah itu Juna melajukan mobilnya, raut wajahnya begitu berseri hari ini. Archana tersenyum, dia begitu bahagia bisa menjadi kekasih dari Juna.
tbc
JANGAN LUPA LIKE, VOTE DAN KOMEN BANYAK YA