
LIKE, KOMEN DAN FAVORIT YA
VOTE VOTE OKE
Penampilan seksi Clara saat ini
"Wah Clara kamu memang model iklan terbaik yang pernah ada. " puji sang sutradara. Clara tersenyum lebar, dia telah berhasil menggapai mimpinya tanpa ada penghalang.
"Semua pria akan tergoda denganmu Clara, apalagi bentuk tubuhmu sangat ideal. Oh ya apa kau tahu siapa pemilik properti Malik
grup. " tutur Reva.
"Tuan Arsenio Narendra Malik, pria tampan dengan sejuta pesonanya yang memikat, gagah perkasa dan aku yakin pria itu sangat liar di atas ranjang. " jelas Reva panjang lebar.
"Amazing, aku jadi penasaran dengan pria itu. " ucap Clara tersenyum miring. Reva langsung menunjukkan foto Arsen pada Clara, membuat Clara langsung tersenyum. Teringat Serena, setelah pemotretan selesai, wanita itu langsung pergi begitu saja. Clara ingin mencari tahu bagaimana kehidupan saudara tirinya itu.
"Don't like or love me, but hate me, sama seperti dia yang membenciku sejak aku kecil. " lirih Serena memalingkan wajahnya kearah lain. Posisi keduanya begitu intim, jarak wajah mereka begitu dekat, Serena bisa merasakan hembusan nafas Arsen.
Cup
"I don't care sweety, dengar mulai sekarang ada aku yang akan selalu berada di sisimu. " ujarnya setelah tautan bibir mereka terlepas.
Serena memejamkan mata kala Arsen kembali menciumnya, ciuman lembut itu turun ke lehernya dan berakhir di belahan padat miliknya. "Aaah Ar..sen. " gumamnya lirih. Serena segera mendorong tubuh Arsen, lalu turun dari pangkuan pria itu.
"Aku bukan wanita murahan Arsen, jika kamu perlu pelampiasan pergilah ke club. " ujar Serena sambil memperbaiki penampilannya. Arsen menyugar rambutnya kasar, dia tak pernah menganggap Serena murahan.
"Sweety dengar, kau kekasihku. Aku tak pernah menganggapmu murahan dan maafkan sikapku tadi, " ucap Arsen dengan tulus. Serena hanya diam tak menggubrisnya, dia tak ingin terlibat hubungan apapun dengan Arsen.
"I Like you sweety, mungkin cinta pada pandangan pertama. "
"Omong kosong, aku sudah bilang jangan cintai aku tuan Arsen. "geram Serena dengan nada tak sukanya.
"Do you hate me honey? Why don't you allow me to love you! ( Apa kamu membenciku sayang? Mengapa kamu tidak mengizinkanku untuk mencintaimu!
"Are you afraid to fall in love with me baby? Or are you afraid that your heart will be hurt because of me? ( Apa kamu takut jatuh cinta padaku atau kamu takut hatimu tersakiti karenaku? "
"Stop Arsen, stop. " teriak Serena. Gadis itu menangis, berlari menuju ke kamarnya. Arsen mengepalkan tangannya, dia sangat penasaran dengan alasan kuat yang di miliki Serena hingga menolak dirinya.
##
Hiks hiks
"Kau tak tahu Arsen, sakit rasanya di benci, di hina dan diperlakukan bak binatang oleh ayah kandung. " gumam Serena lirih. Perlakuan ayahnya dari dulu masih membekas dalam ingatannya. Ayah yang seharusnya menjadi cinta pertama anak perempuannya, justru memberikan luka yang cukup lebar, hingga membuatku trauma.
Serena menumpahkan rasa sakit hatinya dengan menangis, setelah itu dia berusaha menguatkan dirinya sendiri akan niat awalnya. Dia ambil foto mendiang ibunya dari dalam laci dengan sorot sendu. "Ibu, Seren kangen sekali sama ibu. " gumam Serena pelan.
...Loving can hurt...
...Loving can hurt sometimes...
...But it's the only thing that I know...
...When it gets hard...
...You know it can get hard sometimes...
...It is the only thing that makes us feel alive...
...We keep this love in a photograph...
...We made these memories for ourselves...
...Where our eyes are never closing...
...Hearts are never broken...
...So you can keep me...
...Inside the pocket of your ripped jeans...
...Holding me closer 'til our eyes meet....
...You won't ever be alone....
...Wait for me to come home...
Serena terdiam, menikmati musik yang dia putar dari dalam ponselnya. Semua ini salah ayahnya, karena ayahnya dirinya harus kehilangan sosok ibunya. Semenjak hadirnya Clara dan ibunya, keluarganya menjadi hancur. Kini dia menyesal, kenapa darah pria itu mengalir dalam dirinya dan Serena sangat benci akan kenyataan itu. teringat adik tirinya itu, Serena mengepalkan tangannya kuat.
"Sepertinya, aku perlu memberi kejutan kecil untuk Clara. " ujar Serena tersenyum tipis, gadis itu tengah merencanakan sesuatu yang menarik.
Serena melihat jam di dinding, entah kenapa dirinya malas ke luar hanya sekedar makan malam. Dia lagi tidak ingin bertemu dengan Arsenio saat ini, meski sikapnya ini tidak benar.
"Maaf Arsen, aku harus tegas dan aku harap kamu bisa memikirkan ulang ucapanmu itu. " harapnya dalam hati. Dia menoleh ke samping, terlihat langit sudah gelap namun dirinya memilih diam, di temani dinginnya malam.
"Sebaiknya aku istirahat. " Serena menutup jendela kamarnya, lalu berbaring dengan nyaman di atas ranjang. Dia berharap besok akan seperti biasa dan rencananya berjalan lancar.
**
Kicauan burung serta silaunya cahaya mentari menandakan pagi telah tiba. Serena telah siap dengan tampilan elegannya, kemeja dengan bawahan celana berwarna hitam, sangat pas dan kontras dengan kulitnya yang putih. Serena ke luar dari kamar, berpapasan dengan Arsenio yang telah siap dengan setelan jasnya. Keduanya bersama sama menuruni anak tangga, menuju ke meja makan.
"Ini kartu identitasmu sudah selesai di buat. " ujar Arsen menyodorkan kartu nama Serena. Serena menerimanya, gadis itu menyimpannya dalam tas.
"Terimakasih. " Sikap Serena kembali dingin, Arsenio menghela nafas kasar. Selesai sarapan, Arsen langsung mengikuti Serena yang terlihat buru buru. Serena terkejut kala Arsenio mengenggam tangannya.
"Aku temani kamu. " ujarnya dengan santai.
Serena malas berdebat, gadis itu kini menganggukkan kepalanya. Mereka langsung masuk ke dalam mobil, Serena segera memasang seatbeltnya. "Aku ingin melihat pemotretan seseorang hari ini!
"Memangnya siapa dia? "
"Saudari tiriku. " jawab Serena singkat. Arsen mengangguk, pria itu menambah kecepatan mobilnya.
Serena turun dari mobil, bergegas mencari keberadaan Clara. Bruk tanpa sengaja gadis itu menabrak seseorang, seorang pria menatapnya dengan pandangan terpesona. "Maafkan saya nona, nona mencari siapa? "
"Hanya sekadar melihat pemotretan. "
"Perkenalkan aku Jeff Anderson, kalau kamu nona manis? "
"Velia Brynn. " Dengan wajah datarnya, Sabrina menatap pria yang mengajaknya berkenalan. Dari jauh Arsenio mengepalkan tangannya, pria itu segera menghampiri Serena.
Ehem
"Saya permisi dulu tuan Jeff. " ujar Serena dengan sopan. Arsenio dengan posesif melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Serena. Jeff menatap kepergian Serena dengan senyuman penuh arti.
Keduanya memilih duduk tak jauh dari tempat pemotretan, Serena mengamati apa yang di lakukan Clara dengan tatapan datarnya. Reva membisikkan sesuatu pada Clara, Clara meminta break dan bergegas menemui Arsenio. Fokusnya kini pada laki laki yang ada di sebelah Serena.
"Saya merasa sangat tersanjung tuan Arsen, tuan Arsen mau datang ke tempat
pemotretan, apa Anda ingin melihat saya. " ucap Clara dengan senyuman manisnya.
"Nope, aku ke sini bersama kekasihku. " Arsenio melirik Serena dengan pandangan memuja, Clara yang melihatnya langsung mengumpat dalam hati. Serena tersenyum miring, melihat Clara yang cemburu melihat Arsen bersamanya. Serena dengan sengaja nersandar di dada Arsen, posisi tubuh keduanya begitu dekat.
"Jadi Anda artis terkenal itu Nona Clara Adelia McKenzie. "
"Perkenalkan aku Velia Brynn, kekasih Arsenio Narendra Malik. " pungkas Serena dengan senyum culasnya.
Clara mengepalkan tangannya, dia tidak bisa mengalah di depan gadis yang mengaku kekaish Arsenio itu. Dia berusaha menahan amarahnya, lalu kembali menatap Arsen. Serena tersenyum sinis, melirik kearah Ckara dengan tatapan bencinya.
"Well Clara, ini baru permulaan. Aku akan merebut pria yang kau sukai yaitu Arsen, akan kubuat kau menderita sama sepertiku dulu. " batin Serena.
tbc