

"Ars please jangan ganggu aku. " gerutu Serena untuk kesekian kalinya pada sang suami. Ya Arsen sengaja tinggal, dia menyuruh sang asisten untuk mengurus perusahaan. Keduanya saat ini tengah berlibur, saat ini mereka berada di pantai, mereka duduk di sebuah ranjang yang Arsen siapkan, pria itu justru sibuk mengecupi leher wanitanya
Serena berbalik, menatap kesal suaminya yang tengah menatapnya penuh cinta. Diapun memilih berbaring begitu juga dengan Arsen. Tangan Arsen mengenggam erat tangan Serena, lalu membawanya ke atas dada bidangnya.
"Ars apa kau begitu menginginkan anak. " cetus Serena singkat.
"Tentu saja iya, aku ingin bisa memenuhi ngidam kamu saat kamu tengah hamil, tapi aku tak akan memaksamu lagi jika kau tak ingin. " Arsen membayangkan hal itu dengan sebuah senyuman. Serena memperhatikan lekat wajah bahagia sang suami.
"Ars, aku ingin bicara soal identitasku. " ujarnya tiba tiba.
"Hm aku sudah tahu. " Serena mendongakkan kepalanya, terkejut mendengar pengakuan sang suami. Arsenio nampak mengulum senyumnya, tangannya mencubit pipi sang istri dengan gemas. Tatapannya turun kearah dua gunung istrinya yang besar dan padat dari balik gaun seksi merahnya. Pria itu menurunkan dress sang istri, hingga terpampanglah buah kesukaannya.
"Eungh. " Serena mengusap kepala suaminya dengan lembut, dia tersenyum geli melihat suaminya yang rakus menyusu. Setelah beberapa saat, Arsenio menyudahi kegiatannya dan kembali menatap istrinya.
"Aku menginginkan dirimu sebesar aku mencintaimu sayang. " Serena tak menemukan kebohongan di kedua mata suaminya.
"Ayo ikut aku sayang. " Arsenio bangkit begitu juga Serena, mereka masuk ke mobil dan melesat jauh. Serena menoleh ke samping, memperhatikan suaminya yang fokus menyetir.
"Arsen, apa kamu enggak marah soal aku menyembunyikan identitasku!
"No, tapi kamu jangan pergi lagi dengan pria itu, aku tak suka. " jawab Arsen tanpa menolehkan kepalanya.
Pria?
Serena terlihat berfikir, tak lama dia paham siapa yang di maksud suaminya. Huh sebenarnya dia juga snagat malas harus berhadapan dengan pria bernama Jeff Anderson itu, tapi mau bagaimana lagi ini sudah masuk dalam rencananya.
lalu bagaimana jika Arsenio marah akan hal ini, Serena sangat pusing memikirkan kemungkinan yang belum tentu terjadi. Tanpa sadar Mobil telah berhenti, Arsenio menoleh dan memperhatikan istrinya yang tengah melamun.
"Sayang ayo kita turun. " suara bariton Arsen menyentak lamunan Serena. Wanita itu segera turun, memgamit lengan suaminya memasuki pusat perbelanjaan. Arsen mengajaknya ke toko pakaian wanita.
"Sayang, pilihlah 20 set lingerie dan bikini. "
"Apaa.. " Serena terkejut dengan pernyataan Arsenio barusan. Arsen tersenyum mesum kearahnya, membuat Seren kesal dan memilih menurutinya.
Dengan jahil Serena mengambil satu set lingerie yang berenda berwarna putih, lalu menunjukkan kearah Arsen. "Bagaimana menurutmu sayang lingerie ini. "
"Ah em. " Arsenio mengaruk tengkuknya yang tak gatal, wajahnya merah melihat lingerie yang di pegang sang istri.
"Lumayan. " jawabnya singkat.
Serena mencoba menahan tawa, melihat tingkah suaminya. Wanita itu kembali mengambil lingerie dan menunjukkan pada Arsenio. "Yang ini bagaimana. "
Lingerie berwarna merah, begitu menggoda dengan model menerawang. Pikiran Arsen seketika bertraveling, membayangkan istrinya memakainya. "Bagus. "
Dan tak puas Serena lagi lagi menguji ketahanan sang suami, Arsenio merutuki kenakalan istrinya yang membuatnya panas dingin saat ini. "Pilihlah sesukamu setelah itu kita bayar. " ketus Arsenio.
"Awas saja aku akan membalasmu sayang. " geram Arsen dengan mimik muka jengkelnya.
Rencana balas dendam Arsen tertunda, Archana datang ke rumah mereka. Ketiganya segera masuk ke dalam, Serena meminta suaminya membawa barang barangnya ke kamar mereka. Serena beralih memperhatikan sang adik ipar dengan lekat.
"Archa ada apa, muka kamu terlihat sedih?"
"Apa yang akan kakak lakukan jika kakak ditentang berhubungan dengan pria yang kakak sukai. " ucap Archana.
"Jika pria itu baik dan tak macam macam, kakak akan berjuang jika tidak ya tidak. "jawab Serena dengan raut herannya.
"Aku cuma bertanya kak. " Archana memaksakan senyumnya, Serena tak akan memaksa jika Archana belum ingin bercerita. Tak ingin larut dalam kesedihan, Archana bercerita tentang dirinya selama di Valencia pada sang ipar. Serena diam, mendengar celotehan adik iparnya tersebut.
"Wah bahas apa nih kayaknya seru. " Arsen datang, mengambil tepat di sisi sang istri. Raut wajan Archana berubah masam, Arsenio memaklumi sikap adiknya. Pelayan datang menyajikan minuman, camilan dan buah di atas meja setelah itu pergi.
"Dek, kakak minta maaf. " ucap Arsen dengan sungguh sungguh pada sang adik.
"Enggak perlu. " ketusnya sambil meminum jusnya.
Arsen menghela nafas kasar, melihat sikap ketus sang adik dia sangat yakin jika Archana masih marah padanya. Archana kembali menatap kakak iparnya dengan senyuman tipisnya. "Kak Veli, aku pulang dulu gerah nih. " pamitnya.
"Kamu enggak nginep aja Cha? "
"No kak, aku lagi kesal sama seseorang. " Archana secara tak langsung menyindir Arsenio hal itu di biarkan olehnya. Archana bangkit, melenggang pergi tanpa pamit pada Arsenio.
"Kenapa Archa bersikap ketus padamu Ar? " tanya Serena bingung.
"Archana menyukai seorang pria bernama Dewa namun aku menentangnya. Karena apa, pria itu seorang buronan polisi terlebih pengedar sekaligus penjual narkotika. " jelas Arsenio.
Serena terkejut mendengarnya, tak di sangka alasan suaminya melarang Archana berhubungan dengan pria bernama Dewa. Dia usap lengan sang suami, Serena tahu jika saat ini Arsen tengah menahn emosinya, selain itu dia melakukan ini demi kebaikan Archana sendiri.
"Kamu sabar ya, Archa masih labil dan kamu nasehati dia pelan pelan, selain itu jangan terlalu mengekangnya. " ujar Serena dengan lembut. Arsenio mengangguk, pria itu memberi kecupan di kening istrinya, lalu memeluknya dengan erat sambil menyuapi sang istri dengan potongan buah.
Serena PoV
Ternyata kamu pria yang penyayang dan bertanggung jawab Arsen, maafkan aku karena aku pernah menganggapmu sama seperti dia. Orang seharusnya di panggil ayah justru, membuat hidupku sengsara. Pria tua itu justru memilih keluarga barunya daripada puteri kandungnya sendiri. Mengingat masa lalunya, Serena hanya bisa tersenyum pelik.
Wanita itu memilih duduk di pangkuan suaminya, Arsen membiarkannya begitu saja. Dia usap rahang sang suami dengan lembut, wajah dengan pahatan sempurna di depannya adalah suaminya. Dia tak menyangka akan memiliki suami setampan Arsen. "Terimkasih malam itu kamu telah menolongku sayang. " ucap Serena.
"Karena malam itu, aku bisa memiliki istri secantik dan seseksi kamu. " balas Arsen mengedipkan mata nakal.
"Ish dasar. " Serena kembali memagut bibir suaminya, Arsen tak menyangka istrinya akan berinisiatif. Keduanya saling berpagutan mesra, setelah itu kembali memgobrol disertai candaan kecil.
tbc