
Sementara di perusahaan, Alkan tampak tak fokus mengikuti meeting dengan kliennya. Pria itu masih kepikiran istrinya, mengingat pertengkaran mereka kemarin membuatnya mendesah berat.
Pria itu memutuskan menghubungi istrinya, namun ternyata di tolak sang istri. Alkan menghembuskan nafas panjangnya, diapun menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
tring
Alkan kembali merogoh ponselnya, dan membaca pesan dari sang istri.
From Wife
Aku akan tinggal di rumah mama Zea sementara, kau boleh melakukan apapun di mansionmu, INGAT JANGAN MENJEMPUTKU!
Alkan hanya mampu mengumpat pelan, sepertinya istrinya itu sangat marah hingga memilih menghindarinya. Dia kembali menghubungi istrinya namun nomornya justru tak bisa di hubungi sekarang. Pria itupun mengakhiri pertemuan mereka kali ini dengan klien, Alkan langsung bangkit dan ke luar begitu saja.
"Aku harus berbicara dengan Archana dan menyelesaikan masalah kami. " gumam Alkan. Dengan kecepatan penuh, Alkan mengemudikan mobilnya menuju kediaman mertuanya.
Sampai di kediaman mertuanya pria itu langsung turun dan masuk ke dalam. Mommy Zea menyambut kedatangan menantunya itu dengan senyuman hangatnya. Archana hanya diam melihat kedatangan suaminya itu, tak ada sambutan ceria seperti biasanya.
"Sayang ini suamimu datang, kamu gak menyapanya nak? " tanya Mommy Zea pada sang anak. Archana hanya diam tak mengatakan apapun, Mommy Zea sekarang paham jika anak dan menantunya tengah perang dingin saat ini.
"Mommy ke dapur dulu ya sayang!
"Jangan lama lama mom, aku nggak nyaman sendirian di sini. " gumam Archana menatap lekat wajah sang mommy. Mommy hanya mengangguk dan berlalu pergi dari sana. Suasana tampak dingin, keduanya sama sama egois. Alkan menghela nafas kasar melihat sikap diam istrinya, pria itu terus memperhatikan wanitanya.
"Ada perlu apa? " tanya Archana dengan nada dinginnya.
"Kita harus menyelesaikan masalah kita
Cha. " ungkap Alkan pada istrinya.
"Bukankah kamu lebih percaya orang lain, lalu buat apa kita bicara masalah kemarin. " sahut Archana setengah menyindir suaminya.
Alkan mengusap wajahnya kasar, dia merasa istrinya benar benar egois kali ini. "Bisa gak sih kamu enggak kekanakan seperti ini Cha, aku tahu aku salah akan sikapku kemarin. Kamu adalah seorang ibu sekarang harusnya kamu bersikap dewasa, kamu sangat berbeda dengan.." ujar Alkan.
Hati Archana seakan mendidih mendengar pernyataan suaminya. Wanita hamil itu diam diam mengepalkan tangannya. "Kau mau membandingkan aku dengan mendiang istrimu itu, begitu hah! Alkan tersentak kaget akan bentakan istrinya, terlihat wanita itu begitu marah.
"Ya aku kekanakan, egois dan wanita murahan lalu apalagi? sengit Archana dengan tatapan datarnya.
"Kalau tak tahan dengan sikapku, ceraikan saja aku. " tantang Archana pada sang suami. Alkan membulatkan kedua matanya mendengar ucapan istrinya. Pria itu langsung membentak istrinya agar tak berbicara sembarangan.
"Mommy. " teriak Archana. Mommy Zea segera kembali setelah mendengar teriakan putrinya. wanita hamil itu meminta sang ibu untuk mengusir Alkan dari kediaman mereka. Wanita paruh baya itu berusaha menenangkan sang anak yang terbawa emosinya.
"Alkan sebaiknya kamu pulanglah, biarkan Archana di sini untuk sementara waktu. Lagipula bagaimana bisa kamu lebih mempercayai orang lain daripada istrimu sendiri nak. " ujar Mommy yang tampak kecewa akan sikap menantunya, Archana baru saja mengatakan permasalahannya dengan Alkan pada sang ibu.
"Aku pulang dulu mom. " Alkan menatap sang mertua dengan senyuman tipisnya. Pria itu beralih menatap istrinya namun Archana memalingkan wajahnya kearah lain. Alkanpun melangkah gontai ke luar dari kediaman mertuanya dengan tangan kosong.
"Sudah sayang jangan marah marah terus, suamimu sudah pergi. " Mommy Zea mengusap punggung bergetar putrinya. Archana menghela nafas kasar, memilih diam tanpa mengatakan apapun.
"Kamu yakin kamu gak mau pulang nak, bagaimana dengan Valen nanti saat tahu jika bundanya tak ada di rumah. " bujuk Mommy Zea perlahan.
"Cukup mom, please jangan bujuk aku. masih ada ayahnya yang akan menjaga Valen. " tegas Archana dengan nada kesal bercampur menahan amarahnya. Archana bangkit, pergi meninggalkan sang ibu sendirian. Wanita hamil itu hanya dia saat sang Daddy bertanya padanya. Daddy Shaka langsung menemui sang istri, menanyakan sikap putri mereka itu.
Mommy Zea tentu saja mengatakan permasalahan putrinya pada sang suami. Daddy Arshaka menghela nafas pelan, memberi nasehat pada sang istri agar membiarkan putri mereka itu tenang lebih dulu.
"Tapi setidaknya jangan membenci Valen, Dad. Cucu cantik kita itu tak salah apa apa, kenapa Archa ikut marah dengannya. " keluh mommy Zea yang kecewa akan sikap egois putrinya. Kini mommy tengah berbicara dengan si kecil Valen lewat video call, gadis cilik itu menanyakan keberadaan sang bunda.
Archana kini berbaring di atas ranjang setelah membersihkan diri. Ada rasa bersalah dalam dirinya mengabaikan panggilan dari putri sambungnya tadi. Wanita hamil itu termenung sambil mengusap perut buncitnya dengan lembut. "Maafin mommy sayang, mommy justru melampiaskan kemarahan mommy pada kakak kamu. "
Sementara Alkan tiba di kediamannya, pria itu berjalan gontai menuju ke ruang tengah. Ternyata orang tuanya datang bersama si kecil Valen, putrinya. Valen langsung berlari menghampiri sang Daddy tercinta. "Daddy, Daddy tadi Valen mencoba menghubungi nomor bunda tapi tak di jawab padahal Valen kangen sama bunda. " keluh bocah manis itu.
Alkan tersenyum getir mendengarnya, karena dirinya sang putri justru terkena imbas permasalahannya dengan Archana. Pria itu langsung memeluk sang anak dengan erat, sementara orang tuanya menatapnya curiga.
"Al, lalu di mana istri kamu nak? " tanya Mama pada putranya itu.
"Sayang kamu lanjut mainnya ya, Daddy mau ngobrol sama oma dan opa. " Valen mengangguk, berjalan meninggalkan sang Daddy. Alkan menghela nafas panjang, menjelaskan semuanya pada kedua orang tuanya.
Mama langsung bangkit, raut wajah wanita itu tampak marah mendengar pengakuan putranya. Plak dia menampar pipi sang anak, Mama tampak kecewa akan sikap putranya itu.
"Kamu bodoh Alkan, bagaimana bisa kamu tak mempercayai istri kamu sendiri. Terlebih kamu justru membandingkannya dengan mendiang istri pertamamu, kau tak punya perasaan sama sekali Alkan. " geram Mama dengan kesal sekaligus marah.
"Iya ma, aku mengaku salah. Karena kesalahanku ini Archana marah dan benci hingga meminta bercerai dariku. " gumamnya dengan lirih. Alkan hanya mampu merutuki kebodohannya, dia tak ingin kehilangan wanita yang di cintainya itu.
Papa mendesah kasar, diapun cukup kecewa dengan sikap sang putra namun papa memilih diam. Mama memberi nasehat padanya sambil memaki putranya itu, Alkan hanya pasrah dengan ucapan sang ibu.
"Berdoa saja semoga istrimu segera memaafkan kamu nantinya jika tidak bersiaplah menjadi duda untuk kedua
kalinya. " ujar Mama dengan ketus. Alkan menggeleng, pria itu tak ingin kehilangan istri dan calon anaknya.
"Berjuanglah Al, berjuanglah mendapatkan maaf dari istrimu dan jika kamu gagal kau harus merelakannya. Mungkin saja Archa memang bukan jodoh kamu jika dia tak memaafkanmu nak. "
Alkan hanya diam, pria itu mengusap wajahnya kasar. Dia benar benar menyesali kebodohannya dan semuanya terlambat, masalah mereka menjadi runyam seperti ini.