
LIKE, VOTE DAN KOMEN
Setelah kepergian paman Alvaro dan bibi Arshilla, Serena segera mengotak atik ponselnya. Dia mendapati informasi jika ayahnya tengah sakit sekarang ini, Serena teringat dengan perlakuan papanya dulu padanya.
"Haruskah aku datang menjenguknya!
Drt drt
Archana
Kakak ipar tolong aku, kak Arsen memarahiku!
Serena langsung bergegas masuk ke dalam taksi yang langsung melesat kencang, dia tidak jadi menjenguk papanya. turun dari taksi, diapun menghampiri Arsen yang berada di luar pusat perbelanjaan. "Ar hentikan ini di tempat
umum, berhenti memarahi Archana. "
"Tapi Yank, Archa nekat bertemu Dewa, di temani pria tua itu. " ujarnya sambil menunjuk Juna mendapat delikan tajam pria itu. Archana menahan tawanya, dia melirik kearah Juna sekilas yang juga menatap dirinya.
"Sebaiknya kita cari tempat untuk mengobrol, dan kamu Arsen jangan marah marah terus sama Archana! Arsen menghela nafas panjang, masuk ke mobil masing masing dan pergi dari sana.
."Masih marah sama kakakmu sweety? " tanya Juna lembut pada gadis di sampingnya. Archana mengangguk singkat, dia sangat sebal pada tingkah protektif Arsen padanya. Pria itu tersenyum geli melihat tingkah merajuk dari gadisnya.
"Ah gadisnya, " Juna segera menepis pikirannya sendiri, dia tak mungkin menyukai Archana bukan!
Kini mereka berada di mansion milik Juna, dia meminta pelayan menyiapkan makanan dan minuman untuk tamunya. Arsen beralih menatap adiknya dengan sorot lembutnya. "Maafkan kakak ya Cha, kamu pasti kurang nyaman dengan sikap kakak, tapi kakak lakuin ini agar kamu tidak salah pilih pria. " sesal Arsen dengan nada lembut namun tegas.
"Iya Kak!
"Oh ya kenapa kamu bisa mengenal Juna? " tanya Arsen begitu penasaran.
"Om Juna itu omnya Karina, sahabat aku kak. " jawab Archana dengan jujur.
"Ternyata omnya temen kamu tampan juga ya Cha. " timpal Serena yang mendapat pelototan dari suaminya.
"Sayang." rengek Arsen yang mendekap tubuh sang istri, pria itu kini tengah cemburu. Istrinya dengan berani memuji ketampanan pria lain di depannya. Serena terkekeh, dia usap kepala sang suami dengan lembut, kemudian di kecupnya bibir Arsen sekilas.
"Oh tidak, mata suciku ternodai. " cebik Archana melihat kemesraan kakak dan iparnya. Juna tersenyum geli, benar benar gemas akan tingkah laku Archana. Arsen menoleh, mengejek kearah adik tersayangnya itu.
Arsenio mengalihkan perhatiannya, menatap Archa dan Juna secara bergantian dengan tatapan penuh selidik. "Apa kalian punya hubungan, atau lebih jelasnya kalian
pacaran? "
Archa tampak salah tingkah mendengar tuduhan sang kakak. "Iya kak, aku dan Om Juna sudah jadian!
Juna terkejut mendengarnya, dia hendak melayangkan protes namun Archana mengenggam erat tangannya. Arsen terperangah, menatap lekat wajah adiknya kemudian mendesah kasar. Serena mengusap lengan sang suami agar tenang.
"Kak dan kakak ipar pulang aja dulu, aku ingin bicara sama om Juna, aku janji kami tidak akan melewati batas dalam berpacaran kak!
"Baiklah, kakak percaya tapi tidak dengan.. " Arsen melirik kearah Arjuna, lalu bangkit dan mengajak istrinya pergi. Setelah kepergian kakaknya, Archa menghembuskan nafas lega dan beralih pada Juna, menjelaskan niatnya tersebut padanya.
"Huft baiklah aku akan membantumu!
"Mungkin ini kesempatan untukku mengenalmu lebih jauh Archa. " batin Arjuna.
"Terimakasih om Juna. " Archana memekik kegirangan, gadis itu merapatkan tubuhnya kemudian mencium singkat pipi Juna. Juna sempat terkejut, seringai terbit di sudut bibirnya.
Om Juna menciumnya, astaga! sumpah demi apa?
Juna mengakhiri ciumannya, dia merutuki dirinya yang tak bisa mengontrol dirinya. Dia usap bibir Archana yang basah, sentuhan Juna di bibirnya membuat jantung gadis itu berdebar lebih kencang. Archana akui berada di sisi Juna sangatlah nyaman dan aman, dia juga terpesona akan ketampanan yang di miliki Arjuna.
"Maafkan om Cha, om tak bisa mengontrol diri om jika di dekatmu!
Archana menyusupkan wajahnya di dada bidang Juna, pria itu mendekapnya dengan hangat. Gadis itu menegapkan kepalanya, menatap lekat wajah tampan Arjuna. "Sweety, aku punya sesuatu untuk kamu. "
Juna melepaskan pelukannya, mengambil sesuatu dari dalam saku. Sebuah kalung berlian yang begitu cantik di genggam Arjuna, Archa tampak terkejut melihatnya. "Biar aku pasangkan untuk kamu sweety!
Kalung cantik itu telah melingkar di leher Archana. Juna kembali menciumnya, lalu memeluknya seperti semula. "Kamu suka dengan kalungnya Archa, itu inisial nama kita berdua sengaja aku pesan untuk kamu!
"Aku menyukainya om, terimakasih! Archana tersenyum manis padanya, jantung Juna seakan melompat lompat melihat senyuman Archana. Juna menghela nafas panjang, dirinya merasa gila sekarang, menginginkan Archana sebagai miliknya.
Archana melepaskan pelukannya, bersandar di sofa sambil menatap sekeliling mencari sosok Karina sahabatnya. "Karina mana sih om, kok enggak nongol dia!
"Karina pergi bareng Ares pacarnya!
kruyuk!
"Kamu lapar sweety! .
Archa mengangguk, Juna segera bangkit dan bergegas pergi ke dapur. Tak lama pria itu kembali, menaruh makanannya di meja. Archana meneteskan air liurnya, memakan spaghetti buatan Juna dengan lahap. Juna tersenyum kecil melihatnya, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
drt drt
Juna merogoh ponselnya, terdiam setelah melihat siapa yang menghubunginya saat ini. Dia bangkit, beranjak dari tempat dan menjauhi Arclahap. Archana memperhatikannya dengan sorot mata kebingungan, melanjutkan makannya hingga habis.
"Sudahkah kau mencari calon istri yang artinya kelak akan menjadi cucu menantuku!
"Ayolah kakek, kakek sudah mengatakan hal ini ratusan kali, aku bosan mendengarnya. " geram Arjuna dengan nada emosi tertahan. Terdengar suara helaan nafas berat di ujung sana,Juna tahu kalau kakeknya tengah kecewa saat ini.
"Tapi aku lihat kau sedang dekat dengan seorang gadis muda nak. " ujar kakek keceplosan.
"Jadi kakek memata mataiku!
"Tidak. " elak kakek. Arjuna mendengus s, ebal, dia sangat yakin jika kakeknya menyuruh bodyguard untuk menata matai dirinya tanpa sepengetahuannya.
"Cepat perkenalkan dia pada orang tuamu dan kakek, kakek penasaran dengan gadis itu Juna!
"Hm. " Juna memutus sambungannya, berbalik dan melangkah menghampiri Archa yang kini telah berada di ruang tamu. Archana menoleh kearahnya, memperhatikan wajah kesal Arjuna.
"Memangnya siapa yang telepon om, kayaknya om Juna terlihat kesal? "
"Kakekku yang telepon sweety, beliau ingin bertemu dengan kamu. " ujarnya tanpa basa basi. Archana semakin bingung, diapun meminta Juna untuk menjelaskan, pria itu berbicara panjang lebar. Archana benar benar syok, lantas dia kembali menatap kearah Juna yang tengah memperhatikan dirinya.
"Kamu mau ya ikut aku bertemu kakek Cha!!
"Tapi aku.. "
"Baiklah aku setuju. " Archana menghela nafas, Juna terlihat senang melihat Archa yang setuju. Dengan seperti ini kakek tak akan bertanya lagi setelah beliau bertemu Archana nantinya.
tbc