
"Turunkan aku. " pekik Kavia kesal namun lagi lagi diabaikan pria yang mengendongnya. Dara hanya bisa mengumpati kelakuan Edgar yang seenaknya, dia bingung akan sikapnya yang berubah ubah. Seperti seorang kekasih yang tengah cemburu, namun nyatanya mereka tak punya hubungan.
Edgar menurunkan Kavia, lalu mendorongnya masuk ke dalam mobil, namun gadis itu segera menepisnya sebagai bentuk penolakan. Kevia menatap tajam kearah Edgar yang kini menatapnya dengan raut dingin. "Sebenarnya apa maumu tuan Arkana Edgar Anderson, kenapa kau membawaku ke luar dari pesta. " geram Kevia kesal.
"Aku tidak suka kau berpelukan dengan pria tadi. " sahut Edgar dengan tatapan sulit di artikan. Kavia tercengang mendengarnya, namun apapun itu alasannya diapun menganggapnya tak masuk akal.
"Terserah aku Tuan Arkana, aku mau berpelukan dengan siapa, itu bukan urusanmu dan dengar jangan menggangguku lagi. " tegas Kevia sambil menunjuk Edgar dengan raut kemarahan. Kavia berlalu pergi, gadis itu benar benar kesal dengan sikap Edgar yang seenaknya saja.
"Apa kau bersikap jual mahal, agar aku mengejar kamu. " ujar Edgar sedikit mengeraskan suaranya. Kavia sempat terhenti mendengarnya, gadis itu mendengus sebal dan melangkah pergi tanpa menoleh ke belakang.
Edgar mengikutinya menggunakan mobil, pria itu memperhatikan Kavia yang terus menggerutu sepanjang jalan.
"Ya Tuhan, bagaimana bisa aku sempat menyukai pria dingin yang dinginnya mengalahkan kutub Utara dan selatan serta menyebalkan itu. " ucapnya sambil bersungut sungut.
Edgar menepikan mobilnya di depan Kevia, pria itu turun dan menggendong gadis itu lalu di masukkan dalam mobil. Mobil Lamborghini melesat jauh, Edgar mengabaikan Kavia yang sedari tadi berteriak. Merasa lelah Kavia akhirnya diam dengan sendirinya, menatap ke luar jalanan.
Edgar membawa Kavia ke salah satu penthousenya, Kavia hanya diam mengikutinya hingga ke dalam. "Di kamar atas ada pakaian, gantilah pakaianmu segera. "
Kavia hanya mengangguk, gadis itu segera meninggalkannya. Di dalam kamar dia tercengang, melihat berbagai model gaun seksi yang berada di dalam lemari. "Cih dasar pria mesum. " gerutunya sambil mengambil salah satu dress lalu di pakainya. Setelah selesai dia segera ke luar, menemui Edgar di ruang tamu namun dia tak menemukannya.
"Ke mana dia? "
Kaviapun memutuskan pergi ke teras, terlihat Edgar tengah berenang di kolam renang.
"Kemarilah sweety. " pinta Edgar. Kavia menelan salivanya, melihat perut kotak kotak milik calon suaminya yang menggoda matanya. Gadis itu duduk di tepi kolam, Edgar segera mengungkungnya menatap lekat wajah gadis itu, membuat Kavia gugup. Tanpa di sadari ya tangan Edgar melepaskan dress yang dia pakai, hingga Kavia hanya menggunakan pakaian dalam. Kavia yang menyadarinya segera menutupi tubuhnya dengan tangan, Edgar menyingkirkan tangannya. Pria itu menciumi dua gundukan Kavia yang masih terbalut pembungkusnya.
"Bolehkah aku menyesapnya sweety? " tanya Edgar.
Kavia mengangguk kecil, Edgar tersenyum dan langsung melepas pembungkus buah persik Kavia yang cukup lumayan. Pria itu menelan salivanya, melihat pemandangan indah di depan matanya saat ini.
Kavia menahan desahannya kala Edgar memainkan dua gundukannya, menyesapnya rakus seperti bayi. Gadis itu menghela nafas panjang, mengusap lembut kepala pria yang masih dia cintai sampai saat ini. Edgar melepasnya sebentar, naik ke atas dan duduk sambil memangku gadisnya.
"Kau masih marah padaku? " tanya Edgar dengan lembut.
"Tidak, hanya saja kenapa orang tuaku begitu tega menjualku padamu Ed. " gumam Kavia dengan lirih.
"Kavia. " geram Edgar yang tak menyukai pernyataan Kavia barusan. Pria itu mencium bibir gadisnya sekilas, menyatukan kening mereka.
"Aku tak suka mendengarnya sayang, maaf atas sikapku selama ini padamu. " sesal Edgar pada kekasihnya.
"Aku tak apa Edgar. "
"Mulai sekarang, jangan ragu padaku. Aku akan membantumu mulai sekarang. " tegas Edgar dengan wajah seriusnya. Kavia terkejut mendengarnya, gadis itu mengusap wajah Edgar hingga turun ke rahang pria itu, diberinya sebuah ciuman di sana.
"Mulai berani ya sekarang. " goda Edgar melihat rona merah di pipi gadisnya. Kavia merasa malu dengan tindakannya barusan. Dia mengalungkan tangannya ke leher Edgar, keduanya masih dalam posisi intim.
"Aku tak akan menyentuhmu sebelum menikah sayang, walaupun aku menginginkannya saat ini. " gumam Edgar dengan tatapan penuh gairah.
"Kau bisa menyewa wanita malam untuk melayani kamu Edgar!
Edgar hanya meliriknya tajam, Kavia tersenyum kecil melihatnya. "Baiklah ayo bawa aku ke dalam, aku mulai kedinginan Ed. " ujar Kavia sambil tersenyum. Edgar mendengus sebal, pria itu mengangkat tubuh kekasihnya, lalu di bawanya ke dalam dan mereka segera bergegas berganti pakaian.
Selesai berganti pakaian, Kavia mengambil ponselnya dan melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari Serena dan juga Raffa. Kaviapun terpaksa membalas pesan dari Raffa, tak ingin pria itu mencemaskan dirinya.
Tring
Raffa
Via, kamu sekarang berada di mana, biar aku jemput kamu?
Kavia
Aku di rumah calon suamiku Raf!
Kavia tidak ingin memberikan harapan palsu pada Raffa, selain itu dirinya tak ingin membuat masalah hingga Edgar marah besar. Gadis itu menghembuskan nafas panjang, perubahan sikap Edgar padanya masih membuatnya terkejut dan belum terbiasa.
Kavia menyimpan ponselnya, ke luar dari kamar dan menuruni tangga di susul Edgar. Grep, Kavia terkejut saat Edgar tiba tiba merangkulnya dan membawanya ke ruang tamu. Pria itu menyuruh pelayan membawakan camilan untuk mereka. "Ed, bisakah kau mengantarkanku pulang ke rumah orang tuaku. "
"Kenapa tiba tiba, apa kau tak nyaman di sini? " cecar Edgar.
"Tidak Ed, hanya saja aku ingin berbicara pada kedua orang tuaku. " elak Kavia sambil tersenyum.
"Nanti saja sayang, sebaiknya kita bersantai dan menghabiskan waktu berdua. " jawab Edgar dengan santai.
"Tapi aku ingin pulang sekarang Edgar. " tegas Kavia dengan sorot mata tajamnya. Edgar menghela nafas panjang, memilih mengalah menuruti keinginan calon istrinya. Keduanya ke luar dari penthouse, melajukan mobilnya kencang menuju ke rumah orang tua Kavia.
Setelah sampai Kavia buru buru turun, bergegas masuk ke dalam di susul Edgar. Gadis itu menemui orang tuanya di ruang tamu dengan sorot tak terbaca. "Sayang kamu pulang kok enggak kasih kabar mami sayang? " tanya Mami Tiara pada puterinya.
"Kenapa Papi dan Mami menjual Kavia pada Edgar Mi, apa kalian tak sayang sama Kavia!
Pertanyaan Kavia membuat kedua orang tuanya terkejut termasuk Edgar, pria itu terlihat mengepalkan kedua tangannya. Mami meraih tangan puterinya namun Kavia menepisnya dengan halus, wanita paruh baya itu menatap sedih anaknya. "Sayang maafin papi, papi dan mami tak bermaksud untuk itu, kamu kesayangan kami. " sahut Papi Sakti. Papi Sakti menjelaskan segalanya pada sang Puteri, kaviapun terdiam tanpa berkata apapun pada mereka.
"Dengar Mami, Papi aku bukan barang yang seenaknya kalian bisa tukar dengan uang, aku tak masalah jika kita hidup dalam kekurangan uang. " geram Kavia pada orang tuanya.
Kavia bangkit, pergi dari sana dan menuju ke kamarnya tanpa menyahut panggilan maminya. Edgar menatap kepergian sang kekasih dengan tatapan nanarnya.
"Sebenarnya kau belum menerima aku seutuhnya sayang, apa kau memiliki pria lain dalam hatimu. " batin Edgar.
"Nak Edgar, maafin sikap Kavia tadi ya nak!
"Iya Tante, tak apa! Edgar tersenyum tipis pada kedua calon mertuanya tersebut.
tbc