Terjerat Cinta Sang Casanova

Terjerat Cinta Sang Casanova
Malam Kelam



Archana tampak anggun mengenakan gaun berwarna putih itu. Dia berjalan pelan menghampiri Alkan yang telah menunggunya. "Maaf, membuat Tuan menunggu lama!


"Ayo berangkat sekarang! Mereka ke luar, selama perjalanan Archana mencoba menghilangkan rasa gugupnya. Pesta itu di adakan di hotel bintang lima, letaknya cukup jauh dari hotel tempat Alkan dan Archa menginap.


Archana menggandeng tangan Alkan, memasuki hotel dan segera menemui kolega Alkan. Tuan Robert dan istrinya menyambut kedatangannya, Alkan memberikan selamat pada pria itu.


"Semoga kerja sama kita berjalan sukses Tuan Robert. " ujar Alkan.


"Anda benar Tuan, Dan apakah wanita cantik ini istri Anda Tuan Alkan? " tanya Tuan Robert. Archana dan Alkan saling melirik satu sama lain, gadis itu terkejut saat mendengar perkataan Alkan.


"Kenalkan ini Archana, calon istri saya Tuan. " ungkap Alkan. Archana segera menyapa Tuan Robert dan Istrinya. Sedangkan Nyonya Robert tengah menghubungi seseorang, Archana yang melihatnya hanya diam. Tak lama seorang pria dan wanita datang menemui mereka. Archana terkejut melihat sosok mantan kekasihnya, Arjuna juga terkejut.


"Perkenalkan ini Angela, keponakan saya dengan Arjuna calon suaminya. " ujar Tuan Robert.


"Angel, Arjuna kenalkan ini Tuan Alkan bersama calon istrinya. Arjuna langsung menatap tajam kearah Archana, Archana hanya diam menatapnya. Archana memalingkan wajahnya, masih terasa sesak setiap kali melihat Arjuna bersama wanita lain.


Angela tersenyum licik, gadis itu pergi dari sana. Tak lama dia kembali, mengajak Juna menikmati pestanya. Alkan menatap Archa dengan heran, mengajaknya pergi ke sudut ruangan. Keduanya mengambil minuman yang di bawa oleh pelayan.


Gluk


"Bisakah kita pergi Tuan, tiba tiba kepala saya pusing dan tubuh saya panas. " bisik Archana. Alkan mengangguk, keduanya meninggalkan pesta. Angel mengawasi keduanya dan tersenyum sinis.


"****. " Alkan merasakan sekujur tubuhnya panas, dia tahu penyebabnya. Hal yang sama di rasakan oleh Archana, mereka masuk ke dalam hotel dan masuk ke kamar mandi. Gadis itu ke luar dan segera menemui Akan, dia berada di bawah pengaruh obat.


"Tuan, tolong saya tubuh saya panas. " racau Archana berusaha melepas gaunnya. Alkan yang berusaha menjaga kesadarannya segera menahannya,namun lambat laun pria itu kalah dengan gairahnya sendiri. Dia langsung membopong Archana menuju ke ranjang. Malam itu keduanya tanpa sadar melakukan penyatuan


Skip



"Eungh. " Archana membuka matanya, menatap sekelilingnya. Fokusnya pada lengan yang memeluknya,gadis itu terkejut dan menoleh.


"Aaah. " teriaknya membuat Alkan terbangun, gadis itu menangis mengingat kejadian semalam. Alkan mengusap wajahnya kasar, segera mendekap tubuh polos Archana.


"Maafkan Aku Archana, aku merebut hal berharga kamu. Aku akan bertanggung jawab padamu sweetie! Archana hanya diam, dia menangis dalam dekapan Alkan. Alkan juga terkejut, dengan keadaan mereka sekarang keduanya tak bisa berbuat apa apa, namun dia tetap akan bertanggung jawab pada Archana.


"Tuan, ini salah. Kenapa kita melakukan hal ini. " racaunya sambil menangis sesegukan.


Alkan berusaha menenangkan Archana, mengatakan semuanya akan baik baik saja. Tapi bagaimana bisa di minuman mereka ada obat sialan itu pikirnya. Dia menghela nafas berat, di satu sisi dirinya senang karena Archana masih suci dan dialah yang pertama mengambilnya namun di sisi lain dia begitu kejam pada gadis dalam pelukan nya saat ini.


Alkan Membopong Archana ke kamar mandi, keduanya hanya mandi setelah itu kembali memakai pakaian mereka semalam. Cklek saat keduanya ke luar, Angel dan Arjuna berdiri di depan mereka. "Kau lihat bukan, bagaimana kelakuan mantan kekasih kamu Juna!


Juna menatap kecewa kearah Archana, dia melihat tanda merah di leher gadis itu membuatnya meradang. "Apa yang kau lakukan di dalam bersama pria ini Archana!


"Apa segitu murahan dirimu hingga menyerahkannya pada pria asing Archana. " geram Arjuna. Archana menundukkan kepalanya, hatinya sangat sakit melihat pria yang dia cintai menyebutnya murahan.


"Tutup mulutmu brensek. " umpat Alkan yang terbawa emosi, merasa tidak terima atas penghinaan yang dilakukan Juna pada Archana. Alkan segera membawa Archana pergi dari sana, Arjuna mengumpat kesal sekaligus marah menatap kepergian Archana. Angela tersenyum puas melihat Archana yang di maki oleh Arjuna.


"Tinggal rencana selanjutnya!


Alkan melajukan roda empatnya kencang menuju hotel tempatnya menginap. Tiba di sana Archana segera turun dan lari, Alkan segera mengejarnya.


Alkan menyusulnya ke dalam kamar mandi, dia membiarkan tubuhnya di guyur air. Pria itu mendekapnya erat, membiarkan gadis itu memukuli tubuhnya. Setelah tenang Alkan membalik tubuhnya, mereka berciuman di bawah guyuran air. Pria itu membopongnya ke luar, segera mengganti pakaian mereka.


Alkan dan Archana berbaring di ranjang, tubuh mereka saling bersentuhan. Keduanya baru saja kembali menyatu, melampiaskan emosi mereka. Archana bersandar di dada Alkan, menikmati pelukan sang duda. "Mas Al bisakah kita melupakan semua yang terjadi gumam Archana frustrasi.


"Apa kau gila hah. " bentak Alkan emosi. Tubuh Archana bergetar, Alkan menghela nafas berat kembali memeluknya. Alkan menciumi kening Archana, gadis itu terdiam menikmati kecupan Alkan di keningnya. Archana mengangkat wajahnya, Alkan langsung menciumnya sekilas.


"Kita hadapi ini bersama sama, aku akan memberitahu Valen tentang kita!


"Tapi.. "


"Gak ada tapi tapian Sweetie, kau calon istriku sekaligus calon ibu dari Valen dan anak anak kita nanti!


Archana kembali murung, terngiang ucapan Arjuna yang begitu menyakitinya. Ingin sekali dirinya berteriak dan marah pada pria itu, jika tuduhannya tidaklah benar. Archana melepas lengan Alkan lalu turun, sambil menahan perih memunguti pakaiannya dan segera mandi.


Selesai bersih bersih, Archana menyuruh Alkan membersihkan dirinya. Wanita itu memilih ke luar, mencari udara segar. Dia berusaha menghubungi nomor Arjuna namun tak aktif. "Apa aku begitu menjijikkan hingga kamu tak mau mengangkat telepon dariku mas. " gumam Archana lirih.


"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan sekarang, bukan ini yang aku inginkan. " Archana kembali menangis sesegukan, tanpa sadar Alkan mendengar semua ucapannya.


"Ayo aku antar kamu ke rumah sepupumu. " sela Alkan dengan wajah datarnya. Archana dengan cepat menghapus air matanya, mengekori Alkan dari belakang. Selama perjalanan tak ada yang berbicara, Archana justru tenggelam dalam kesedihannya.


Mobil Alkan berhenti, Archana buru buru turun tanpa mempedulikan Alkan. Gadis itu berlari masuk ke dalam, menemui Kevia sambil menahan tangisannya. "Cha, akhirnya kamu pulang juga kemarin kamu ke mana saja. " ucap Kevia dengan nada khawatirnya.


Kevia mengajaknya duduk, mengusap punggung sepupunya itu dengan lembut. "Kemarin aku kecopetan Via, makanya aku gak bisa hubungi kamu. " jawab Archana dengan lirih.


"Oh My, tapi kamu gak papa 'kan? "cecarnya lagi.


"Iya. " gumam Archana miris mengingat kenyataan pahit yang dia alami. Kevia merasa ada yang di sembunyikan oleh Archana, namun dia tak akan memaksanya. Dia membiarkan Archana lebih tenang dulu, Archana menyesap teh yang di bawa oleh maid.


Archana tengah dalam dilema saat ini, haruskah dia berkata jujur pada Kevia atau tidak? Tapi dia belum siap untuk mengatakan kejadian itu, gadis itu hanya bisa menghela nafas panjang. "Kalau kamu belum siap cerita gak papa, jangan di paksakan Cha!


"Makasih Via, atas pengertian kamu. " desahnya berat seperti memikul banyak beban dalam pikirannya. Kevia mengangguk, mengusap perut buncitnya dengan lembut.


TBC