
Dua bulan berlalu keluarga kecil Alkan tampak bahagia, Archana menikmati masa masa kehamilannya dengan santai meski ini kehamilan pertamanya. Alkan begitu posesif dan memanjakannya begitu juga putri sambungnya Valentina.
"Bunda. " Valen datang membawakan buah untuk sang bunda tercinta. Archana tersenyum hangat menyambut kehadiran putri kecilnya itu.
"Valen mau nyuapin bunda, ayo bunda buka mulutnya. " Archana menurut, menerima suapan buah dari tangan mungil putri cantiknya. Wanita itu merasa istimewa akan perlakuan Valen padanya.
Selesai menyuapi sang bunda, Valen kini duduk di sebelahnya. Archana mengusap kepala putrinya lalu di akhiri kecupan manis di dahi gadis cilik itu. Dia begitu menyayangi Valen sepenuh hatinya, kehadiran Valen dalam hidupnya membawa perubahan besar dalam hidupnya.
"Halo dua cintanya daddy. " keduanya menoleh, Alkan datang dan bergabung bersama dua wanita kesayangannya. Pria itu duduk di dekat istrinya, melabuhkan ciuman di bibir Archana. Valen hanya menggeleng melihat tingkah daddynya barusan. Archana bersandar nyaman di dada sang suami, menikmati usapan suaminya di atas perut bulatnya.
"Maaf tuan, nyonya di luar ada nyonya Arini datang. "
"Suruh dia masuk Bi. " ujar Archana pada sang pelayan. Setelah pelayan pergi, dia justru termenung dan bertanya tanya. Alkan mengusap perut sang istri dengan lembut, paham akan perasaan istrinya saat ini.
"Biar aku saja yang menemuinya sayang!
"Nggak mas, biar aku saja. " Archana berusaha meyakinkan suaminya itu, Alkan pun mengangguk tak rela. Wanita hamil itu menciumnya sekilas lalu bangkit dan di bantu sang suami. Alkan menatap kepergian istrinya dengan raut khawatir.
Archana hanya tak ingin suaminya terbawa emosi bertatap muka dengan nyonya Arini. Dengan hati hati wanita itu mendudukkan dirinya di sofa, menatap lekat wanita paruh baya di depannya saat ini. "Bagaimana kabar tante saat ini? " tanya Archana sedikit berbasa basi berupaya mencairkan suasana canggung di antara mereka.
"Aku baik, ada hal penting yang ingin tante sampaikan padamu!
"Ini mengenai Arjuna, selama satu bulan belakangan ini sikapnya berubah. " Nyonya Arini mengatakan perubahan sikap Arjuna pada Archana. Archana menghela nafas kasar, kembali menatap kearah wanita di depannya saat ini.
"Antara aku dan om Juna tak ada lagi yang perlu di bicarakan tante, bukankah ini semua keinginan tante Arini. Lagipula saya memiliki suami yang harus saya jaga perasaanya, tak pantas rasanya jika saya menemui putra tante itu. " pungkas Archana. Nyonya Arini juga meminta maaf akan sikapnya pada Archana selama ini, wanita hamil itu memaafkannya.
Archana tersenyum getir melihat raut penyesalan di wajah nyonya Arini, dia segera mengontrol dirinya agar tak terbawa perasaan. Melihat respon yang di tunjukkan Archana membuat nyonya Arini kecewa, padahal dirinya telah merendahkan diri agar Archana mau bertemu Arjuna.
"Kalian masih berteman Archa, tolong bujuk Arjuna untuk memaafkan tante nak. " pinta Nyonya Arini sambil memohon. Archana sebenarnya enggan jika harus berurusan lagi di ngan Arjuna, tapi menolak permintaan nyonya Arini rasa rasanya dia juga tak tega.
"Nanti saya akan pikirkan tante. " jawab Archana singkat.
Meski jawaban Archana belum membuatnya puas namun nyonya Arini sedikit lega mendengarnya, wanita itupun menanyakan perihal kehamilan Archana. Tak lama Alkan datang sambil mengendong Valen, mereka bergabung bersama dengan Archana. Melihat perlakuan Alkan pada Archana membuat nyonya Arini tersenyum getir. Ada rasa penyesalan yang besar dalam dirinya melihat perempuan yang seharusnya menjadi pasangan putranya kini berbahagia dengan pria lain. Jika seandainya dirinya tak egois, Arjuna pasti berbahagia dengan Archana pikirnya.
"Selamat atas kehamilanmu nak, tante turut senang melihatnya, kalau begitu tante pulang dulu. " pamit nyonya Arini.
"Sayang, apa yang tante Arini bicarakan sama kamu? " tanya Alkan penasaran menatap lekat istrinya.
"Dia ingin aku menemui Arjuna mas. " jawab Archana pelan. Rahang Alkan mengeras mendengar jawaban istrinya, wanita itu buru buru menjelaskan pada suaminya agar tak salah paham. Alkan mengatupkan bibirnya rapat rapat, pria itu tengah menahan amarahnya. Melihat respon suaminya Archana hanya mampu mendesah pelan, menggenggam tangan sang suami.
Suaminya memang pria pencemburu dan posesif terutama saat dirinya membahas tentang Arjuna. "Mas aku gak mungkin nemuin om Juna sendiri, kamu bisa ikut untuk mengantar aku sekaligus memastikan jika aku tak mungkin mengkhianati kamu!
Alkan masih kekeh dengan sikap diamnya, Archana merasa pusing menghadapi sikap suaminya jika dalam mode cemburu. "Kamu enggak percaya sama aku mas, kamu meragukan aku? "
"Aku percaya sama kamu sayang tapi tidak dengan pria itu nantinya! Alkan menurunkan sang anak, beralih memeluk istrinya namun tak terlalu erat. Archana membalas pelukan suaminya, wanita itu bernafas lega sekarang. Alkan meregangkan pelukannya, mencium kening istrinya penuh cinta.
"Bunda, Daddy Valen mau di peluk juga. " protes Valentina dengan bibir mengerucut. pasangan suami istri itu memisahkan diri, mereka tergelak melihat tingkah lucu princess mereka itu. Alkan kembali mengendong Valen, lalu menaruhnya di tengah. Archana menciumi pipi gembul putrinya dengan gemas, Valen tertawa pelan.
Alkan terus mengulum senyumnya melihat keceriaan di wajah istri dan anaknya itu, keduanya merupakan sumber bahagianya serta calon bayi dalam perut Archana.
Alkan POV
Archana, aku begitu mencintaimu sayang. Kau adalah milikku, istri dan ibu dari anak anakku. aku tak akan membiarkan pria lain merebutmu dariku, aku egois ya aku akui itu. Maafkan aku jika aku pria yang posesif, pencemburu dan egois. Aku harap kamu segera memberikan kepastian akan perasaanmu padaku sayang.
"Kenapa mas? " Archana salah tingkah dengan tatapan penuh puja dari suaminya. Alkan hanya tersenyum, kembali mencium kening istrinya sambil berbisik sesuatu.
"Aku mencintaimu istriku. " bisiknya pelan. Jantung Archana selalu berdebar kencang setiap kali suaminya mengatakan cinta padanya.
"Me too suamiku, aku juga mencintaimu. " ungkapnya dengan nada gugupnya. Akan terbelalak, tak percaya akan pengakuan istrinya barusan. Bahagia, pria mana tak bahagia jika mendengar bahwa sang istri juga memiliki rasa yang sama seperti dirinya.
"Aku milikmu, milik Valen dan calon anak kita dalam perutku! Senyuman Alkan begitu merekah, pria itu begitu bahagia. Dia bangkit, mengendong si kecil Valen sambil meluapkan kebahagiaannya. Archana tertawa melihat tingkah lucu anak dan suaminya, dia usap perut bulatnya dengan lembut.
"Sehat sehat dalam perut bunda sayang, bunda tak sabar ingin mengendong kamu. kakak kamu Valen juga tak sabar ingin bermain bersama kamu. " gumam Archana mengajak calon bayi dalam perutku berbicara. Alkan dan Valen kembali duduk, keduanya berebut ingin menyapa calon bayi dalam perut Archana. Archana tergelak kencang melihat tingkah keduanya
"Daddy duluan Valen!
"Ish daddy, biarin Valen yang menyapa calon adik bayi dulu. " protes Valen pada ayahnya. Alkan menghela nafas kasar, memilih mengalah dari putrinya.