
"Adikku yang manis, untuk apa kau datang menemui ku? " tanya Serena sambil tersenyum pada Clara. Clara merasa muak dengan senyum yang di tunjukkan Serena, dia tahu jika senyum itu palsu.
"Aku yakin jika kaulah dibalik video yang tersebar di media itu, aku benar bukan? " ujar Clara meluapkan emosinya.
"Jangan sembarangan kalau bicara, mana buktinya jika aku yang menyebar video itu. " balas Serena dengan tatapan tajamnya. Clara terdiam, diam diam Serena tersenyum licik melihat Clara yang tak berkutik.
"Sebaiknya kau urusi berita panasmu yang sampai hari ini masih trending itu, lagian mana mungkin aku mau repot repot turun tangan hanya demi menyingkirkan sampah
sepertimu. " ujarnya setengah meledek.
Prang Clara menjatuhkan gelas, lalu mengambilnya dan menunjuk kearah Serena dengan kilatan di matanya, menunjukkan kemarahan. Serena berusaha tenang, dia telah berhasil memancing amarah Clara. "Kau mau melukaiku bukan, silakan saja Clara dan aku yakin setelah ini kau akan mendekam di penjara. "
"Aah brengsek. " Clara membuang pecahan kaca itu, berlari ke luar dari kediaman Arsen. Serena menatap kepergian Clara dengan senyuman di wajahnya.
"Sayang ada apa? " Arsen buru buru mendekat kearah sang istri, memperhatikan sekitarnya yang banyak pecahan kaca.
"Pelayan. " teriak Arsen, suaranya begitu menggelegar.
"Iya Tuan. " sahut sang pelayan.
"Bereskan pecahan gelas itu, aku tidak ingin istriku terluka. " titah Arsen yang kini duduk di sebelah sang istri, memeriksa keadaan Serena. Pelayan segera pergi setelah membereskan pecahan gelas tersebut. Serena mengusap wajah sang suami, tersenyum tipis kemudian menciumnya singkat.
"Aku enggak papa sayang, jangan khawatir! Serena mengatakan kejadian tadi pada Arsen, tentu saja Arsen marah besar dan ingin membuat perhitungan pada Clara. Dia usap dada suaminya, Serena tengah berusaha mengendalikan emosi sang suami. Setelah tenang Arsen langsung mengusap perut istrinya yang mulai menonjol, usianya kini masuk tiga bulan.
"Baik baik saja di dalam sana sayang, Daddy menyayangi kamu dan mommy. " bisik Arsen pelan di akhiri sebuah kecupan. Arsen beralih menatap wanitanya, dia berdecak kesal akan sikap keras kepala istrinya.
"Jangan diulangi lagi sayang, kalau sampai Clara berhasil melukai kamu dan calon baby, aku akan marah besar padamu. " tegur Arsen dengan wajah datarnya. Serena langsung memanyunkan bibirnya, merajuk melihat sang suami yang memarahi dirinya dengan wajah lucu. Arsen menahan tawanya, melihat wajah menggemaskan sang istri.
Cup
Pria itu menciumi wajah istrinya karena gemas, membawanya ke dalam pelukan. Serena mengulum senyumnya, membalas pelukan sang suami. "Sayang, aku sudah siapin beberapa nama untuk calon baby kita ini. " ungkap Arsen dengan senyuman merekahnya.
"Oh ya, bolehkah aku tahu sayang? " tanya Serena penasaran.
"Belum saatnya sayang, bersabarlah!
Serena merasakan geli, kala suaminya menciumi bahu dan lehernya. Dia menoleh dan tersenyum melihat tatapan suaminya yang tak biasa padanya. "Kita ke kamar saja sayang, aku juga menginginkanmu. " ucap Serena. Dengan senyum di bibirnya, Arsen membopong Serena menuju ke kamar mereka. Di dalam sana keduanya bercinta dengan liar dan hebat, Arsen melakukannya dengan lembut mengingat ada calon baby dalam perut sang istri.
"Uuh sayang, faster. " pinta Serena. Arsen menghentakkannya secara pelan-pelan dari belakang, posisi itu yang paling aman demi calon bayi mereka.
Setelah mendapatkan pelepasannya Arsen buru buru mengakhirinya, dia tak ingin sang istri kelelahan karena melayani gairah dirinya yang tak pernah puas jika bersama sang istri. Dikecupnya kening dan bibir Serena, Arsen menatapnya dengan pandangan memujanya.
"Aku mencintaimu sayang, terimakasih kamu mau melayaniku saat kehamilanmu mulai membesar. " ucap Arsen dengan tulus.
"Selagi aku mampu, aku akan tetap menjalankan tugasku sebagai istrimu, aku tidak ingin sampai kamu jajan di luar sana hanya demi memenuhi hasratmu. " tegas Serena sambil mengusap wajah suaminya, dia benar benar takut jika Arsen berpaling darinya.
Setelah bersih bersih dan beres beres keduanya kembali berbaring di atas kasur, mereka bersandar di kepala ranjang. Fokus Arsen kini tertuju pada istrinya, pria itu terus menatapnya dengan lekat. "Aku tak mungkin berpaling dan jajan di luar sayang, tubuh kamulah yang membuatku bergairah dan kecanduan. " jelasnya dengan senyuman di nakalnya. Serena tampak tersipu di buatnya, wanita itu tersenyum mendengar pernyataan sang suami.
Tok
tok
"Nyonya, Tuan di luar ada tamu yang ingin bertemu kalian. " ujar pelayan dari luar pintu. Serena dan Arsen saling melirik satu sama lain, lalu turun dari ranjang.
"Iya Bi kami akan turun. " teriak Serena. Arsen dengan sigap menuntun sang istri ke luar dari kamar mereka, pria itu begitu posesif.
"Nyonya Zea yang terhormat, tolong beritahu puterimu Archana untuk tidak menganggu puteraku Arjuna. " ujar Nyonya Arini tanpa basa basi.
"Apa maksud kamu? " tanya Mommy Zea dengan raut datarnya.
Nyonya Arini menjelaskan hubungan puteranya dengan Archana. Mommy Zea menghela nafas panjang, melirik kearah Archana yang diam menunduk dan kembali menatap Nyonya Arini. "Apa salahnya jika puteriku menjalin hubungan dengan puteraku Nyonya? " tanya Mommy Zea.
"Karena aku tidak setuju, aku sudah memiliki calon istri untuk puteraku Arjuna. " tegas Nyonya Arini.
"Mami. " geram Arjuna menyela pembicaraan dua wanita paruh baya itu. Archana nampak berkaca kaca mendengarnya, dadanya terasa sesak mendapat ketidaksetujuan hubungannya dengan Arjuna secara langsung oleh Nyonya Arini.
"Kau egois Nyonya, hanya karena kau sangat membenciku kau melibatkan anak anak kita yang tak bersalah. Cinta mereka tak salah, tapi kenapa Anda begitu egois. " ujar Mommy Zea.
"Aku tidak peduli, yang jelas aku tidak setuju puteraku berhubungan dengan garis keturunanmu Zea. " kekeh nyonya Arini. Hati Archana semakin sakit mendengarnya, Arjuna mengepalkan tangannya menahan amarah menatap kearah sang mami.
"Cukup Mi, aku tidak peduli mau mami setuju atau tidak, aku tetap akan menjalin hubungan dengan Archana gadis yang sangat aku cintai. " tegas Arjuna.
Nyonya Arini melototi puteranya, dia terkejut akan pernyataan Arjuna. Dia beralih pada Archana, menatap sinis kearah gadis itu. "Pasti kau yang mempengaruhi Juna, hingga berani melawanku. " tunjuk Nyonya Arini dengan tatapan tajamnya.
"Hentikan. " bentak Daddy Shaka, suaranya yang menggelegar menghentikan perdebatan Juna dan Ibunya. Pria paruh baya itu terlihat mengepalkan tangannya, merasa tidak kuat melihat puterinya disudutkan.
"Archa dengar Daddy, kau putuskan hubunganmu dengan Juna sekarang juga. " tegas Daddy Shaka.
"Tapi Dad.. " balas Archa.
"Jangan membantah Daddy nak. " sahut Mommy Zea yang menyetujui keputusan suaminya. Tubuh Archana mendadak lemas mendengar keputusan daddynya. Daddy Arshaka beralih menatap kearah Juna dengan tatapan datarnya.
"Dan kau, mulai sekarang jangan berhubungan lagi dengan puteriku Archa. " perintah Daddy Shaka dengan nada seriusnya. Daddy Arshaka beralih melirik puterinya, memberi kode agar berpindah tempat. Archana bangkit, memilih duduk di dekat Serena, memeluk sang kakak ipar.
"Kak Serena hiks. " gumam Archana dengan pilu. Serena ikut menitikkan air matanya, mengusap punggung bergetar adik ipar tersayangnya itu. Sebagi seorang kakak, Arsen tak bisa membantu adiknya dan justru menyetujui keputusan Daddy mereka.
"Kak Serena, kak Arsen bantu aku bujuk Daddy, aku tidak mau putus dari mas Juna. " pinta Archana setelah melepas pelukannya. Serena merasa kasihan pada Archana, dia menoleh kearah suaminya yang justru menggeleng pelan.
"Maafin kakak, Cha. " sesal Serena. Archana menangis sesegukan, Juna yang melihatnya merasa tidak tega dan ingin sekali memeluk gadisnya itu, namun suasana tak mendukungnya.
"Sekarang kalian pergi dari rumah puteraku. " tegas Daddy Arshaka pada Juna dan ibunya.
"Maaf Tuan, tapi aku tak akan menyerah begitu saya, saya mencintai Archana dengan tulus. " pungkas Juna dengan sorot tajamnya.
"Pergilah sebelum aku memukul wajahmu. " tegur Daddy Arshaka yang sepertinya tak main main dengan ucapannya. Arjuna berlalu pergi dengan perasaan terlukanya, pria itu sesekali melirik kearah Archa yang menatapnya sendu kemudian menghilang di balik pintu.
Archana bangkit, berlutut di depan sang Daddy sambil memohon, membuat semua orang terkejut melihatnya. "Daddy, aku mohon restui hubunganku dengan mas Juna Dad, aku sangat mencintainya. " pinta Archana.
"Sayang, apa kau lupa bagaimana nyonya Arini menghinamu dan menyudutkanmu, apa kau masih ingin bersama Juna. Daddy tidak akan setuju, tak akan pernah membiarkan wanita itu menghinamu lagi, sebaiknya lupakan Arjuna. " putus Daddy Shaka.
"Daddy aku mohon Dad!
Mommy Zea menangis melihat apa yang dilakukan Archana, merasa kasihan dengan puterinya itu. "Nak ayo bangun sayang. " bujuk Mommy pada putrinya.
"Aku tidak akan bangun, sebelum Daddy memberikan restunya mom. " kekeh Archana.
"Archana, Daddy tidak akan mengubah keputusan Daddy. Kau harus melupakan Arjuna. " ujar Daddy Shaka dengan nada tinggi. Pria tua itu bangkit, meninggalkan keluarganya mengabaikan panggilan dari puterinya. Mommy Zea membantu Archana bangun, memeluk puterinya dan keduanya menangis bersama.
"Benar kata Daddy kamu nak, turuti nasihat Daddy. " ucap mommy dengan lembut. Archana hanya diam, menangis seseguka dalam dekapan mommynya. Arsen menghela nafas panjang, memeluk istrinya yang turut menangis.
tbc