
Nyonya Arini berusaha mendekati Arjuna, putranya namun Arjuna selalu menghindarinya. Sudah hampir dua minggu lebih pria itu bersikap dingin pada wanita yang telah melahirkannya.Wanita itu mulai jengah dengan sikap putranya yang selalu berteman dengan minuman beralkohol.
"Nak, jangan diamkan mommy seperti ini Juna. " keluh Nyonya Dira pada putranya. Arjuna hanya diam tak menanggapinya, pria itu sepertinya masih sangat kecewa dengan sikap ibunya. Tuan Arga hanya bisa menghela nafas berat, melihat sikap dingin putranya selama beberapa minggu ini.
"Mommy mengeluh dengan sikapku, Lalu bagaimana dengan mommy yang begitu egois hingga aku kehilangan cintaku. " ujar Arjuna dengan nada datarnya. Nyonya Arini terdiam, menatap sendu kearah putranya. Dia memang egois, namun dia lakukan ini demi kebaikan Arjuna sendiri.
"Tapi mommy hanya ingin yang terbaik untuk kamu Juna, apa mommy salah? "
"Sangat salah mommy. " Arjuna kelepasan bicara hingga tanpa sadar membentak sangat ibu. Tuan Arga memijit kepalanya yang terasa pusing, dia paham akan perasaan putranya saat ini. Nyonya Arini menatap kecewa putranya, bagaimana bisa Arjuna membentaknya seperti barusan.
"Kau membentak mommy, kau menyalahkan mommy hanya karena kehilangan gadis dari keluarga malik itu Juna. " geram Nyonya Arini emosi. Rasa tidak sukanya pada Archana kian menjadi, melihat Arjuna begitu membela Archana.
"Dia bukan wanita baik Juna, buka mata kamu lebar lebar. Wanita baik tidak akan tidur dengan lelaki lain. " sinis Nyonya Arini. Arjuna menatap tajam ibunya, merasa tidak terima akan ucapan sang ibu.
"Jaga bicara mommy. "
"Cukup, hentikan perdebatan ini. " Tuan Arga menyela perdebatan anak dan istrinya itu, Arjuna memilih pergi, muak harus berdebat dengan ibu yang egois. Dia mengabaikan teriakan ibunya, Nyonya Arini begitu kesal pada anaknya itu. Arjuna memukul stir dengan keras, jika ibunya tak egois, dia tak akan kehilangan Archana.
"Ah sialan. " makinya kesal. Dia juga merutuki kebodohannya, mulutnya begitu lancang berbicara kasar pada wanita yang dia cintai itu. Archana pasti sangat terluka dan kecewa akan sikapnya. Pria itu tersenyum kecut, mengapa takdir cintanya berakhir kejam seperti ini, dia kehilangan gadis yang dia cintai.
Arjuna menepikan mobilnya, mengambil ponsel dan melihat berita di media. Alkan telah mengumumkan tanggal pernikahannya dengan Archana, hal itu membuat hatinya hancur berkeping keping. Gadis yang dia cintai akan menikah dengan pria lain. "Archa, secepat inikah kamu berpaling dariku, aku masih mencintaimu sayang. " gumam Arjuna lirih. Perih rasanya, ingin sekali dia menemui mantan kekasihnya itu, namun sayang dia tak memiliki keberanian setelah berbicara kasar pada Archana kemarin.
"Kamu pasti sakit hati 'kan Cha, aku salah telah menyakitimu dengan kata kataku. " Arjuna memejamkan matanya sejenak, binar dalam hidupnya telah hilang setelah dirinya kehilangan sosok cintanya. Setelah menyimpan ponselnya, Arjuna kembali melajukan roda empatnya. Tanpa sadar dia bergerak menuju kediaman Archana. Dia memilih menunggu di dalam mobil,berharap dia bisa melihat sosok mantan kekasihnya.
Archana kembali tinggal bersama orang tuanya sampai hari pernikahan tiba. Gadis itu ke luar, memilih menyiram bunga bunga yang di tanam ibunya. Matanya tampak memicing, dari jauh melihat sebuah mobil berhenti tak jauh darinya berdiri. Seperti familiar, dia seakan mengenal siapa pemilik mobil itu. "Apa itu mobil mas Juna? " batin Archana lirih.
"Mana mungkin mas Juna berada di sini. " pikirnya tak percaya. Dia menggelengkan kepalanya, mungkin dirinya masih terbayang dengan sosok mantan kekasihnya itu. Lagipula keadaan telah berubah apalagi status mereka, dia calon istri dari Alkan dan ibu sambung Valentina dan calon janin dalam perutnya.
"Archa sayang. " Archa menoleh, mommy Zea mendatanginya. Wanita paruh baya itu menuntunnya, lalu menyuruhnya duduk.
"Mom maafin Archa, Archa hamil di luar nikah. Membuat mommy dan daddy malu dengan kelakuan Archana. " gumam Archana menyesal.
"Mommy tak akan menghakimi kamu sayang, mommy juga bukan wanita yang baik. Lagipula semuanya sudah terjadi, kamu jangan terus menyalahkan diri sendiri nak, nanti kamu stress. Mulai sekarang kamu harus bahagia, sepertinya nak Alkan sudah jatuh cinta sama kamu. " omelnya panjang lebar. Archana tersenyum menanggapi ucapan ibunya, dia membenarkannya teringat sikap Alkan selama ini padanya.
"Tapi apa Archa nanti akan bisa menjadi istri yang baik untuk mas Alkan mommy? " tanyanya ragu. Mengingat sikapnya yang kekanakan selama ini, selalu menguji kesabaran Alkan plus hormon kehamilannya.
"Kamu pasti bisa, percayalah. Belajarlah mencintai Alkan nak, sepertinya dia pria yang baik dan bertanggung jawab! Archana mengangguk, mengiyakan nasehat sang ibu. Selama hamil, Archana memang tak menginginkan sesuatu yang aneh aneh, ngidam seperti wanita hamil pada umumnya.
"Ayo masuk ke dalam sayang!
"Mommy duluan aja, Archa mau hubungi mas Alkan mom. " Mommy mengangguk, wanita itu memilih masuk ke dalam lebih dulu. Archana mengambil ponselnya, menggeser tombol hijau lalu menekan nomor Alkan.
"Hai sayang, ada apa. Kau menginginkan sesuatu sayang? "
"Gak kok mas, aku cuma mau minta maaf sama mas Alkan karena sikapku kemarin. " ujarnya dengan tulus. Alkan mengulas senyumnya, sedikit mengobati rindu nya meski hanya melalui Videocall.
"Aku udah maafin kamu Yank. " Merekapun mengobrol, melepas rindu. Alkan mengakhiri lebih dulu, pria itu kembali bekerja. Archana bernafas lega sekarang, dia telah puas mendengar suara Alkan meski inginnya memeluk pria itu. Wanita itu bangkit, masuk ke dalam mansion.
Jonathan tersenyum kecut, melihat senyum mantan kekasihnya. Sangat jelas jika senyum itu bukan tertuju untuknya, hal itu membuat hatinya semakin hancur. Pria itu memilih pergi dari sana, jika tidak dia tak akan mampu menahan rasa rindunya pada Archana. Mommy membuatkan puding dan salad untuk putrinya, Archana memakannya dengan lahap.
Mommy tersenyum kecil melihatnya, dia bernafas lega melihat putrinya kembali ceria. Tak lama Arsen dan keluarga kecilnya datang berkunjung. Mommy menggendong baby A, menciumi cucunya dengan gemas. Allard Danendra Malik dan Brillian Cornelius Malik, putra kembar Serena dan Arsenio. Arsen mengulas sneyumnya, melihat interaksi adiknya dengan baby Briel. Dia juga kagum dengan ketegaran Archana setelah apa yang terjadi pada gadis itu.
"Kak Seren, Baby Briel lucu banget sih. " gumam Archana tertawa riang menggendong salah satu keponakan gembulnya. Tawa cerianya menular pada yang lainnya, suasana tampak hangat dan bahagia kali ini.
"Iya Cha, aku juga gak sabar dengan calon anak kamu kelak. " balas Serena sambil tersenyum. Dia sangat bersyukur, adik iparnya itu kembali ceria seperti awal pertemuan mereka. Dengan kehadiran baby twins, Serena harap kedua putranya ini bisa menjadi pelipur hati Archana.