
Setelah kepergian Janu dan Maya, mansion keluarga Arsen kembali sunyi. Hanya terdengar perdebatan si kembar seperti biasanya. Serena sendiri masih berat membiarkan Maya ikut dengan Janu, tapi dia sadar jika Janulah yang berhak atas Maya.
"Sudahlah sayang, Maya pasti akan bahagia bersama papa kandungnya itu. Lagipula yang aku lihat Janu benar benar menyesali perbuatannya selama ini pada Clara. " ujar Arsen dengan bijak. Serena menghela nafas panjang, apa yang suaminya katakan ada benarnya.
"Aku menyesal Dad, kenapa tidak dari dulu aku menemui Clara dan berbicara dengan dia dengan baik baik. Aku juga jahat padanya karena tak mau memaafkan perbuatannya dulu padaku, harusnya aku berdamai dengan masa lalu agar tak ada penyesalan di kemudian hari!
Arsen mengusap punggung bergetar istrinya, dia hanya diam tak berkomentar apapun. Dia itu membiarkan menumpahkan keluh kesahnya yang terpendam. Setelah tenang, Arsen langsung memberikan pelukan untuk istri tercintanya.
Si kembar berhenti bermain, keduanya saling melirik satu sama lain memperhatikan orang tua mereka itu. Si sulung Allard bangkit, mendekati sang ibu tercinta. "Mommy kenapa menangis, apa Daddy nakal? " tanya Allard dengan polos. Bocah itu langsung memberi tatapan tajam nya pada sang Daddy, Arsen hanya tersenyum kikuk melihatnya.
"Enggak sayang, mommy cuma kepikiran sama adik kalian Maya!
"Tapi Mom, bukannya Maya sudah ikut bersama om Janu? " tanya Allard dengan kening berkerut. Serena mengulas senyumnya, dia sedikit menjelaskan pada putranya hingga Allard memahaminya.
"Mom dua hari lagi ulang tahun aku dan Bri, aku ingin kado dari mommy dan daddy. " ujar Allard sebelum beranjak. Serena tentu saja mengangguk, dia akan selalu memenuhi keinginan kedua putra kembarnya itu. Arsen tersenyum mendengar permintaan maaf putranya itu.
Serena bangkit, wanita itu langsung pergi ke kamarnya, Arsen sendiri menyusulnya. Pria itu mengunci pintu kamarnya, mendekati istrinya lalu melepaskan pakaian mereka dengan buru buru. Tak lama terdengar suara ******* dan erangan di dalam kamar pasangan suami istri tersebut.
Satu jam berlalu, Arsen menarik istrinya ke dalam dekapan. Serena sendiri begitu merindukan percintaan panas bersama sang suami seperti di awal pernikahan mereka. Dering ponselnya membuat keduanya saling melirik satu sama lain, Serena mengambil ponselnya.
"Ya mom, ada apa? "
"Hiks Serena sayang, cepat ke rumah sakit sekarang Alkan mengalami kecelakaan nak. " ucap mommy terisak. Serena membelalak, perempuan itu menutup sambungannya, lalu memberitahu suaminya. Keduanya lantas langsung membersihkan diri dengan terburu buru. Setelah selesai Serena mengambil tas lalu mengajak suaminya ke luar. Keduanya meminta pelayan untuk mengawasi si kembar. Serena dan suaminya langsung pergi ke rumah sakit, wanita itu begitu khawatir dengan keadaan Archana yang pastinya sangat kalut saat ini.
Tiba di rumah sakit, keduanya langsung menemui orang tua mereka. "Mom, Dad sebaiknya kalian bawa Valen pulang ke rumahku, kasihan dia dan biar kami yang menemani Archana di sini. "
"Mommy dan Daddy pulang dulu nak. " pamitnya pada Archana dan Serena. Daddy langsung menggendong Valentina lalu membawanya pergi dari sana. Serena langsung duduk di dekat adik iparnya, dia memberi kekuatan untuk bumil. Archana menangis tersedu sedu, merasa takut dengan keadaan suaminya di dalam sana.
"Kamu yang kuat ya Cha, aku yakin Alkan pasti bisa melalui masa kritisnya. " ucap Serena mencoba menguatkan Archana. Wanita hamil itu menangis dalam pelukan sang kakak ipar.
Tak lama dokter ke luar, Serena langsung menanyakan mengenai keadaan adik iparnya.
"Tuan Alkan sudah melewati masa kritisnya, kami akan memindahkan ruangannya. " ujar dokter. Serena dan Archana bernafas lega mendengar penjelasan dokter. Kedua wanita itu langsung menuju ruangan Alkan yang telah di pindahkan. Serena menunggu di luar bersama suaminya, dia membiarkan Archana berduaan dengan Alkan.
"Aku takut mas, aku takut kehilangan kamu. " gumam Archana lirih. Tangan Alkan bergerak, pria itu lambat laun membuka kedua matanya. Pria itu mengerjakan kedua matanya, menatap lekat kearah sang istri.
"Sayang. " gumam Alkan lirih.
Archana mengangkat wajahnya, perempuan itu memekik senang melihat suaminya telah sadar. "Mas, jangan bangun dulu perut kamu baru di jahit tadi!
Alkan kembali berbaring, pria itu mengingat kejadian yang terjadi. Pria itu meminta istrinya untuk duduk, dia tak ingin wanitanya kelelahan nantinya. Archana tentu saja menuruti perintah suaminya, dia memilih duduk di kursi sambil menggenggam tangan sang suami. "Sayang, please jangan nangis terus aku baik baik saja. " ucap Alkan dengan suara lemah.
"Baik baik saja apanya mas, lihat perut kamu di jahit seperti itu, aku sangat ketakutan jika aku kehilangan kamu bagaimana. " sentak Archana kesal.
"Auh. " Arcahan menyentuh perutnya, wanita itu meringis. Alkan berubah panik, pria itu hendak turun namun Archana melarangnya.
"Perutku hanya sedikit keram mas, aku enggak papa. " Archana berusaha menenangkan diri, dia tak ingin membuat suaminya khawatir. Wanita itu meminta maaf pada calon buah hatinya, dia terbawa emosinya tadi.
"Yank kamu marah? " tanya Alkan dengan lembut pada istrinya. Archana hanya diam, wanita itu justru memilih bangkit dan duduk di sofa dengan hati hati. Serena dan Arsen masuk ke dalam, keduanya tampak kebingungan melihat suasana tampak hening.
Serena segera mendekati adik iparnya, diapun langsung bertanya. Archana menjelaskan segala kekhawatirannya mengenai Alkan pada kakak iparnya. "Sudah kamu jangan marah marah lagi ya, kasihan baby dalam perutmu Cha!
Arsen kini tengah menasehati Alkan agar tak memancing emosi Archana, pria itu hanya mengangguk pelan. Arsen meminta Alkan untuk istirahat, dia menoleh dan menatap lurus kearah istrinya.
Archana bangkit, kembali duduk di dekat suaminya, bertepatan dengan suster yang datang mengantarkan makanan. Diapun langsung menyuapi suaminya di sertai gertakan kecil agar Alkan menurut.
"Makan ini dulu mas, enggak usah banyak protes. " omel Archana pada suaminya.
"Maaf sayang. " gumam Alkan yang menerima suapan demi suapan dari istrinya. Serena yang melihatnya tersenyum kecil, merasa lucu dengan tingkah keduanya. Selesai menyuapi suaminya, Archana mengambilkan minum lalu membantu suaminya. Pria itu begitu terharu akan perlakuan wanitanya pada dirinya.
"Please jangan diamkan aku honey, maaf telah membuatmu khawatir seperti ini!
"Yang terpenting sekarang kamu fokus pada kesehatan kamu mas, kami bertiga masih butuh kamu dalam hidup kami. " ungkap Archana dengan mata berkaca kaca. Alkan hendak bangun, Archana segera membantu suaminya. Alkan melabuhkan kecupan di seluruh wajah wanitanya, dia begitu mencintai Archana segenap jiwanya.
"Sebaiknya kamu pulang aja sayang, kamu juga perlu istirahat. " Archana mengangguk, wanita itu meminta kakaknya membantu suaminya berbaring. Serena memutuskan mengantar Archana pulang lebih dulu, dia tak ingin terjadi sesuatu yang tak di inginkan.