
Empat hari berlalu Archana mendadak mendapat kabar dari mertuanya mengenai keadaan Alkan yang tengah sakit saat ini. Wanita hamil itu meminta sang daddy untuk mengantarnya pulang kerumah suaminya. Diapun begitu bersalah mendiamkan suaminya hampir empat hari lamanya.
Setelah sampai Archana segera turun dan masuk ke dalam, dia menyapa kedua mertuanya sebentar lalu naik ke atas. Diapun membuka pintu, hatinya mencelos melihat tubuh gagah suaminya terbaring lemah di atas ranjang. Archana langsung mendekat, menyentuh kening suaminya dengan mata berkaca kaca.
"Sayang kamu pulang. " gumam Alkan lirih berusaha bangun namun di tahan sang istri, pria itu tetap ingin bangun. Archana memilih mengalah, membantu suaminya bersandar di kepala ranjang.
"Iya mas, maaf kalau aku egois hingga buat kamu sakit kayak gini. " sesal Archana sambil menangis tergugu.
"Aku juga minta maaf sama kamu sayang, maaf karena meragukan cinta kamu. " balas Alkan dengan lirih sambil menghapus air mata istrinya. Pria itu memintanya berbaring, Archana menuruti keinginan suaminya. Alkan menyapa calon buah hati mereka dengan penuh kasih sayang, melepaskan kerinduan di antara mereka.
Wanita hamil itu tertawa saat suaminya terus menerus menciumi wajahnya tanpa henti. Alkan bersandar di dada sang istri, Archana membelai kepala suaminya dengan lembut. Pria itu kembali bersandar, membawa istrinya dalam dekapan hangatnya. Melihat istrinya telah pulang rasa sakit yang dia rasakan seketika lenyap.
"Kenapa kamu jadi lemah dan cengeng kayak gini mas, seharusnya kamu kuat demi putri cantik kita Valen. " omel Archana sebal.
"Huh sayang putri kecil kita itu terus mengomeli aku selama empat hari ini sama seperti kamu saat ini. " keluh Alkan yang justru di sambut tawa oleh istrinya. Wanita hamil itu tersenyum geli mendengar pengakuan suaminya mengenai putri mereka.
"Ya sudah kamu tidur aja mas, sepertinya kamu masih demam. " bujuk Archana dengan lembut namun sang suami memberikan respon berupa gelengan.
"Jika aku tidur, kamu malah ninggalin aku lagi Yank, aku gak mau. " cetus Alkan manja. Archana menghembuskan nafas panjang, tersenyum melihat sikap manja suaminya. Perempuan hamil itu mengusap tangan sang suami sampai pria itu tertidur. Alkan memejamkan kedua matanya, tak lama terdengar suara dengkuran halus.
Archana menatap berkaca kaca kearah sang suami, ada rasa penyesalan dalam dirinya hingga membuat suaminya sakit seperti saat ini.
Setelah beberapa saat wanita hamil itu turun dari ranjang dengan pelan, dia membiarkan suaminya istirahat. Si kecil Valen datang menemuinya, Archana meminta sang anak diam lalu mengajaknya pergi. Keduanya kini berada di dalam kamar Valen, gadis kecil itu memeluk bundanya erat dan menangis terisak.
"Valen kangen sama bunda, apa bunda marah sama Valen hingga Bunda gak mau pulang. " cetus Valen dengan polos.
Deg
hati Archana mencelos mendengar penuturan putrinya, wanita hamil itu tampak berkaca kaca dan rasa bersalahnya semakin besar pada putri sambungnya itu. Dia ciumi wajah sang anak dan meminta maaf pada Valen.
"Maafin bunda ya sayang, bunda gak marah sama kamu, bunda sendiri yang salah. " gumam Archana dengan lirih. Wanita itu menyesali keputusannya yang begitu egois hingga membuat putri dan suaminya bersedih seperti sekarang.
"Iya Bunda, Valen maafin bunda dan jangan tinggalin Valen lagi. " gadis cilik itu memeluk sang bunda. Archana membalas pelukan sang anak, lalu melepaskannya dan keduanya ke luar.
Archana kembali ke kamar dan melihat suaminya telah terbangun. Pria itu bangkit dan langsung mendekapnya, wanita itu mengumumkan kata maaf pada sang suami.
"Kamu ke mana sih sayang, aku takut kamu ninggalin aku lagi? "
Mereka memilih mengobrol di ruang tamu dari hati ke hati, Alkan menggenggam erat tangan istrinya dan berkali kali menciumnya. Archana tersenyum tipis melihat tingkah suaminya yang begitu berlebihan namun dia tak menyangkalnya.
Keluarga kecil Arsen dan Serena datang berkunjung. si kecil Valen langsung menciumi si kembar secara bergantian. Serena cukup lega melihat adik iparnya kembali berbaikan dengan Alkan, dia mendengar permasalahan Archana dan Alkan dari sang mertua.
"Kalian sudah baik rupanya. " tebak Serena sambil tersenyum.
"Iya kak Serena, aku terlalu egois sampai mengabaikan kesehatan suamiku dan si kecil Valen. " sesal Archana dengan lirih. Serena memberikan beberapa nasehat untuk Archana sebagai seorang istri dan ibu, wanita hamil itu tentu mendengarkannya dengan baik. Dia tak ingin mengulangi kesalahan yang sama hingga membuat rumah tangganya renggang.
Arsen kini justru mengusap kepala si kecil Brillian yang tampak lengket dengannya, pria kecil itu begitu manja pada sang daddy. Sementara Allard sendiri justru lebih dekat dengan Serena, putra sulung Arsen dan Serena itu begitu dingin dan kaku pada siapapun kecuali sang ibu.
"Lihatlah pangeran dinginmu kak Serena, dia begitu posesif padamu. " ungkap Archana sambil menahan tawa. Allard hanya diam, tak mengatakan apapun pada aunty cantiknya itu, hal itu terkadang membuat semua orang ataupun Archana sendiri merasa gemas padanya.
Dasar es batu berjalan!
"Iya Cha, kadang aku cemburu padanya namun meski dia menyebalkan dia tetaplah putraku. " sahut Arsen dengan senyuman menyebalkan. Si kecil Allard menatap daddynya tak suka, Brillian membalas kakaknya itu dengan tatapan tajam. Dan seperti biasanya si kembar akan berdebat hanya karena mereka masing masing membela pihak ibu dan satunya pihak ayah.
"Mommy, milikku Daddy. " ucap Allard sebal.
"Allard jangan tatap Daddy seperti itu, Bry gak suka. " balas Brillian dengan tatapan tajam nya pada sang kakak. Serena hanya mampu menghela nafas panjang melihat kelakuan putra kembarnya, Archana dan Alkan justru tertawa melihatnya.
"Kasihan kak Arsen. " ledek Archana jahil pada kakak laki lakinya, Arsen hanya diam mencibir adiknya itu. Tak di pungkiri dirinya sering cemburu dengan Allard yang selalu menguasai Serena.
Pelayan datang menyajikan makanan dan minuman untuk mereka setelah itu kembali ke dapur. Si kecil Allard meminta buah pada sang ibu, Serena segera mengupaskannya lalu menyuapi pangeran tampannya itu.
"Dasar manja. " cibir Arsen pada Allard putranya. Si kecil Allard tak peduli dengan cibiran sang daddy, pria kecil itu menikmati suapan sang ibu tercinta.
"Sudahlah kak Arsen, biarin saja sih Allard makan dengan tenang. " ujar Archana menata jengah sikap sang kakak yang cemburu pada Allard. Serena membahas kehamilan Archana, wanita hamil itu mengatakan dirinya baik baik saja begitu dengan calon bayinya.
Alkan menciumi pipi chubby istrinya sambil mengusap perut bulat wanitanya, pria itu tampak posesif setelah keduanya kembali berbaikan. Mereka sama sama akan memperbaiki diri demi keutuhan rumah tangga dan keluarga kecil mereka. Archana menoleh, tersenyum manis pada suaminya, pria yang telah memberinya banyak cinta untuknya.
"Aku gak suka kalau kamu minta maaf lagi Yank, aku bosen dengarnya!
"Ya ampun mas. " Archana tertawa mendengar peringatan suaminya, diapun mengangguk dan memeluk suaminya. Allard turun dari pangkuan sang ibu lalu mengajak Brillian bergabung bersama Valen. Tentu saja Serena membiarkan anak anak mereka bermain sambil mereka awasi.