Terjerat Cinta Sang Casanova

Terjerat Cinta Sang Casanova
Belum Move On?


Kevia menghela nafas berat, melihat sepupunya yang murung akhir akhir ini membuatnya khawatir. Sebenarnya apa yang terjadi pada Archana, tapi Archana tetap bungkam tak ingin memberitahu masalahnya.


"Ya halo bibi? " tanya Kevia dengan lembut.


"Via, bagaimana keadaan Archana nak, beberapa hari belakangan ini perasaan bibi merasa tidak enak. " ujar Mommy Zea pada keponakannya ini. Kevia mengatakan jika Archana baik baik saja, dia tak ingin bibinya itu khawatir. Setelah menutup ponselnya, Kevia kembali duduk di sofa sambil memijit pelipisnya terasa pusing.


Edgar menemui istrinya, duduk di samping Kevia. Wanita itu bersandar di tubuh sang suami, mengatakan kekhawatirannya pada Edgar mengenai Archana. "Hubby, bisakah kamu mencari tahu masalah Archana,aku benar benar khawatir padanya. " ungkapnya dengan raut gelisah.


"Iya sayang aku akan membantumu, ingat kamu sedang hamil besar dan sebentar lagi melahirkan. " tegur Edgar pada istrinya. Kevia mengangguk paham, melihat suaminya yang menghubungi seseorang.


Sementara Archana menangis tergugu melihat benda yang berada dalam genggamannya. Alat itu menunjukkan garis dua yang artinya, dirinya hamil. Archana berharap ini hanyalah mimpi, tubuhnya luruh ke atas lantai. Dia hamil anak dari Alkan, pria asing yang baru dikenalnya. Archana bangkit, buru buru memasukkan alat itu ke dalam tasnya, lalu ke luar dari kamar.


"Cha, kamu mau ke mana? " tanya Kevia pada sepupunya.


"Hanya ingin jalan jalan di sekitar sini aja kok Via. " jawabnya singkat. Archana bergegas pergi, dia terpaksa berbohong pada Kevia dan Edgar.


Wanita itu terkejut luar biasa melihat sosok pria yang satu bulan lebih dia hindari. Alkan berjalan kearahnya, pria itu selama ini diam karena memantaunya tanpa sepengetahuan Archa, dia menata matainya. "Sudah puas 'kah kamu menghindar dariku Archa? "


Archana berusaha menghindarinya, dia merasa gugup sekarang. Alkan memeluknya dengan erat, tangannya menyentuh perut Archana membuat gadis itu panik seketika. Pria itu menatapnya dengan lekat tanpa berkata apapun. Alkan justru berlutut, menyentuh perutnya lalu membelainya dengan lembut dan di akhiri dengan kecupan di sana. "Kenapa kau tidak memberitahuku Archa? "


"Memberitahu apa. " elaknya sambil memalingkan wajahnya.


"Kehadirannya, apa kau berniat merahasiakan calon anak kita dariku. " tegas Alkan. Archana terkejut, bagaimana bisa Alkan mengetahui jika dirinya hamil. Alkan mendesah berat, mengajak Archana masuk ke dalam mobilnya.


"Aku juga baru mengetahuinya, pantas saja tubuhku akhir akhir ini terasa tidak nyaman. " ungkap Archana tanpa memandang Alkan.


"Aku rasa kau tak perlu bertanggung jawab,ini semua salahku. " ucap Archana lirih. Alkan mengepalkan tangannya, berusaha menahan amarahnya yang hampir meledak.


"Dia calon anakku Archa, aku berhak bertanggung jawab pada kalian. :" geram Alkan kesal. Archana kembali diam, Alkan menghela nafas berat menghadapi sikap keras kepala wanitanya. Archana memalingkan wajahnya, menahan air mata yang hendak luruh ke pipinya. Alkan melajukan mobilnya dengan kencang, pria itu memilih diam.



Tiba di penthousenya Alkan membawa Archana ke dalam, menariknya menuju ke kamar dan kembali bergumul mesra. Setelah sesi percintaan, Alkan memulai pembicaraan di antara mereka. "Apapun yang terjadi pertahankan janin dalam kandungan kamu Archana, dia tidak bersalah. " pinta Alkan.


Hatinya berdesir, merasakan usapan di perut ratanya. Wanita itu mengangkat wajahnya, menatap lekat wajah tampan Alkan. "Maafkan aku mas, aku butuh waktu untuk semuanya namun aku tetap akan mempertahankan janinku. " gumam Archana pelan.


Tok


tok


"Daddy, Daddy. " pekik Valen keras. Alkan melepaskan pelukannya, keduanya turun dari ranjang dan ke luar. Gadis cilik itu berhambur memeluk tubuh Archana dengan erat, membuat Archa dan Alkan saling menatap satu sama lain.


"Sayang ada apa hmm?


"Bolehkah Valen panggil kakak dengan sebutan bunda? " tanya Valen dengan ragu ragu. Archana terperangah, gadis itu tersenyum mendengar penuturan Valentina.


"Tentu saja boleh sayang. " Archana tertawa melihat tingkah lucu Valen, Alkan mengusap kepala putrinya itu. Valen mengajak orang tuanya itu turun, menemui oma dan opa yang berada di ruang tamu. Kedua orang tua Alkan terkejut, putranya membawa seorang wanita. Alkan mengenalkan Archana pada kedua orang tuanya.


"Mom, Dad, Archana tengah hamil anak Alkan sekarang. "Alkanpun mengakui kesalahanmu pada kedua orang tuanya. Mommy dan Daddy hanya bisa menghela nafas berat, ingin sekali memukul putra mereka itu. Paruh baya itu menoleh kearah Archa, tersenyum hangat pada gadis itu.


"Maafin anak tante ya nak, karena ulahnya kamu kehilangan harta berhargamu. Mulai sekarang jaga kesehatan kamu demi janin dalam perut kamu, dia tak salah nak. " tegur Nyonya Gretha. Archana begitu terharu, kedua orang tua Alkan ternyata begitu baik dan ramah padanya. Gadis itu mengusap perut ratanya, merasa bersalah karena sempat tak menginginkan janin dalam perutnya.


"Alkan, besok kita temui orang tua Archana, kalian harus segera menikah. Mommy tidak mau kamu terus menerus menyentuh Archa seenaknya. " tegas Mommy. Semua orang setuju dengan keputusan mommy, Archana memanggil calon putrinya itu, lalu memberi tahunya dengan penuh semangat.


"Valen sayang, di perut mommy ada calon adik kamu. "


"Benarkah mom? Archana mengangguk, gadis manis itu tersenyum lebar, mengusap perut bundanya dengan antusias. Semua orang ikut bahagia melihat Valen senang dengan kabar kehamilan Archana. Achana tak menyangka jika setelah badai akan ada pelangi setelahnya, dia mendapat kebahagiaan setelah merasakan sakit. Wanita hamil itu tak bisa membayangkan bagaimana reaksi keluarganya, terutama kedua orang tuanya.


Drt


Archana mengambil ponselnya, terkejut mendapat sebuah video singkat yang di kirim oleh seseorang. Sakit, itulah yang kini tengah di rasakannya melihat pria yang masih menjadi pemilik hatinya melakukan hal itu bersama wanita lain. "Aku tahu kamu marah padaku mas, apa ini bentuk pembalasan darimu padaku. " batin Archana lirih.


"Sayang ada apa? " Alkan merasa sikap calon istrinya begitu aneh, pria itu merebut ponsel yang menjadi fokus gadis itu. Dia terkejut, paham kenapa Archana melamun dengan raut sendunya. Segera saja dia hapus video itu, menaruh ponsel Archa di meja dengan keras. Orang tua Alkan terkejut, apa yang terjadi dengan putra mereka ini.


"Aku ingin pernikahan kami di percepat mom, berharap Archa tak lagi memikirkan masa lalunya lagi. " Archana mengatupkan bibirnya, paham jika Alkan tengah menyindirnya secara terang terangan. Valen segera memeluk bundanya, dia merasa ikut sedih melihat sang bunda bersedih.


"Daddy kenapa marahi bunda, lihat bunda jadi sedih 'kan. " omel Valentina. Alkan menghela nafas kasar, pria itu memilih diam tak menanggapi ucapan sang anak. Archana menangis tergugu, membalas pelukan putrinya tanpa menoleh kearah Alkan. Pria itu mengumpat kesal dalam hatinya, padahal mereka baru saja berbaikan dan Archa mulai menerimanya.


"Ini semua karena pria brengsek itu. " batin Alkan kesal. Cemburu tentu saja, Alkan tak rela jika Archana kembali memikirkan Arjuna lagi. Suasana kini tampak terasa tegang, si kecil Valen menghapus air mata bundanya.