Terjerat Cinta Sang Casanova

Terjerat Cinta Sang Casanova
S2 | BAB 4 - SIMBIOSIS MUTUALISME


Setelah pergi dari tempat pemotretan, Serena menghempas tangan Arsen yang berada di pinggangnya namun lagi lagi dirinya di buat kesal pria itu. Arsen terkekeh, dia sangat senang membuat Serena kesal. Pria itu segera menariknya, mendorongnya ke mobil.


"Kita mau ke mana? "


"Nanti juga kau tahu. " Arsen fokus menyetir, hingga beberapa saat mereka akhirnya sampai di sebuah gereja. Asisten Arsen langsung menyambut sang bos, keduanya turun dan masuk ke dalam. Serena tercengang melihatnya. Pria itu tiba tiba menyematkan cincin di jarinya begitu sebaliknya.


"Baiklah nyonya Arsen, sekarang kamu istriku. " Arsenio tersenyum licik, Serena hanya bisa mendengus sebal karena tak bisa berkutik. Dia tak habis pikir dengan pria yang ada di hadapannya saat ini.


Benar benar gila pikirnya.


Keduanya segera pergi, Serena tak berkata apapun pada suaminya. Toh jika dia protes, semuanya telah terjadi dan Serena malas harus berdebat dengan Arsen.



Serena memberikan akses, Arsen semakin memagut bibir istrinya dengan liar dan suasana berubah panas. Arsenio mengakhiri ciumannya kala sang istri hampir kehabisan nafas. Serena tidaklah bodoh, dia paham dengan pandangan suaminya yang begitu bergairah padanya. Tangan Arsenio menyusup ke dalam kemeja Serena, lalu menyentuh salah satu gunung kembar yang terbalut pakaian dalam.


"Sayang, aku menginginkanmu. " Arsenio begitu bergairah, ingin sekali menyatu dengan tubuh sang istri.


"No Arsen, aku belum meminum pil. Aku tidak ingin hamil dulu sebelum dendamku terbalaskan. " tolak Serena dengan lembut.


"Please sayang, aku tersiksa!


"Jangan paksa aku Arsen. " tegas Serena. Arsen melepaskan pelukannya, raut pria iru tampak kecewa dan dia bergegas pergi ke kamar mandi.


Blam


Serena menghela nafas panjang, dia merasa lega meski begitu dalam hati, dirinya merasa kasihan pada Arsen. Gadis itu memutuskan ke luar dari kamar, pergi ke dapur membuat minuman lalu di bawanya ke ruang tamu.


Dia sibuk dengan ponselnya, gadis itu kini tengah menyusun rencana berikutnya untuk Clara. Arsen turun setelah cukup lama mendinginkan adik kecilnya, wajah pria itu tampak kusut dan Serena tak peduli.


"Besok lusa, temani aku ke pestanya Clara. Aku sangat yakin jika Clara akan begitu senang, melihat kehadiranmu Arsen. " ujar Serena melirik kearah Arsen yang telah berganti pakaian. Arsen duduk di sofa, berhadapan dengan sang istri dengan wajah datarnya. "Jika aku setuju, apa kau akan memenuhi keinginanku sayang? "


Serena terdiam, dirinya tahu jika Arsen sangat menginginkan tubuhnya namun saat ini dirinya bimbang. Arsen tersenyum sinis, melihat reaksi Serena dia tahu jika istrinya itu keberatan.


"Karena kamu menolakku, maka aku juga tidak setuju dengan ajakanmu. " sahutnya enteng.


"Baiklah aku setuju. " jawab Serena dengan tegas.


Arsen tersenyum puas, pria itu bangkit dan menyerahkan sebuah lingerie pada wanitanya. Serena bangkit, mengambil lingerie itu lalu di bawanya ke kamar mandi. Tak lama Serena ke luar dengan mengenakan lingerie hitam, jakun Arsen naik turun melihat penampilan sang istri.


Grep


"Sweetheart kamu sangat seksi. " gumamnya sambil menangkup salah satu gunung istrinya. Serena tanpa sadar mengeluarkan lenguhan, Arsen membopong istrinya, merebahkan di atas ranjang kingsizenya.


AREA ++


"Dengar sayang, kamu akan kujadikan milikku seutuhnya. " gumam Arsen.


Arsen merobek lingerie istrinya, lalu melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh keduanya. Pria itu menjamah lekuk tubuh Serena tanpa terlewat dari lidah dan bibirnya. Sentuhan Arsen membuat tubuh Serena tersengat, rasa gelenyar asing menyusup dalam dirinya. Dalam hati gadis itu mengumpat, dia mulai menikmati sentuhan Arsen di tubuhnya.


"Kamu tidak mengenakan pengaman Ar? " tanyanya yang di balas gelengan oleh sang suami. Arsen mulai menyatukan benda bertuahnya ke dalam lembah hangatnya pelan pelan. Serena meringis, meraaakan seauatu yang hendak menerobosnya, hingga jerit tangis menggema dalam kamar.


"Aaah sakit Arsen. "


"Tahan sayang, sakitnya cuma sebentar. "Sekali hentak Arsen berhasil menyatukan tubuh mereka, dia membiarkan Serena merasa nyaman lebih dulu. Setelah tenang Arsen mulai bergerak, dari lambat menjadi cepat. Suara erangan dan ******* saling bersahutan dalam kamar. Arsen tak menyangka, rasanya begitu nikmat kala miliknya terjepit kuat di dalam sana.


Ya sore itu Arsen tak hanya melakukan sekali, namun berkali kali hingga menjelang pagi. Pria itu menggempur istrinya, tak membiarkan Serena beristirahat sejenak. Menjelang pagi Arsen baru mengakhiri kegiatan nikmat dan panasnya tersebut.


##


Esok harinya matahari mulai meninggi, Serena membuka matanya, merasakan silau cahaya matahari. Bergerak sedikit saja, tubuhnya terasa remuk. Dia berkali kali menghela nafas kasar, teringat percintaannya dengan Arsen semalaman. Serena menoleh ke samping, mendapati Arsen yang masih terlelap di sampingnya. Setelah beberapa saat, pria itu ikut teebangun dan tersenyum manis pada sang istri. "Morning sayang. " ucapnya sembari mengecup singkat bibir Serena.


"Sekarang kita impas bukan, kau mau menuruti keinginanku dan aku memberikanmu hal berhargaku padamu. " ujar Serena dengan nada datarnya. Senyum Arsen seketika sirna, pria itu tak suka dengan ucapan sang istri barusan.


"Anggap saja hubungan kita, hubungan simbiosis mutualisme. " jelas Serena.


"Bagaimana kalau aku menganggapmu benar benar istriku, bukan sekedar partner ranjang. " sela Arsenio dengan nada serius.


"Tapi aku tak bisa Arsen, kau tahu jelas apa tujuanku!


"Terserah kau, tapi jangan larang aku karena aku suamimu sekarang, berhak atas dirimu. " Arsen menyibak selimutnya, pria itu dengan polos membopong sang istri ke kamar mandi.


Di bawah kucuran shower, lagi lagi Arsen kembali mengulang kegiatan panasnya dan Serena terpaksa melayani sang suami. Satu jam berlalu, keduanya ke luar dan segera berganti pakaian. Serena segera mengganti seprei dan selimutnya dengan yang baru, setelah itu turun di ikuti Arsen.


Mereka sarapan bersama dalam diam, Arsenio memperhatikan istrinya dengan lekat dan kembali melanjutkan makannya. Selesai


sarapan Serena menatap lurus kearah Arsen. "Dengar kemarin bukan masa suburku, aku sudah meminum pil, jadi jangan terlalu berharap jika aku akan hamil anakmu. "


"Tapi aku tak akan menyerah begitu saja sayang, secepatnya aku akan membuatmu hamil. " gumam Arsen dengan sangat yakin. Serena tak peduli, dia menganggap ucapan Arsen, hanyalah sekadar bualan. Wanita itu langsung bangkit, pergi meninggalkan sang suami.


"Kenapa aku sangat sulit masuk ke dalam hatimu Vel. " batin Arsen miris. Pria itu turut bangkit, pergi ke luar. Mobil mewah itu melesat meninggalkan kediamannya. Arsen sempat mengutus asisten kepercayaannya untuk mengikuti istrinya kemanapun. Dia hanya ingin tahu, apa saja kegiatan istrinya hari ini.


##


Tok tok tok


Cklek pintu di buka oleh sekertaris Joe, pria itu membungkuk sejenak. Arsen menoleh kearah sang asisten dengan raut datarnya.


"Begini Tuan, Nyonya pagi ini bertemu dengan seorang pria, saya sudah menyelidikinya. Pria itu Jeff Anderson, pewaris dari Anderson grup rival anda. " ujar asisten Joe.


Rahang Arsen mengeras, tangannya terkepal urat dan hatinya panas mendengar informasi dari asistennya, mengenai kegiatan isteinya pagi ini.


"Dan ini informasi mengenai nyonya, tuan. " Asisten Joe menaruh sebuah map di meja sang boss setelah itu pamit undur diri. Pria itu segera membuka map yang di berikan asistennya, Arsen terkejut membaca nama asli Velia, lalu kembali memasang wajah datarnya.


"Aku tidak akan membiarkanmu jatuh ke peluk pria lain Serena Amberly Malik. " gumam Arsen penuh tekad.


tbc