
...Like, vote dan komen ya guys...
"Ibu, Ayah kalian jangan cemas aku baik baik saja kok Bu, memang beberapa bulan lalu rumah tanggaku dengan mas Shaka sempat bermasalah, namun semuanya sudah teratasi. " ucap Zea dengan tenang, dia tidak ingin orang tuanya cemas akan dirinya. Ibupun bisa bernafas lega mendengar penuturan dari puterinya itu.
"Ya sudah ibu tutup teleponnya ya sayang, jaga dirimu baik baik nak. "
"Iya Bu. " Zea menyimpan ponselnya di nakas, wanita itu harus bersiap siap karena ingin menemani sang suami datang ke acara pesta dari salah satu sahabat suaminya.
Zea mengenakan dress panjang berwarna merah, rambutnya dia gerai namun tertata rapi. wanita itu berjalan menghampiri suaminya yang kini tengah menunggunya. "Hubby, bagaimana penampilanku hari ini sayang!
"Kamu sangat cantik dan seksi Yank, rasanya enggak rela kamu di tatap pria lain. " dengusnya sebal. Zea tersenyum geli melihat suaminya yang cemburu lagi padanya, dengan berani dia kecup bibir Shaka sekilas.
"Yuk kita berangkat. " Tangan shaka melingkar di pinggang ramping istrinya, keduanya berjalan bersama ke luar dari mansion.
Mobil BMW M5 berwarna hitam itu berhenti, sosok cantik turun lebih dulu di susul sang suami tercinta. Shaka merangkul pinggang istrinya posesif, tak membiarkan mata nakal memandang wanitanya hingga memasuki sebuah mansion bak istana.
"Hei bro, akhirnya kamu datang juga Shak. " ucap salah satu pria berambut blonde. Shaka merangkul salah satu temannya itu sekilas, pria itu beralih memperhatikan wanita di sebelah Shaka.
"Who is She? "
"She is my Wife, Zeanne Evander Malik. " ucap Shaka dengam senyum merekahnya. Pria berambut blonde itu terkejut, melirik Shaka dengan tatapan tak percayanya.
"Hallo Mrs, aku Bryan, sahabat suamimu. "
"Err iya Tuan, saya Zea istri mas Shaka. " jawab Zea dengan canggung. Bryan tersenyum simpul, melihat sikap canggung istri temannya itu. Shaka meninju bahu Bryan, melirik tajam kepada sahabatnya itu.
"She is MINE bro. " ketus Shaka.
"Yeah I know!
Zea merapatkan tubuhnya pada tubuh sang suami, tak lama dua orang laki laki lainnya datang dan berbincang dengan mereka. Zeapun memilih diam, mendengarkan obrolan suaminya bersama teman temannya itu.
"Istrimu cantik juga Shaka, enggak salah pilih memang. " ujar salah satu pria yang diketahui bernama Elang. Shaka menanggapinya dengan senyuman, tanpa merasa malu dia kecup kening istrinya di hadapan para teman temannya.
"Rupanya kamu juga datang Shaka? "
Mereka menoleh kearah Mona yang datang bersama Alea temannya. Wanita itu tampak seksi dengan gaunnya yang berwarna ungu, menampakkan gunungnya. Shaka memasang wajah datarnya, dia sangat tidak menyukai kehadiran Mona di sana. Mona melirik sinis kearah Zea, perempuan itu semakin membenci Zea. Bryan dan Elang saling menyikut satu sama lain, setelah itu kembali memperhatikan drama di depan mereka.
"Oh ya El, Congrats buat kesuksesanmu Bro. Sudah saatnya kamu menikah sama seperti aku dan istriku, bisa merasakan enak enak tiap malam? " Shaka berusaha menggoda sahabatnya itu, dia memang suka membuat kesal orang.
Elang mendengus kesal, dia ingin sekali menimpuk kepala sahabatnya ini. Pria itu dengan jahil melirik Zea dengan senyuman penuh arti. "Oh ya Nona, apa si pria tua ini perkasa di atas ranjang atau malah juniornya sudah karatan. " celetuk Elang.
blush kedua pipi Zea merona, dia sangat malu atas pertanyaan Elang mengenai keperkasaan Shaka. Shaka melempar tatapan tajam pada Elang namun pria itu tidak takut. Melihat reaksi Zea, Elang langsung tergelak begitu saja. "Melihat reaksimu, well sepertinya si pria tua ini memang perkasa. "
Mona merasa hatinya panas, melihat sahabat Shaka yang welcome pada Zea. Berbeda dengannya dulu, sikap Elang dan Bryan begitu dingin, acuh dan sinis padanya. Diam diam wanita itu mengepalkan tangan, ingin sekali dirinya mencaci maki Zea sepenuhnya agar menjauh dari Shaka.
"Bryan, Elang apa kamu tahu hubunganku dengan Shaka berakhir karena wanita ini. " tujuk Mona pada Zea. Arshaka mulai geram dengan sikap Mona, namun Zea menahannya dan mengusap dada sang suami agar diam.
"Mas, biarkan si jelek itu mengoceh, abaikan saja dia. " bisik Zea dengan lembut.
"Huft baiklah, nanti malam lima ronde ya Yank! jawab Shaka sambil berbisik. Zea melirik jengah suaminya kemudian mengangguk, Shaka tersenyum puas. Licik memang, dasar mencari kesempatan dalam kesempitan.
Mona tercengang, tak percaya dengan apa yang diucapkan Bryan barusan. Tangannya terkepal, hatinya kian diliputi kemarahan namun sebisa mungkin dia tahan hingga acara selesai nanti. Alea segera menarik tangan Mona, mengajak sahabatnya itu pergi dari sana. Zea memghembuskan nafas lega, setelah kepergian Mona dan Alea.
"Duduk yuk, kalian pasti lelah bukan. " Mereka memutuskan duduk di sofa yang berada di sudut ruangan. Zea bersandar di dada sang suami, tiba tiba dia merasakan kepalanya pusing namun wanita itu memilih diam.
Shaka memperhatikan istrinya dengan lekat, sejak tadi Zea tak mengatakan apapun padanya. "Sayang, kenapa kamu sedari tadi hanya diam? "
"Aku enggak papa Mas, hanya saja kepalaku pusing dan perutku terasa tidak nyaman. " gumam Zea dengan lirih. Wajah Shaka langsung berubah khawatir, Bryanpun memperhatikan keduanya secara bergantian.
"Shak, ajaklah istrimu pulang mungkin saja Zea tengah sakit sekarang? " Shaka mengangguk, pria itu menggendong Zea ala bridal, membawanya ke luar dari mansion Elang. Shaka tancap gas, melajukan mobilnya kencang menuju ke rumahnya.
Skip
Hoek hoek Zea memuntahkan cairan bening di dalam water closet. Shaka ikut membantu, memijit tengkuk sang istri. Setelah beberapa saat Zea segera membasuh mulutnya dan wajahnya tampak pucat dalam dekapan suaminya. "Sayang aku panggilin dokter ya!
"Enggak usah By!
"Jangan membantahku sayang. " Shaka mengambil ponselnya, lalu menghubungi dokter. Setelah itu memapah istrinya, membawanya ke ranjang dan kembaringkan di sana. Zea hanya pasrah, dia menuruti perintah suaminya yang tak bisa di bantah jika dalam mode seriusnya.
Dokter datang, memeriksa keadaan Zea. Seulas senyum terpatri di wajah dokter itu, dokter memberikan texpack pada Zea. "Nyonya, cobalah pakai alat ini, karena sepertinya dari ciri ciri Nyonya tadi saya sudah menduganya. "
Meski bingung Zeapun bangkit dan membawa alat itu ke kamar mandi. Tak lama wanita itu ke luar dan memperlihatkan hasilnya. Dokter mengulum senyumnya, menatap kearah Zea dan Shaka secara bergantian. "Selamat Nyonya anda tengah hamil, usianya baru empat minggu. "
"Hamil. " raut wajah Zea berkaca kaca, tak di sangka malaikat kecil hadir dalam perutnya. Shaka langsung merngkulnya, mengecupnya berkali kali sambil mengungkapkan rasa senangnya.
"Tuan ini obat pereda mualnya, saya sarankan istri anda jangan terlalu stress dan banyak pikiran. "
"Iya Dokter, terimakasih!
"Sama sama, saya pamit dulu. " Dokter langsung pamit setelah selesai memeriksa Zea. Shaka membawa istrinya bersandar di kepala ranjang, pria itu menciumi perut rata Zea. Zea tersenyum tipis, hatinya begitu bahagia melihat suaminya begitu antusias akan kabar kehamilan dirinya.
Cup
"Papi janji akan menjaga kamu dan Mami sayang. " gumam Shaka.
Shaka menegapkan kepalanya, mematap lembut istrinya dengan penuh cinta. Cintanya kian besar pada wanita yang dicintainya, dirinya berjanji tak akan lagi menyakiti Zea.
"Mas kayaknya aku tunda dulu deh, buat daftar kuliah. Aku enggak mau buah cinta kita kenqpa kenapa, apalagi di trimester pertama yang masih rawan ini. "
"Emangnya kamu enggak papa Yank? "
"Enggak papa Mas! Shaka kembali memagut bibirnya, dia semakin kagum pada istrinya begitu dewasa dalam mengambil keputusan. Pria itu memeluk istrinya, tangannya tak henti mengusap perut rata sang istri.
"Aku semakin mencintaimu Yank. " bisik Shaka dengan mesra.
"Aku juga. " Bibir Zea tak hentinya melengkung, membentuk sebuah senyuman yang begitu indah. Tangan mereka saling bertautan satu sama lain, Shaka memperhatikan istrinya dengan senyum tipis di bibirnya.
tbc