Terjerat Cinta Sang Casanova

Terjerat Cinta Sang Casanova
S2 | BAB 2 - MENGUBAH IDENTITAS


Cahaya matahari mulai meninggi, pertanda hari mulai terang. Serena terbangun, mengamati sekelilingnya yang terlihat sangat mewah, namun tetap saja baginya terasa asing. Ingatannya berputar akan kejadian kemarin yang membuatnya jatuh pingsan.


Cklek seorang maid masuk, membawakan dress untuknya. "Akhirnya nona bangun juga, ini pakaian untuk anda nona, setelah itu turunlah ke bawah Tuan sudah menunggu!


Maid membungkuk, lalu ke luar dari kamar yang di tempati Serena. Serena menginjakkan kakinya di lantai, lalu pergi ke kamar mandi dan membawa pakaian gantinya.


Setelah selesai Serena segera keluar, menuruni anak tangga. Dia pergi ke meja makan, di mana snag tuan rumah telah menunggunya. Arsen memasang wajah datarnya, melihat kehadiran gadis yang dia tolong kemarin.


"Siapa nama kamu Nona? "


"Velia Brynn. " sahut Serena asal, dia sengaja menyembunyikan identitasnya karena ada beberapa hal yang dia pertimbangkan.


"Arsenio Narendra Malik, apa tubuhmu sudah sehat? " tanya Arsen.


Serena mengangguk singkat, dia merasa waspada dengan pria di hadapannya saat ini, hal itu disadari Arsenio. Arsenio langsung fokus pada sarapannya, begitu juga dengan Serena. Selesai dengan sarapannya, Serena kembali menatap kearah Arsen dengan lekat.


"Bisakah saya meminjam uang Anda tuan? " cicitnya pelan.


"Berapa yang ku butuhkan? "


"100 juta. "


Arsenio mengeluarkan sebuah black card, lalu disodorkannya pada Serena. Serena tertegun, sekali lagi dia melihat pria yang menolongnya itu. "Pakailah kartu itu untuk kebutuhanmu dan sopir akan msngantarmu kemanapun, kelak aku akan meminta bayarannya padamu. " pungkasnya.


Serena mengambilnya, di simpannya ke dalam saku. Arsenio bangkit, pergi meninggalkan meja makan. Serena termenung, dia tidak tahu apa maksud dari kalimat terakhir yang diucapkan Arsen barusan. Sudahlah dia tak peduli, lagipula saat ini dirinya harus mengubah penampilannya sebelum melakukan balas dendam.


Serena belanja barang barang branded, dari dress, tas, sepatu dan lainnya hingga dia puas. Dia juga datang ke salon, meminta untuk mengubah model rambutnya. Setelah selesai Serena meminta sopir untuk mengantarkan dirinya ke kantor Arsenio, dia sudah cukup belanjanya. Sebelum pergi belanja, Serena sempat membuat bekal makanan.



"Saya ingin bertemu dengan tuan Arsen, " pintanya pada seorang sekertaris.


"Mari Nona ikut saya. " Serena mengikuti. langkah wanita itu hingga sampai di ruangan Arsenio. Serena meraih handle pintu kemudian mendorongnya ke dalam, terlihat Arsen tengah sibuk dengan pekerjaannya.


"Ehem. "


Arsen mendongak, pria itu tertegun melihat penampilan Serena yang sangat berbeda menurutnya. Serena merasa salah tingkah, namun dia berusa mengontrol dirinya.


"Maaf aku datang tiba tiba, ini aku bawakan makan siang untukmu. " ujar Serena dengan ragu.


Arsen beranjak dari kursinya, lalu duduk di sofa begitu juga dengan Serena. Serena dengan telaten menyiapkan makanannya, lalu gadis itu membiarkan Arsen makan.


"Tapi Tuan, Anda tidak punya penyakit Alergi bukan? "


"Tidak. " jawabnya singkat. Arsen mulai mencicipi makanan Serena, sesuai selera lidahnya diapun langsung lahap makannya hingga habis. Serena tersenyum tipis, sepertinya Arsen begitu suka dengan makanan buatannya pikirnya.


Selesai makan, Arsen kembali melirik kearah Serena dengan lekat sambil berkata. "Sebenarnya apa alasanmu, mengubah penampilanmu Velia? "


"BALAS DENDAM. "


Serena mengepalkan tangannya, teringat bagaimana perlakuan ibu tirinya dan Clara padanya selama ini. Arsen hanya diam tak berkomentar, namun pria itu mengamati setiap ekspresi yang di tunjukkan oleh Serena. Helaan nafas berat keluar dari bibir gadis itu, Serena merasa tidak enak kearah Arsen.


"Jangan menyentuhku tuan. " Serena menghempas tangan Arsen yang mengenggam tangannya. Arsen menaikkan alisnya, melihat sikap Serena yang berubah ketus. Serena merasakan ketidaknyamanan hal itu di sadari Arsen, diapun memakluminya.


"Maaf. " Setelah menyuruh sopir pulang, Arsenpun langsung melajukan mobilnya kencang. Keduanya tak banyak bicara selama perjalanan, Serena nampak heran entah kemana Arsen akan membawanya.


###


"Pantai. " gumam Serena dengan raut bingungnya. Arsen segera turun dari mobilnya, di susul Serena dan gadis itu mengikuti langkahnya dari belakang. Serena menghirup udara segar di tepi pantai, hatinya terasa damai di sana.


"Ibu, aku kangen kamu bu. " ucap Serena dengan lirih. Dia merasa sosok ibunya berada di sisinya meaki hanya dalam angannya. Serena berharap ibunya di atas sana tidak akan kecewa dengan apa yang dilakukannya saat ini.


"Sebaiknya kita pulang tuan!


"Apa kamu sudah baikan? " tanyanya balik yang dibalas anggukan oleh Serena. Keduanya kembali ke mobil, Arsen melajukan mobilnya, meninggalkan area pantai.


##


"Aakh. " Serena kehilangan keseimbangannya, Arsen segera menangkapnya. Gadis itu meringis, sepertinya kakinya kesleo karena jalan terburu buru, mengingat dirinya menggunakan high heel. Arsenio segera menggendongnya ala bridal style, dia menatap lekat pria itu begitu juga dengannya.


"Mulai sekarang panggil namaku! Arsen menurunkan gadis itu di kamarnya. Serena merasa canggung dan malu pada pria yang menolongnya itu. Setelah Serena seleaai berganti pakaian, Arsen mengambil obat p3k, kemudian mengobati kaki Serena yang bengkak.


"Sshh sakit. " ringisnya. Arsen memperhatikan wajah kesakitan Serena, pria itu mengobatinya dengan lembut.



"Terimakasih Arsen. " Serena hendak menurunkan kakinya yang sakit, justru dirinya di bawa ke pangkuan pria itu. Pipinya merona kala dagu Arsen tanpa sengaja menyentuh bukitnya yang terbalut dress. dia usap paha mulus Serena, sontak membuat gadis itu mengeliatkan tubuhnya.


Cup


Serena begitu terkejut, kala Arsen memagut bibirnya lembut, dia sedikit membukanya hingga membuat Arsen semakin memperdalam jelajahannya di bibir Serena. Serena yang hampir terbuai, segera menghentikan aksi Arsen, hal itu membuat pria itu kesal.


"Tidak Arsen, kau hanya partnerku dalam balas dendam. Kita tidak boleh saling memiliki ketertarikan satu sama lain, apalagi kontak fisik. " tegas Serena.


Arsen menatap tajam kearah Serena, dia sangat tidak menyukai apa yang dikatakan gadis itu. Dia menurunkan tangan Serena, lalu dikecupnya dengan lembut. Serena merasa tersipu dengam tindakan lembut Arsen padanya. "Aku tidak peduli, lagi pula you are mine Velia!


"Sejak kamu meminta bantuanku, kau telah menjadi milikku nona, aku tidak akan pernah melepasmu. " ujar Arsen.


Serena memijit pelipisnya yang terasa pusing, tak menyangka dirinya akan masuk ke kandng buaya setelah keluar dari kandang singa. Dia hanya bisa merutuki kesialan dalam hidupnya untuk kedua kalinya.


"Terserah, biarkan aku turun. " jawab Serena cuek.


Arsen menurunkan Serena di tepi ranjang, Serena hanya diam saat pinggangnya di rangkul pria itu. Tangan besarnya menelusuri area telinga Serena kemudian turun ke lehernya. "Engh geli Arsen, hentikan. " gumam Serena.


"Kapan aku bisa memilikimu sweety. " bisik Arsen dengan mesra.


Serena terkejut, dia paham apa maksud dari ucapan Arsen. "Aku belum siap Arsen!


"Baiklah aku akan menunggumu. " Arsen kembali mencium bibirnya, lalu bangkit dan ke luar dari kamar gadisnya. Serena menyentuh dadanya yang berdebar kencang.


tbc