
Lagi lagi Archana harus di kecewakan, gadis itu tak menampik hatinya terluka melihat pria yang dia cintai di tunangkan dengan gadis lain. Gadis itu menangis sendirian di tepi pantai, dia hanya bisa meratapi kisah cintanya yang tragis. "Kenapa mas Juna gak berjuang demi cinta kita, kenapa!
"Aaah. aku membencimu Arjuna. " teriaknya di sertai cucuran air mata.
Hiks hiks
Archana menangis histeris sendirian di sana, dia abaikan tatapan orang orang padanya. Seorang anak kecil berlari kearahnya, menyerahkan es krim pada Archana. "Tante, tante. "
Archana segera menghapus air matanya, menatap lembut bocah perempuan di depannya saat ini. "Iya sayang ada apa?
"Ini es krim buat tante, kata Papa kalau makan es krim membuat hati tenang. " jawab bocah itu dengan polosnya. Archa sampai mengulum senyumnya, menerima es krim itu lalu di makannya.Selesai makan, gadis itu justru memangku bocah manis itu.
"Nama kamu siapa sayang? " tanya Archana dengan lembut.
"Valentina Cellia Abraham, panggil saja Valen tante. " ucap Valen.
"Wah nama kamu sangat indah sayang, lalu kamu sama siapa ke sininya? "
"Sama papa, papa ada di sana. " tunjuk Valen. Gadis cilik itu mengajak Archana menemui papa bocah itu.
Archana melihat seorang pria tinggi dengan tubuh atletis memeluk tubuh mungil Valen, memperhatikan interaksi ayah dan anak tersebut.
"Saya Alkan Kyle Abraham, papanya
Valen. " sapa pria itu dengan nada formalnya.
"Aku Archana Elvira Malik!
Keduanya terlibat obrolan, Archana sedikit canggung karena hanya berdua, Valen kembali bermain pasir tak jauh dari mereka. Gadis itu hanya tersenyum kaku melihat sikap dingin seorang Alkan.
"Saya permisi dulu tuan, hari sudah sore. " ujar Archana dengan sopan.
"Bareng saya saja, saya antar kamu pulang. " sahut Alkan. Archana mengangguk kecil, mereka meninggalkan area pantai. Selama perjalanan, suara Valen memecah keheningan di antara keduanya.
Archana segera turun, bergegas masuk ke dalam setelah mengucapkan terimakasih. Dia langsung pergi ke kamarnya setelah menyapa kedua orang tuanya.
Merasa segar setelah mandi, Archana memutuskan berbaring sejenak. Dia mengambil ponselnya, melihat banyak panggilan tak terjawab dari Arjuna. Archa tersenyum getir, luka yang dia rasakan sejujurnya masih membekas. Namun rasa cintanya pada Arjuna justru lebih besar daripada patah hatinya saat ini.
"Kenapa kisah kita harus berakhir seperti ini sih mas, aku kira semuanya akan mudah nyatanya tidak. " Archana benar benar terluka saat cintanya dengan Arjuna harus berakhir paksa.
to Mas Juna
Mari kita bertemu mas, kita akhiri semuanya dengan hal manis. Meski berat, aku yakin kita bisa melewati ini semuanya, sepertinya aku bukan takdirmu mas Juna begitu sebaliknya.
Hiks
Archana bangun, berhambur ke pelukan sang ibu dan tangisnya pecah. Dia usap punggung puterinya dengan lembut, menyalurkan kekuatan untuk Archana. Archana mengatakan segalanya pada sang ibu, mommy Zea ikut menangis melihat puterinya patah hati. "Sabar ya sayang, kamu harus tegar dan kuat. Luapkan segala emosimu nak setelah itu berfikirlah dengan tenang. "
Hampir satu jam menangis dalam dekapan ibunya, Archana nampak lebih baik saat ini. Dia tengah memutuskan segalanya dengan baik baik, gadis itu berusaha merelakan cintanya berakhir sampai di sini. Sesuatu yang di paksakan akan berakhir tidak baik, Archana tak ingin itu terjadi.
"Aku sudah memutuskan mom, aku akan mengajak mas Juna bertemu dan memutuskan hubunganku dengannya. Mungkin ini yang terbaik untuk kami berdua, lagipula jika dipaksakan tante Dira juga tetap tak akan suka padaku!
"Selain itu aku ingin liburan ke negara Y Mom, boleh 'kan? " tanya Archana pada sang ibu.
"Kenapa mendadak sayang, kenapa harus jauh jauh? "
"Aku sudah memikirkan semuanya mom. " sahut Archana dengan serius. Mommy Zea menghela nafas berat, dia tak terima dengan keputusan puterinya.
"Kita bicarakan ini sama Daddy dan kakakmu nak, ayo. " Archana mengangguk, keduanya ke luar dari kamar. Gadis itu memekik girang melihat kedatangan Serena, kakak iparnya. Serena dengan perut besarnya memeluk tubuh sang ipar dengan hati hati. Archana menuntunnya duduk dengan pelan pelan di bantu Arsen. Ya usia kandungan Serena memasuki bulan ke sembilan, dua minggu lagi dia akan melahirkan.
Archana mengatakan keputusannya pada keluarganya. Daddy menghela nafas berat, melihat puterinya yang bersikeras membuatnya setuju. Gadis itu tersenyum lebar setelah mendapat persetujuan dari Daddy tercintanya.
"Maaf kakak gak bisa temani kamu Cha. " ujar Arsenio pada sang adik.
"Gak papa kak, lagian kak Serena bentar lagi lahiran, fokus saja pada kak Serena! Archana tersenyum memperhatikan kakaknya yang mengusap perut Serena.
"Lalu kapan kamu berangkatnya sayang? " tanya Daddy.
"Lusa Dad. " jawabnya mantap. mommy hanya bisa menurut, mengikuti keinginan puterinya. Archana langsung memeluk tubuh ibunya dengan erat.
"Archa pasti bakal kangen sama semuanya. " gadis itu memejamkan mata, menikmati ciuman hangat dari ibu tercintanya. Serena mengulas senyumnya,melihat kedekatan Archana dengan mommy Zea. Dia jadi semakin tak sabar dengan kelahiran twins, ya Serena mengandung baby twins laki laki. Sontak semua orang menyambutnya suka cita, terlebih mommy dan daddy yang begitu antusias akan segera menyambut cucu pertama mereka berjenis kelamin kembar.
Serena terus memperhatikan Archana, dia sangat paham bagaimana perasaan adik iparnya itu. Di balik senyumnya, Serena yakin Archana menyimpan lukanya sendiri. Arsen mengusap perut sang istri, Serena menoleh dan tersenyum. "Apa ada yang menganggu pikiranmu sayang? " tanya Arsen.
"Archana mas, aku kasihan sama dia. Kenapa kisah cintanya harus tragis seperti ini, hanya karena masa lalu orang tua, Archa dan Arjuna harus putus!
"Ini memang berat sayang, tapi keputusan ini benar demi kebaikan Archana sendiri. Aku harap di negara Y nanti Archana bisa membuka lembaran baru tanpa bayang bayang Arjuna. " ujar Arsen sesekali melirik kearah adiknya.
Serena mengangguk paham, keduanya kembali menyimak obrolan mommy dan Archana. Archana terlihat antusias, ceria di depan keluarganya. Arsen berharap adiknya nanti bisa menemukan kebahagiaan yang lain untuk gadis itu.
"Ah. " Archana tiba tiba teringat dengan si gadis manis, Valentina. Gadis itu begitu ceria, polos dan menggemaskan di matanya. Dia berharap kelak bisa bertemu gadis cilik itu lagi.
"Mom, Dad aku ke kamar ya. " pamitnya pada keluarga. Archa beranjak dari duduknya, bergegas pergi ke kamarnya. Di dalam sana dia melepaskan kalung pemberian Arjuna, lalu memasukkan ke dalam kotak. Tekadnya sudah bulat, dia ingin menghapus nama Arjuna dalam hidupnya.
Memang benar jika Arjuna hadir bukan untuk ia miliki. Archana mengambil ponselnya, menghapus semua foto dirinya bersama sang mantan. Dia juga turut mendoakan Arjuna agar berbahagia, dengan wanita pilihan ibunya pria itu.
tbc