Terjerat Cinta Sang Casanova

Terjerat Cinta Sang Casanova
TCSC Part 15


"Dari mana saja kamu hon, aku tadi menghubungimu berkali kali. " ujar Arshaka dengan raut paniknya. Zea mengulum senyumnya, mendengar penuturan suaminya yang mengkhawatirkan dirinya.


"Aku dan Tiara pergi sama temennya bang Sakti mas, apa mas tahu dia orangnya sangat asyik, ramah dan tidak munafik, baik di depan tapi busuk di belakang. " ujar Zea dengan aantai tapi menusuk bagi Arshaka, menampar keras tak kasat mata pada pria itu.


Zea terkekeh melihat raut tegang suaminya, diapun segera memeluk pinggang Arshaka. "Kenapa sih mas, kok tegang banget. Lagian yang aku bicarain bukan kamu kali, jangan takut mas. " ledek Zea.


"Laki laki apa perempuan!


"Laki laki. " Rahang Shaka langsung mengeras, hatinya terbakar mendengar jika seharian istrinya bersama pria lain. Ck dirimu enggak sadar Shak, lu juga bareng sama si Mona dan making out dengannya malahan kampret (+_+)


"Dengarkan aku, kamu harus jaga sikapmu honey. ingatlah kamu sudah memiliki SUAMI! ujarnya penuh penekanan pada kata terakhir. Zea mengernyitkan dahi mendengar kalimat suaminya, namun tak lama bibirnya melengkung membentuk senyuman.


"Mas cemburu ya sama aku? "


Deg Shaka terdiam, dia merasa bingung dengan dirinya yang begitu marah saat tahu Zea pergi dengan pria lain. Shaka menghela nafas panjang, apakah dirinya cemburu pada gadis udik di depannya. "Ck tidaklah buat apa aku cemburu padamu! Zea hanya berdecak, sikap suaminya ini seringkali berubah padanya hal itu membuatnya sedikit ragu. Dia harus memastikan segalanya dulu sebelum Zea menyerahkan dirinya pada pria yang menjadi suaminya ini.


"Ya sudah sih kalau enggak cemburu, ngapain marah marah nggak jelas. Lagian ya mas Shakaku sayang, aku bareng Tiara juga kok. Jangan panik mas, aku dan kak Zidane enggak sedang making love kok hahaha!


"Aku mau ke kamar dulu ya, capek nih! Zea langsung melenggang pergi meninggalkan suaminya yang diam mematung. "


Shaka menghela nafas panjang, pria itu langsung duduk di sofa. Dia merasa bingung dengan dirinya sendiri kenapa mesti marah marah pada Zea, setelah tahu istrinya itu pergi dengan seorang pria.


Sementara Zea selesai mandi dan ganti pakaian, gadis itu langsung mengambil bukunya dan belajar.


Drt


drt


Zea mengalihkan perhatiannya ke ponselnya yang berdering.


"Ya halo kak Zidane, ada apa? "


"Besok aku mau ajak kamu ke puncak, mau enggak Zea!


"Aku setuju kak! Zea mengiyakannya karena merasa butuh refreshing saat ini. Tidak ada sahnya bukan memerima ajalan Zidaene, lagian nanti aku izin sama mas Shaka. " Setelah obrolan berakhir, Zea menaruh ponselnya di atas meja.


Tepat pukul 06.00 sore, Zea memutuskan ke luar dari kamar. Dia menuruni anak tangga, bergegas menemui suaminya di ruang tamu. Zea langsung memgambil tempat di sebelah Arshaka, Arshaka ini sibuk dengan laptopnya.


"Mas, besok aku minta izin ya? "


"Ke mana!


Zea menelan salivanya, merasa gugup namun berusaha tenang. Shaka menoleh ke aamping, menatap lekat istrnya uang yang masih diam.


"Pergi ke bogor bareng kak Zidane, enggak hanya aku kok tapi bareng Tiara dan bang Shakti! " Raut wajah Shaka menggelap, pria itu melirik istrinya dengan tatapan tajam, Zea yang melihatnya merasa bergidik ketakutan.


.


"Tidak boleh. " jawab Shaka datar.


"Lagian di sana aku cuma liburan kok. " rengek Zea dengan manja. Shaka mendengus kesal melihat sikap manja sang istri, yang tidak dia terima Zea akan pergi dengan Zidane, meski beramai ramai. Zea menampilkan wajah kecewanya, melihat suaminya yang tak memberi izin padanya. Menghela nafas berat, Shaka berdecak kesal lalu memeluk tubuh sang istri.


"Memang berapa hari di sana? "


"Baiklah aku izinkan, asal jaga sikapmu selama bersama pria itu. " Mata Zea berbinar cerah mendengar keputusan suaminya. Melihat binar bahagia istri kecilnya, Arshaka hanya bisa mengalah. Sebenarnya dia keberatan dengan permintaan dari Zea namun tidak ada pilihan lain.


"Sudahlah biarkan saja Zea pergi, lagian kamu bisa ketemu Mona tanpa di curigainya. " batin Arshaka.


##



Sementara Tiara kini tengah berada di apartemen baru milik Shakti. Pria itu menyuruh gadisnya memakai dress yang dia belikan, Shakti tersenyum puas melihat penampilan menawan dari calon istrinya. Kini Tiara duduk di atas paha Shakti, Shakti memeluknya dengan posesif. "Aku suka penampilanmu seperti ini sweety, hanya di depanku kamu seperti ini saat kita menikah nanti. "


"Mas, sebenarnya kamu enggak perlu beliin dress buat aku, cuma buang buang duit mas. Lagian lebih baik uang mas Shakti di simpan saja. " protes Tiara.


Shakti hanya tersenyum tipis mendengar omelan calon istrinya, tangannya memyentuh bibir Tiara. Hal itu membuat Tiara merasa berdebar dan tentu saja gugup. "Sweety, bolehkah mas cium ini. " ucap Shakti dengan lembut.


"Tapi enggak boleh lebih!


Shakti mengangguk, dua benda kenyal itu saling bertemu. Dia memagutnya dengan kembut namun liar dan panas, Tiara membalas ciuman Shakti dengan malu malu.


Hah hah


Shakti menyudahi ciumannya bibirnya membentuk lengkungan tipis.Tiara turun dari pangkuan sang kekasih, sepertinya dia tidak merasa nyaman.


"Oh ya tadi Zea hubungi aku, Zidane ngajakkita pergi ke puncak besok!


"Tumben tumbenan, ya sudah kita ngikut saja lagian mumpung ada yang ngajak liburan gratis. " kekehnya. Tiara terkekeh mendengar penuturan dari kekasihnya itu. Gadis itu langsung bangkit dan pergi ke dapur, menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.


##


"Enggak tahu malu. " desis Zea menatap kehadiran Mona di mansion suaminya. Mona yang terus mencari perhatian Shaka, membuat Zea semakin kesal pada wanita itu. Diapun memilih melanjutkan makan tanpa bersuara, sesekali membalas pesan dari Zidane. Shaka semakin cemburu, mendapati Zea yang berkirim pesan pada Zidane.


"Zea, selama makan jangan pegang hape! ujar Shaka dengan wajah datarnya.


Zea mengangkat wajahnya, menaikkan sebelah alisnya menatap kearah suaminya itu lalu tersenyum sinis. "Ya kamu juga dong mas, jangan mau di tempeli ulat bulu kaya dia, lagian sepertinya kamu enggak ngehargain aku ya atau jangan jangan kalian kasih berhubungan? "


Arshaka langsung menepis kasar tangan Mona, hal itu membuatnya kesal dan menatap penuh kebencian kearah Zea. Zea tersenyum miring, mengejek wanita itu dengan berani.


"Rasakan itu ulat bulu, siapa suruh kamu menantangku cih. " umpat Zea dalam hatinya. Mona mengepalkan tangannya erat, dia


tersinggung dengam penuturan Zea barusan.


"Lanjutkan saja obrolan kalian, aku mau ke kamar kirim pesan pada kak Zidane. " Zea bangkit dari kursinya, meninggalkan meja makan. Rahang Shaka mengeras, hatinya selalu panas saat Zea menyebut nama Zidane.


"Mas lakukan sesuatu untuk gadis udik itu, aku tidak terima dia kenyebutku ulat bulu. " rengek Mona.


"Ini sudah malam sebaiknya kamu pulang Mona!


Mona menatap tak percaya kearah sang kekasih, dirinya di usir begitu saja tanpa disuruh menginap. "Aku menginap di sini ya sayang please. "


"Aku bilang pulanglah Mona, apa perlu aku mengulangnya lagi. " ucapnya penuh penekanan. Mona berdecak kesal, bangkit dan berlalu pergi. Wanita itu pergi sambil menghentakkan kakinya kesal dengan sikapnya Shaka.


bersambung