
LIKE, VOTE DAN KOMEN YANG BANYAK!
DI CAFE
"Aku minta maaf sama kamu Zea, dulu aku sempat berfikir buruk padamu. " ucap Delaney dengan tulus.
"Enggak papa kak udah lupain aja yang lalu lalu, jadi kak Delaney sama kak Zidane sudah menikah? "
"Iya. " Delaney malu saat mengatakan tentang pernikahannya dengan Zidane. Zea turut senang mendengarnya, wanita hamil itu memberikan selamat pada keduanya. Zea juga bertukar pikiran dengan Delaney mengenai kehamilan, Delaney memberitahunya.
"Oh ya kak, aku harus pergi sekarang. Suamiku pasti sudah menungguku di kantornya. " pungkas Zea.
"Biar kami antar Zea!
"Enggak usah kak, " Zea bangkit dan ke luar dari cafe di susul Delaney dan suaminya. Dari jauh sebuah mobil melaju kencang, mobil itu sepertinya menuju ke arah Zea.
"Zea awas. " teriak Delaney, wanita itu berlari cepat kemudian menarik Zea ke tepi jalan.
Brum
Zea shock, tubuhnya bergetar dalam pelukan Delaney. Wanita itu bernafas lega, melihat Zea yang baik baik saja. Zidane segera memastikan keadaan istrinya, kemudian beralih pada Zea.
"Biar kami antar kamu ke kantor suamimu Zea, sepertinya mobil tadi sengaja. " gumam Zidane. Zea mengangguk, ketiganya masuk ke dalam mobil dan Zidane tancap gas.
Zea turun, wanita itu berjalan masuk ke kantor sang suami. Dia segera masuk ke ruangan Shaka, Zea langsung memeluk suaminya dengan erat. "Sayang ada apa, apa yang terjadi hemm? "
"Tadi hampir saja aku di tabrak mobil mas, untungnya kak Delaney menolongku. " Rahang Shaka mengeras, pria itu membalas dekapan sang istri. Dia membawa istrinya duduk di sofa, Zea masih memeluk tubuhnya.
"Aku takut mas, aku takut ada orang yang berniat mencelakaiku dan calon anak kita. " gumam Zea lirih.
"Sst tenang sayang, mas enggak akan biarin hal itu terjadi. " Shaka terlihat berfikir hanya satu orang yang berniat mencelakai istrinya yaitu Mona. Jika benar aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang Mona, lihat saja nanti batin Shaka. Tangannya menyentuh tangan sang istri yang kini tengah mengusap perutnya.
Shaka mengambil ponselnya, memghubungi salah satu anak buahnya. "Cepat cari tahu pemilik mobil yang hampir menabrak istriku. "
Tok
tok
tok
"Masuk. "
"Permisi pak, Anda sudah di tunggu di ruangan meeting. "
"Batalkan meetingnya, saya lagi sibuk dan katakan meeting akan di adakan lusa. " Sang sekertaris mengangguk lalu ke luar dari ruangan bossnya itu. Shaka kembali menenangkan istrinya yang masih ketakutan, dia menyesali kebodohannya yang lalai menjaga Zea.
"Kita pulang. " Shaka membopong istrinya keluar dari ruangan, mengabaikan tatapan karyawan. Pria itu mendudukkan sang istri di kursi kemudian melajukan mobilnya. Zea menyandarkan tubuhnya di kursi, kejadian tadi masih berputar di kepalanya, dia sangat takut jika janinnya kenapa kenapa.
"Bibi, tolong buatkan teh buat istriku. " perintah Shaka pada sang pelayan.
"Iya Tuan sebentar. " Bibi langsung pergi ke dapur, melaksanakan perintah majikannya. tak lama wanita tua itu kembali, menyerahkan secangkir teh pada Shaka.
"Ayo minum sayang. " Zea menyeruput tehnya pelan, Shaka menaruhnya di atas meja.
"Nyonya Zea, kenapa tuan? "
Shaka segera menghubungi keluarga besarnya untuk datang. Tak lama orang tua serta kakek dan Nenek turut hadir di sana. Mommy Jingga datang dan memeluk menantunya. Shaka menceritakan kejadian itu pada semua orang.
"Sepertinya ada yang sengaja ingin mencelakai istrimu nak. " ujar Daddy Mike.
"Jingga, sebaiknya ajak menantumu ke kamar, biarkan dia istirahat. " Mommy Jingga mengangguk, dia membawa Zea pergi dari sana.
"Apa kamu tahu siapa pelakunya Shaka? " Opa Zayn bertanya pada sang cucu. Shaka mengangguk, dia mencurigai jika Monalah dalangnya.
"Kau harus mencari buktinya, kita tidak bisa main nuduh orang saja Shaka. " pungkas Daddy Mike. Shaka mengepalkan tangannya, apa yang dikatakan daddynya benar. Sepertinya memang dia harus memberi peringatan langsung pada wanita gila itu. Orang tua Senja datang yang di antar oleh supir kediaman keluarga Malik. Ibu langsung pergi ke kamar puterinya, dia begitu khawatir pada Zea dan janinnya.
Cklek
"Nak, apa yang terjadi. " Ibu masuk ke kamar, lalu memeluk puterinya dan menenangkan Zea. Kedua wanita paruh baya itu terlihat sedih, melihat Zea yang masih ketakutan.
"Sst sayang, sudah enggak papa ada mommy kamu dan ibu di sini, kamu jangan terlalu memikirkannya nak, ingat kandunganmu. " bujuk Ibu.
"Aku sangat takut kehilangan janinku untuk kedua kalinya bu hiks. " Zea menumpahkan kesedihannya dalam dekapan sang ibu, Ibu mengusap punggung puterinya yang bergetar hebat. Setelah puterinya tenang, Ibu menyuruhnya berbaring dan Zea menurut. Beliau usap kepala sang anak dengan lembut, hatinya hancur melihat puterinya yang ketakutan.
Mommy Jingga mengusap bahu besannya itu. "Ratih, kamu harus kuat demi Zea puteri kita dan calon cucu kita. " ucapnya tegas.
"Jingga, apa yang dialami Zea mengingatkanku di masalalu, aku tahu rasanya kehilangan hal berharga dalam hidup. " gumamnya pelan. Mommy Jingga tak lagi mengeluarkan suaranya, kini fokusnya pada sang menantu yang kini telah terlelap.
"Sebaiknya kita ke luar, biarkan Zea istirahat. " Ibu mengangguk, kedua wanita paruh baya itu ke luar dari kamar Zea. Mereka berdua bergabung bersama lainnya di ruang tamu.
Shaka bersandar di sofa, raut wajahnya begitu frustrasi atas apa yang di alami istrinya. Seandainya dia dulu tak berhubungan dengan Mona, semua ini tak akan terjadi. Mona yang marah membalas dendam padanya, melalui Zea dengan cara menyakitinya serta mencelakainya.
"Mom, Dad aku pergi dulu. " Shaka bangkit, pergi meninggalkan keluarganya. Mommy Jingga merasa khawatir dengan kepergian puteranya, dia berharap semuanya baik baik saja. Daddy Mike, merangkul bahu mommy dan meyakinkan istrinya jika Shaka pasti bisa menyelesaikan masalahnya.
.
Di sisi lain Mona mengamuk, rencananya gagal mencelakai Zea. Dia membanting barang barangnya, melampiaskan amarahnya yang meledak ledak. Mona tidak akan menyerah begitu saja, dia tak akan membiarkan Zea bahagia bersama Shaka. "Kenapa wanita itu tidak celaka sialan, aku harus cari cara lain. " geramnya.
Wanita itu mengepalkan tangannya, rasa dendam dan sakit hatinya semakin membutakan mata hatinya. Berulang kali mengumpati Zea dengan kata kata kasarnya, setelah itu kembali mencari cara.
Drt
drt
Shaka calling
Cih Mona tak berniat mengangkatnya, dia yakin mantan kekasihnya itu ingin membahas masalah Zea. Diapun tersenyum licik, dia akan memainkan perannya di depan Shaka.
"Halo sayang, apa kabar? "
"Shut up *****, kau ada di mana sekarang. " maki Shaka dalam telepon.
"Apartemen, kemarilah sayang kita bercinta, aku tunggu kamu. " Mona mematikan sambungannya, dia merapikan penampilannya.
"Pelayan, pelayan bereskan semua ini. " teriaknya dengan kencang. Mona bangkit, bersiap untuk menyambut kedatangan Shaka dan dia memakai pakaian seksinya.
tbc