Terjerat Cinta Sang Casanova

Terjerat Cinta Sang Casanova
Wedding Day ( Archana - Alkan )


Hari yang di nantikan bagi pasangan kekasih Archana Alkan telah tiba. Sepasang kekasih itu sebentar lagi akan meresmikan hubungan mereka ke tahap selanjutnya, sebagai suami istri. Dengan menggunakan gaun berwarna putih, Archana begitu cantik di hari bahagianya ini. Mommy Zea tampak menangis, putri kesayangannya sebentar lagi akan menikah.


"Mommy tak menyangka putri kecil mommy akan menikah hari ini. " ucap Mommy dengan senyuman hangatnya. Archana memeluk ibunya erat, melampiaskan rasa bahagia yang membuncah dalam dadanya. Gadis itu melepaskan pelukannya, membiarkan wajahnya kembali di make up.


Daddy datang, orang tuanya mengantar Archana hingga ke altar, menyerahkan pada pria yang akan menjadi suami Archana nanti. Alkan tersenyum lebar, menyambut tangan wanita pujaannya. Keduanya tampak saling menatap satu sama lain, Alkan begitu memujanya. "Kau sangat cantik hari ini honey!


Archana tersipu malu mendengarnya, keduanya mengikuti prosesi pernikahan, mengucap janji suci di hadapan Tuhan. Para tamu dan keluarga begitu terharu, bersorak akan pernikahan Archana dan Alkan. Archana tak menyangka dirinya sekarang seorang istri dari Alkan Kyle Abraham. Alkan mencium punggung tangan istrinya, lalu menyematkan cincin di jari manis sang istri begitupun sebaliknya.


Pria itu menciumnya lembut di hadapan para tamu, Archana menyambut ciuman suaminya dengan pipi merona. Alkan menyudahinya, memeluk istrinya dengan erat. Keduanya tampak bahagia dengan status mereka sekarang. Tapi berbeda dengan seseorang yang berada di ujung ruangan, Arjuna tampak hancur melihat mantan kekasihnya telah menikah dengan pria lain.


"Kita duduk ya sayang, aku takut kamu kelelahan. " ujar Alkan. Archana mengangguk, Valentina berlari kearah orang tuanya, gadis cilik itu duduk di dekat sang Daddy.



"Bunda, Daddy selamat ya atas pernikahannya. Valen sangat senang Daddy memiliki seseorang di sisi nya lagi, aku juga sangat senang punya bunda dan calon adik bayi. " celoteh Valentina membuat Alkan dan Archana mengulas senyum mereka.


"Bunda juga sangat senang memiliki putri cantik seperti Valen. " balas Archana sambil tersenyum mengusap pipi putri sambungnya. Alkan benar benar bahagia, kedua wanita dalam pelukannya saat ini benar benar berharga baginya plus calon janin dalam perut sang istri, menambah kebahagiaannya. Keluarga besar mereka turut bahagia melihat keluarga kecil ini. Tuan dan Nyonya Abraham begitu lega melihat putranya kembali merasakan bahagia. Pengantin baru itu mendapat ucapan selamat dari para keluarga dan tamu.


Oma dan opa mengajak cucu cantiknya itu, Alkan membiarkannya. Keduanya bergabung bersama para sepupu mereka yang hadir membawa keluarga masing masing. Suasana tiba tiba hening saat Arjuna hadir di tengah tengah mereka. Alkan memeluk istrinya posesif, Arjuna yang melihatnya tersenyum getir.


"Untuk apa kau datang ke sini? " ketus Alkan dengan nada tak bersahabat. Arjuna menghela nafas panjang, berusaha menahan rasa sesak dalam dadanya.


"Archana, maafkan kesalahanku kemarin. Aku menghinamu sedemikian rupa, membuatmu sakit hati akan ucapanku." sesal Arjuna lirih. Alkan benar benar tak suka melihat kehadiran Arjuna di pesta pernikahan dirinya dengan Archana. Dia sangat yakin jika pris pengecut ini berusaha mencari simpati istrinya pikirnya.


Archana tak bergeming, dia memang sakit hati akan ucapan Arjuna kemarin. Dia memilih diam, tak menanggapinya. "Maafkan aku Cha, aku masih mencintaimu sampai sekarang. Aku merasa takdir kita kejam, bagaimana bisa kita tak bisa memiliki satu sama lain. " racaunya.


"Hentikan om. "


"Tolong hargai mas Alkan sebagai suamiku om, kisah kita telah usai. Jangan bahas lagi hal hal yang telah lalu. " tegas Archana. Arjuna diam tak berkutik, matanya menatap sendu kearah Archana. Wanita itu memilih memalingkan wajahnya, memeluk tubuh suaminya erat.


"Maafkan aku mas, mas pasti marah dan kecewa akan kehadirannya di tengah pesta bahagia kita. " sesal Archana pelan. Alkan menggeleng, mengusap sayang pipi istrinya dan mengatakan dia tidak apa apa. Dia tak menyalahkan istrinya akan kehadiran pria pengecut itu.


Mommy menghela nafas panjang, kehadiran Arjuna di pesta pernikahan putri dan menantunya, membuatnya sangat kesal. Entah kenapa dia masih marah akan sikap ibu dari pria itu yang berani menghina putrinya.


Pesta berlanjut hingga sore harinya, kedua mempelai telah mengganti pakaian mereka. Archana begitu menikmati acara resepsi pernikahannya, Alkan cukup senang melihat istrinya bahagia. Keduanya lantas melupakan. kejadian tadi, menganggap tak terjadi apapun. Gadis itu mengendong salah satu keponakan kembarnya, baby Allard. "Keponakan aunty anteng ya, aunty gak sabar calon anak aunty akan bermain sama kamu baby Allard. " gumamnya sambil tersenyum. Dia begitu penasaran bagaimana rupa calon buah hatinya kelak.


"Kak Serena, boleh tidak baby Evan aku bawa pulang. " goda Archana pada sang kakak ipar yang berada di dekatnya. Serena melotot, menatap adik iparnya sebal, Archana justru tertawa melihatnya.


"Lihat Al, istri kamu nyebelin. " adu Serena pada suami adik iparnya. Alkan terkekeh, pria itu mencium pipi Archana gemas. Serena saat ini tengah menggendong baby Briel, bayi itu tampak lincah membuatnya tertawa pelan.


"Mas aku lapar. " ucap Archana pada sang suami. Alkan dengan sigap mengambil kue dan minuman untuk sang istri, pria itu menyuapinya makan. Archana tampak lahap, menerima suapan dari suaminya. Serena tersenyum tipis, melihat kemesraan keduanya. Pesta itu berakhir larut malam, Alkan mengajak istrinya ke kamar setelah menyerahkan baby Evan pada Arsenio.


Di kamar Arsenio, Serena telah mengganti pakaiannya. Wanita itu tengah menyusui kedua puteranya yang terlihat kehausan, Arsenio naik keatas ranjang memperhatikan istrinya. "Bagaimana gak gembul tuh pipi, minumnya aja seger dan lahap gitu. " ujar Arsenio absurd.


Serena tertawa pelan mendengar ucapan sang suami, setelah selesai dia meminta suaminya menaruh putranya ke dalam box. Arsen menurutinya, setelah kedua bayinya kenyang, mereka berbaring di atas ranjang.


"Kenapa mas, kamu mau juga? " Serena sengaja membuka kancing daster nya, menggoda suaminya yang terus menatap kearah dua buah persiknya. Mata Arsenio berbinar cerah, mengangguk pelan pada sang istri. Pria itu segera memposisikan dirinya, melakukan hal yang sama seperti baby twins. Serena hanya bisa tersenyum geli, suaminya ternyata tak mau kalah dari kedua anaknya. Dia usap rambut suaminya lembut, di kecupnya kening sang suami.


Setelah puas meminum susu dari sumbernya, Arsen menarik istrinya masuk ke dalam dekapannya. Saat ini pria itu memang bertelanjang dada, tangan mereka saling bertautan satu sama lain. "Aku gak menyangka mas, kita bisa berada di titik ini sekarang, memiliki dua bayi lucu yang menambah bahagianya kita. " gumam Serena pelan.


"Terimakasih ya mas, kamu juga menyadarkan aku jika memiliki dendam hanya akan menyiksa diri kita sendiri!


"Sama sama sayang, aku suamimu berhak menasehati kamu jika kamu berbuat salah begitu juga sebaliknya. " sahutnya tersenyum lembut.


tbc