
Archana menatap lekat suaminya, mereka mendapat undangan pernikahan dari Arjuna dan Diandra yang di antarkan oleh asisten Arjuna. Alkan menghela nafas panjang, tersenyum tipis pada sang istri. "Tentu saja kita akan ke sana sayang, gak enak jika kita tak datang ke pesta pernikahan Arjuna dan Diandra. " gumam Alkan sambil tersenyum.
Archana bernafas lega sekarang, dia kembali melahap potongan buah yang di suapkan oleh suaminya. Wanita itu begitu bahagia melihat suaminya mencoba memahami keadaan. Lagipula di antara dirinya dengan Arjuna hanyalah masa lalu, tak perlu di ingat ingat lagi.
Dering ponsel milik Alkan membuat obrolan mereka terhenti, Alkan terlihat berbicara dengan seseorang. "Siapa yang menghubungi kamu mas? " tanya Archana lembut pada sang suami.
"Ini salah satu teman aku katanya akan mengadakan reuni sayang!
"Lalu? "
"Dia mengundang aku nanti malam di xlub. " gumam Alkan dengan nada pelannya.
"Memangnya pestanya gak di adain di hotel aja sih mas kenapa harus di Club? Archana bukannya melarang suaminya bertemu teman temannya, hanya saja kenapa harus di Club malam malam. Alkan memberikan pengertian pada sang istri, wanita hamil itu kekeh melarangnya untuk datang.
"Ingat mas kamu bukan duda lagi yang bisa pulang pergi seenaknya, dan aku paling tidak suka dengan pria pemabuk. " tegas Archana. Diapun beranjak dan pergi menemui putrinya di taman belakang. Alkan menghela nafas panjang, apa yang di katakan istrinya benar. Diapun segera menghubungi Gerry jika dirinya tak bisa datang.
"Sorry Ger, nanti malam aku gak bisa
datang. " ucap Alkan pada temannya itu.
"Semenjak lo nikah lo gak asyik, lo memang suami suami takut istri. " Gerry memutuskan sambungannya setelah meledek Alkan. Alkan tak menanggapinya, dia hanya ingin rumah tangganya tak kembali renggang seperti kemarin. Pria itu beranjak, memilih pergi ke ruang kerjanya membiarkan sang istri bersama Valentina, putri mereka.
Archana memperhatikan putrinya yang tengah bermain bonekanya. wanita hamil itu meraih ponselnya, diapun terkejut setelah tahu ternyata Diandra yang menghubungi dirinya.
"Hai Di ada apa? " tanya Archana dengan nada lembut.
"Kamu ada waktu enggak, aku mau curhat sama kamu Cha. " ujar Diandra lirih.
"Tentu saja ada, kamu datang aja ke rumah aku, nanti aku kirim alamatnya. " Archana menutup sambungannya, diapun langsung mengajak Valen ke dalam. Wanita itu mengerutkan kening, sebenarnya ada apa dengan Diandra yang tiba tiba ingin bertemu dengan dirinya.
"Bunda, Bunda. " panggil Valen yang menatap bundanya yang tengah melamun. Archana menoleh dan tersenyum mengusap kepala sang anak.
"Iya sayang ada apa hm? "
"Sepertinya ada tamu Bun, Valen buka ya pintunya. " Archana mengangguk, Valen langsung bangun dan berlari ke depan. Gadis cilik itu kembali bersamaan dengan Diandra yang menggandengnya. Wanita hamil itu tersenyum lebar melihat kedatangan Diandra, diapun bangun dan berpelukan sekilas dengan calon pengantin itu.
Keduanya kembali duduk di sofa, Archana mencari posisi nyaman. Setelah itu fokusnya kini tertuju tampak pada Diandra yang terlihat ragu ragu ingin bicara dengannya.
"Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu Di? "
"Aku tahu benar siapa wanita yang masih berada di dalam hatinya, aku hanya tidak ingin di jadikan pelampiasan oleh Arjuna meski setelah kejadian yang terjadi di antara kami minggu lalu Cha. " ungkap Diandra mengeluarkan keluh kesahnya. Archana tak bisa berkata kata, dia paham akan perasaan Diandra saat ini.
"Antara aku dan Om Juna tak ada hubungan apapun lagi Di, berusahalah buat dia mencintai kamu Diandra. Kau wanita yang sangat tepat menjadi pasangan om Juna. " ucap Archana memberikan pendapatnya. Diandra sendiri merasa bersalah pada Archana, sebenarnya dia tak berniat menyalahkannya dalam hal ini.
"Maaf ya Cha, aku gak bermaksud buat nyalahin kamu yang masih berada di hati Arjuna. " sesal Diandra merasa canggung dengan Archana.
"Its oke Di, aku ngerti kok. " balas Archana tersenyum tipis.
"Gimana kabarnya calon keponakan aku dalam perutmu? " tanya Diandra penasaran.
"Dia sangat baik. " Archana tersenyum sambil mengusap perutnya, Diandra ikut senang mendengarnya. Wanita itu menyapa si manis Valen dan mengajaknya bermain sebentar. Diandra tak bisa berlama lama di sana, diapun langsung pamit pada Archana dan Valentina.
Diandra merasa lega setelah keluar dari kediaman Alkan dan Archana, gadis itu terkejut melihat sosok calon suaminya yang datang menjemputnya. Wanita itu masuk ke dalam mobil Arjuna, pria itu melajukan mobilnya dengan kencang.
Arjuna justru membawanya ke apartemen, pria itu langsung menariknya ke dalam. Diapun berjalan mendekat, langsung memeluk tubuh calon istrinya dengan erat. Diandra merasa aneh dengan sikap Arjuna barusan, dia membalas pelukannya lalu mengajaknya duduk. "Apa kamu marah karena aku tadi datang menemui Archana, aku hanya ingin berbagi keluh kesahku padanya. " ujar Diandra dengan jujur.
"Aku gak marah, Di aku serius ingin membuka lembaran baru denganmu dan kita sama sama berjuang bersama. Dan ingatlah dalam perutmu kini tengah tubuh calon anak kita. " ucap Arjuna dengan lembut. Diandra tertegun melihat keseriusan di wajah Arjuna, wanita itu mengangguk pelan sebagai jawabannya.
"Ya aku harap calon anak dalam perutku tak seperti kamu Jun. " ledek Diandra berusaha mencairkan suasana. Arjuna mendengus sebal, pria itu malah mengelitiki perut wanitanya. Diandra langsung meminta ampun untuk di lepaskan, Arjuna tersenyum puas dan kembali memeluknya.
"Huh aku harap bisa memiliki kesabaran yang luas memiliki istri segalak kamu Diandra. " gumam Arjuna. Diandra memukul dada Arjuna, pria itu justru tergelak karena berhasil membuat calon istrinya kesal. Wanita itu mengulas senyumnya, Arjuna semakin tampan saat pria itu tertawa lepas seperti sekarang ini.
Balik lagi kediaman Alkan, Archana memberitahu akan kedatangan Diandra barusan. Alkan tentu saja tak marah, lagipula pria itu cukup bangga akan kebaikan istrinya. Archana merasa cintanya pada sang suami semakin besar, dia begitu beruntung memiliki suami seperti Alkan.
"Terimakasih mas, maaf selama ini aku belum membalas cinta kamu tapi hari ini dan seterusnya aku, Archana mencintaimu mas Alkan. " ungkap Archana pada sang suami. Alkan tentu saja bahagia mendengarnya, pria itu langsung memeluk dan menciumi wajah sang istri.
Valen bertepuk tangan heboh melihat kemesraan orang tuanya, Archana sendiripun merasa malu di lihat sang anak. Alkan langsung bangkit, menjahili putrinya dengan menggelitiki perut Valen. Archana ikut tertawa melihat kelakuan dua orang terpenting dalam hidupnya itu.
"Sudah mas hentikan, kasihan putri kita yang hampir menangis sayang! Alkan berhenti, pria itu menciumi putri kecilnya dengan penuh kasih sayangnya. Lalu mengajaknya duduk bersebelahan dengan Archana, ketiganya tampak bahagia plus calon bayi dalam perut Archana.
"Bunda, Daddy, Valen gak sabar menanti adik bayi lahir nanti. Valen bakal jaga adik bayi dan tak membiarkan ada yang menyakitinya. " cetus Valen dengan berlagak dewasa.
"Iya sayang, putri bunda begitu pintar, bunda sangat sayang sama Valen begitu juga dengan Daddy!