
Hujan deras mengguyurnya, menghapus airmata Zea namun gadis itu mengabaikan tubuhnya yang basah kuyub. Masih terdengar isak tangis, mengabaikan sayup sayup suara yang memanggil namanya. Rasa dingin kini menyerangnya, tubuh mungilnya kini mengigil kedinginan.
"Aku enggak mau pulang ke rumahnya hiks. " gumamnya lirih. " Kini gadis itu sudah berjalan jauh meninggalkan kediaman mertuanya. Ucapan Arshaka yang membentaknya, masih terus berputar dalam kepalanya.
Zea menghentikan langkahnya, lalu mendongak ke atas, tersenyum getir mengingat semua perlakuan Arshaka padanya selama ini. Zea tetaplah Zea, di balik sikap tomboynya dia tetaplah gadis yang rapuh. Gadis mana yang tidak sakit kala suaminya mengatakan kata kata yang menyakitkan.
Tin
tin
tin
Sebuah mobil berhenti di belakangnya, seorang pria ke luar sambil memegang payung di tangannya, pria itu menghampiri Zea. Zea mendongak, terdiam melihat Giovano yang terlihat mengkhawatirkan dirinya. "Zea, kenapa kamu menangis sendirian di sini, memangnya suamimu itu ke mana? "
Zea hanya diam, dia terus menangis hal itu membuat Giovano mengangkat alisnya bingung. Pria itu menghela nafas panjang, lalu menatap kembali kearah Zea. "Ayo masuk ke mobil, aku antar kamu pulang. " ucap Gio dengan lembut. Zeapun masuk ke dalam mobil, Gio melajukan mobilnya kencang.
Di dalam mobil, Gio sesekali melirik kearah Zea yang masih terisak. Setibanya di rumah Zea segera turun, gadis itu mengucapkan terimakasih. Merasa kasihan, Gio menyerahkan tisu pada Zea, Zea menatapnya sekilas lalu menyambarnya. "Cepatlah masuk Ze, nanti kamu masuk angin!
Setelah mengatakan hal itu Gio tancap gas, Zea menatap mobil pria itu hingga hilang menjauh. Gadis itu segera masuk ke dalam rumah, Ibu yang melihat puterinya segera menghampirinya. "Ze, kamu kenapa hujan hujanan nak,apa kamu tengah bertengkar dengan suamimu. "
Nyes
"Ya sudah kamu masuk kamar saja sayang, jika tidak ingin cerita. " Zea mengangguk, gadis itu pergi ke kamarnya. Ibu menatap sendu keadaan puterinya, dia merasa penasaran masalah diantara Zea dan Arshaka.
##
Cahaya matahari menyembul ke permukaan, sinarnya menembus melewati celah celah pintu yang tertutup tirai. Zea telah siap dengan seragam sekolahnya, kini dia tengah sarapan bersama orang tuanya. "Ayah, Ibu aku pergi ke sekolah dulu ya!
"Apa abang saja yang anter kamu Ze!
"Enggak usah bang, aku berangkatnya bareng Tiara. " Zea langsung bangkit dan berjalar ke luar, dia duduk di belakang dan Tiara melajukan motor maticnya. Selama perjalanan ke sekolah, Tiara merasa heran dengan sikap diamnya Zea yang tak biasanya. Zea memeriksa ponselnya, banyak panggilan masuk yang tak terjawab dari Arshaka namun dia tak berniat menghubungi suaminya itu. Setelah memarkirkan motornya, keduanya langsung bergegas menuju ke ke kelasnya.
Aku dan Dia, banyak perbedaan. Ibaratnya dia langit dan aku bumi, karakter kami juga bertolak belakang. Yang tidak aku sukai, pria itu sangat seenaknya berucap pedas tanpa memikirkan perasaanku. Haruskah aku mengakhiri pernikahan ini secepatnya atau mempertahankannya, sementara di sisi pria brensek itu ada wanita lain.
Tiara yang sejak tadi mengamati sahabatnya yang tengah melamun, membuatnya penasaran. "Ze, ada apa.Tak biasanya kamu menjadi pendiam seperti ini. "
Zeapun bercerita pada Tiara tanpa terlewat, Tiara merasa kasihan dengannya, lalu dia memberikan kata kata penyemangat untuk sahabatnya itu. "Buat suami kamu itu jatuh cinta sama kamu, jangan sampai kamu kalah sama si pelakor itu. Goda saja om Shaka, lagian kamu istri sahnya, sah sah saja kamu merayu suamimu. " pungkas Tiara.
"Tapi kamu jangan bilang sama bang Sakti ya Ra, ini masalahku dengan om beruang. "
"Iya aku mengerti. "
Zea memikirkan matang matang ucapan Tiara barusan, sepertinya bukan ide yang buruk dan soal cinta urusan belakang pikirnya. Ya Zea telah memutuskan, akan menaklukkan om beruang suaminya sekaligus menyingkirkan hama yang menjadi penghalang dalam rumah tangganya.
Sementara di perusahaan Malik, Mona berusaha masuk ke kantor sang kekasih namun para security menahannya. Arshaka kini tengah di landa kepanikan, dia berusaha menghubungi Zea untuk kesekian kali namun istrinya itu selalu merejectnya.
"Halo ada apa? "
"Terus awasi, laporkan apa saja kegiatannya. " Arshaka menyimpan ponselnya ke dalam saku. Dia merasa lega setelah tahu keberadaan istri kecilnya.
Brak
Mona membanting pintunya, nafas wanita itu memburu. Mona langsung berhambur memeluk tubuh sang kekasih. "Sayang, ayo kita pergi ke mall hari ini. "
"Pergilah sendiri. "
"Ayolah sayang, temani aku belanja. " Arshaka yang masih mengkhawatirkan Zea hanya berdecak, mendorong tubuh Mona lalu memberinya tatapan tajam.
"Aku bilang tidak bisa, kamu dengar tidak! Mona sangat terkejut, mendapati kekasihnya membentak dirinya. Manik matanya berembun, cairan bening langsung lolos. Diapun berbalik dan melangkah ke luar dari ruangan Arshaka. Setelah kepergian Mona, Arshakapun langsung menghembuskan nafas lega. Pria itu langsung bangkit, berjalan keluar dari ruangannya. Sang asisten datang, Shaka memintanya untuka menghandle perusahaan setelah itu pergi begitu saja.
Skip Tepat pukul dua, Arshaka menarik tangan sang istri lalu mendorongnya ke dalam mobil. Shaka melajukan mobilnya kencangenuju ke mansionku. Setibanya di sana, mereka segera masuk ke dalam dan Zea pergi ke kamarnya. Tak lama dia lenggunakan dress seksi untuk melancarkan serangan pertamanya. Arshaka menelan salivanya, melihat penampilan sang istri.
"Heh, kelinci kecilku mulai nakal ya! Tangan Arshaka merangkul pinggul istrinya, lalu menggendongnya ke ruang tamu ala baby koala. kini Zea duduk di atas pangkuan sang suami, keduanya saling memagut satu sama lain.
Hah hah hah
"Maafkan atas ucapanku kemarin. " Zea mengangguk, tangannya sibuk mwmbuka jas dan kemeja suaminya lalu melemparnya. Kini Arshaka bertelanjang dada, Zea langsung mengalungkan tangannya.
"Bagaimana kalau kita berenang bareng om. " Arshaka menghela nafas kasar, merasa risih dengan panggilan om padanya.
"Mulai sekarang panggil aku Mas Shaka, Ze cobalah. " Zeapun mengangguk, menuruti keinginan suaminya. Pria itu bangkit, membawa Zea ke teras samping. Zea langsung berenang, sesekali memberi kedipan mata pada suaminya.
"****, dia benar benar kelinci penggoda yang imut dan seksi. " gumam Arshaka sambil mengumpat. Arshaka menceburkan dirinya ke air, berenang ke arah Zea lalu memeluknya.
"Mas, apa kita bercerai saja ya. Bukankah kamu tidak mencintaiku, kamu sudah memiliki kekasih. jadi bisakah kamu melepaskan
aku. "Zea ingin lihat bagaimana tanggapan suaminya. Rahang Shaka langsung mengeras, dia menatap istri kecilnya dengam sorot tajamnya.
"Tidak, kita tak akan pernah bercerai! Zea diam diam tersenyum senang mendengar ucapan sang suami. Gadis itu mengusap dada Arshaka dengan rut memerah berupaya menenangkan sang suami. Shaka terkekeh, raut kesalnya berubah dan dia tersenyum geli melihat tingkah istrinya. Tangan nakalnya bertengger di buah ranum milik Zea yang pas di genggamannya, memainkannya dengan lembut.
"Ah Mas Shaka. " desah Zea tanpa sadar
Gairah Shaka langsung naik kepermukaan, di hendak melepaskan dress istrinya namun Zea menahannya, membuat pria itu menatapnya heran. "Mas, aku ingin kita saling mencintai satu sama lain lebih dulu, setelah itu kamu boleh mengambil hakmu. "
"Jika tidak, lebih baik berpisah dan kamu boleh menjalin hubungan dengan Mona. " Zea memalingkan wajahnya kearah lain, Arshaka mengusap wajahnya kasar, merasa pusing karena ada sesuatu yang terbangun dan meronta.
"Baiklah sweety, aku akan sabar menunggu. " Arshaka mengalah, dia menjilat ludahnya sendiri, tergoda dengan pesona istri kecilnya yang tak main main. Apapun yang terjadi, dia tak akan pernah melepaskan Zea.
bersambung