Terjerat Cinta Sang Casanova

Terjerat Cinta Sang Casanova
Mencari informasi Clara


Serena terus memantau anak anaknya yang tengah bermain, dia cukup senang melihat Maya yang mulai berbaur dengan si kembar. Al dan Bry sendiri begitu menyayangi Maya seperti adik mereka sendiri. Dia juga telah memenuhi kebutuhan Maya, apapun yang gadis kecil itu minta dia akan memberikannya. Wanita itu lantas menghela nafas panjang, dia penasaran siapa ayah kandung Maya yang sebenarnya?


"Haruskah aku mencari tahu siapa ayah kandung Maya? " tanyanya dalam hati. Serena langsung bangkit, diapun meminta pengasuh menjaga anak anak. Wanita itu langsung berpamitan pada si kembar dan juga Maya. Serena pergi ke kamarnya sebentar, setelah itu langsung ke luar. Dia memilih menyetir sendiri, menuju ke rumah sakit.


Setelah mendapatkan alamat tempat tinggal mendiang Clara, wanita itu langsung menuju ke sana. Serena turun dari mobilnya, dua langsung menemui sang pemilik kontrakan untuk meminjam kunci. Dia lantas memasuki rumah kontrakan mendiang adiknya, Serena berjalan masuk ke kamar Clara.


"Aku harap menemukan petunjuk di sini? " gumam Serena penuh harap. Ibu dari si kembar itu mengeledah di segala tempat hingga akhirnya fokusnya tertuju pada laci meja, dia langsung membukanya. Serena menemukan sebuah buku harian di sana, wanita itu mengambilnya lalu membawanya ke atas ranjang.


****Dear Maya, putri kecil mama****


Maafin mama nak, mama belum bisa menjadi ibu yang baik untuk kamu sayang. Banyak dosa yang mama perbuat selama ini termasuk pada tante kamu, tante Serena. Dan kini mama telah mendapatkan karma nya, mama di diagnosis dokter mengidap penyakit langka.


Meski nenek dan papa kandung kamu tak menginginkan kamu, tapi mama sangat mencintai dan sayang sama kamu nak. Mama harap kelak Maya menjadi gadis yang baik hati, rendah diri dan tak memiliki sikap iri dengki pada orang lain ya sayang.


Maya, pasti kelak kamu akan menanyakan siapa papa kandung kamu. Papa kamu bernama Janu Harry Garg, pria tampan yang gagah namun sikapnya keras kepala. Maafin mama ya sayang, karena kamu lahir dari wanita seperti mama, kamu justru mendapat cemoohan dari orang orang termasuk papa kandung kamu sendiri.


Setelah mama tiada, Maya harus jaga diri baik baik ya nak bersama tante Serena nanti. Jangan selalu menyusahkan tante Serena ya sayang, mama minta kamu sayangi mereka karena mereka keluarga kamu nak.


Mama sampai kapanpun sayang sama Maya, meski mama tak lagi berada di sisi kamu lagi nak!


^^^Salam sayang dari mama^^^


^^^Mama Clara^^^


Serena menangis terisak setelah membaca surat dari Clara, adik tirinya. Selama ini dia tak mengetahui penderitaan yang di alami mendiang Clara selama ini. "Maafin kakak Cla, kamu selama ini menahan penderitaan kamu sendirian, sebagai kakak aku justru tak tahu apapun mengenai kamu. " sesal Serena dengan nada penuh penyesalan.


Serena menutup bukunya, wanita itu bangkit dan ke luar dari sana dan mengembalikan kuncinya. Dia langsung masuk ke dalam mobil, menaruh buku harianku di sebelahnya.


"Maya masih memiliki papa kandung, pria itulah yang berhak atas Maya. " gumam Serena dengan penuh tekad.



Janu Harry Garg


Di sisi lain seorang pria termenung di dalam kamarnya, dia teringat dengan seorang wanita yang beberapa tahun lalu meminta pertanggung jawaban padanya.


"Maafin aku Clara, kau sekarang di mana? " gumam Janu dengan raut penyesalannya. Pria itu bangkit, ke luar dari kamarnya. Ya dia tinggal sendiri setelah ibunya meninggal karena penyakit jantungnya. Dering ponselnya membuat fokusnya teralihkan, Janu langsung menyambar ponselnya.


"Halo? "


Tiba di pemakaman, pria itu langsung turun dan masuk ke dalam. Matanya membulat melihat makam bertuliskan Clara di sana, tubuh pria itu langsung luruh ke tanah. "Maafkan aku Clara, maaf. Karena keegoisan aku hingga membuatmu menderita seperti ini, aku pria pengecut yang tak bertanggung jawab padamu. " sesal Janu.


Pria itu menangisi kepergian Clara, dia mengumpati kebodohannya selama ini. Bertahun tahun dia menelantarkan Clara dan calon anak mereka. Dia belum meminta maaf pada wanitanya namun Clara justru pergi lebih dulu.


"Permisi tuan, apa anda keluarga dari mendiang nona ini? " tanya seorang pria paruh baya.


Janu mengangguk, diapun mencerca pria di depannya dengan beberapa pertanyaan. Setelah itu dia pamit pergi dari sana setelah satu jam di makam Clara. Pria tampan itu langsung menuju ke rumah sakit, mencari informasi mengenai wanita bernama Serena.


dengan mengunakan kuasanya, Janu mampu menemukan informasi mengenai Serena. Pria itu lantas pergi menemui keluarga Malik, tiba di sana dia langsung menekan tombol belnya.


Cklek


"Cari siapa tuan? "


"Apa kamu Serena, kenalkan aku Janu Harry Garg!


Serena terkejut mendengarnya, wanita itu menahan amarahnya lalu membiarkan tamunya masuk ke dalam. Arsen langsung mengerutkan kening melihat siapa pria asing yang datang bersama wanitanya. "Sayang, siapa pria ini kenapa kamu membiarkan dia masuk? "


Janu langsung mengakui kesalahannya di depan Serena, wanita itu begitu marah dan menyalahkan Janu akan penderitaan Clara selama ini. Dia juga turut menyalahkan dirinya sendiri, terlalu larut dalam dendam hingga melupakan jika Clara masihlah adiknya meski hanya adik tiri.


"Selama ini aku selalu di hantui rasa bersalahku pada Clara dan calon anak kami. " sesal Janu sambil menahan sesak dalam dadanya. Serena menoleh kearah suaminya, Arsen mengangguk lalu wanita itu bangkit dan memanggil Maya.


Janu terkejut, pria itu mengucurkan air mata melihat sosok mungil di depannya. Serena turut menangis, dia memberitahu Maya dengan pelan pelan. "Maya sayang, ini papa kandung Maya namanya Papa Janu. " ucap Serena dengan lembut.


"Papa. " ucap Maya dengan polos. Janu langsung berlutut, membentangkan tangan saat putrinya berlari kearahnya. Ayah dan anak itu saling berpelukan, Janu menciumi pucuk kepala sang anak berulang ulang sambil mengumumkan kata maaf.


"Maafin papa nak, maafkan papa yang telah mengabaikan kamu dan mama kamu. " gumam Janu penuh penyesalan. Serena merasa terharu melihat pertemuan anak dan ayah itu. Dia langsung memeluk suaminya dengan erat, Arsen mengusap punggung istrinya.


Janu langsung bangkit, menggendong putrinya lalu membawanya duduk di sofa. Maya kecil memeluk erat tubuh sang papa, gadis kecil itu menangis sambil mengatakan mengenai mamanya. Janu tentu saja menghapus air mata sang anak, dia bisa melihat sosok Clara dalam diri Maya. "Papa janji, papa akan selalu menemani Maya dan Maya tak akan sendirian lagi!


"Papa enggak akan ninggalin Maya lagi 'kan Pa, selama ini mama bilang kalau papa bekerja di tempat jauh makanya enggak pulang pulang? " tanya Maya dengan polosnya.


"Papa janji! Janu kembali menangis mendengar ucapan sang anak, rasa bersalahnya semakin besar pada buah hatinya ini.


"Maafin atas semua kesalahanku padamu Clara, mulai sekarang aku akan menjaga putri kita dengan baik. " batin Janu.