
Kediaman Alkan dan Archana tampak ramai, para sahabat saudara mereka datang. Mereka hari ini akan merencanakan tamasya bersama di danau. Archana mengusap perutnya, wanita itu tampak bahagia terlihat bibirnya yang sejak tadi membentuk seulas senyuman.
"Mas, apa masih lama tempatnya? " tanya Archana pada sang suami.
"Bentar lagi sayang. " jawab Alkan sambil tersenyum. Tak butuh lama akhirnya mereka sampai di danau yang tempatnya cukup asri. Alkan langsung turun lalu membantu istrinya, dia memperhatikan Arsen yang tengah mengelar tikar. Sementara para wanita menata makanannya, Archana sendiri memilih duduk di sebuah kursi di dekat danau.
cr on pinterest
Archana memperhatikan Valen yang bermain bersama si kembar dan anak anak lainnya. Wanita itu tampak mengulas senyumnya sambil memakan roti yang telah di isi dengan selai. Alkan duduk di dekat sang istri, dia menjaga ketat istrinya dan putri kecil mereka dengan sikapnya yang posesif. "Mas kamu kamu gak gabung aja sama kak Arsen, Gio dan para pria di sana. "
"Enggak sayang, aku di sini, ingin mengawasi kamu dan putri kita Valen. " jawabnya santai.
Archana mendengus pelan, dia memilih pasrah daripada berdebat dengan sang suami tercinta. Sementara Gio kini tengah berdebat dengan Arsen, para wanita mereka hanya menggeleng melihat tingkah konyol keduanya.
"Kalian ini di mana mana selalu berdebat, mas Gio kamu juga ish. " protes Azkia pada suaminya itu. Giopun berusaha membujuk sang istri, sepertinya pria itu takut jika istrinya merajuk lalu menghukumnya tidur di luar. Serena tergelak melihat kelakuan pasutri di depannya saat ini. Dia menoleh kearah Alkan dan Archana, wanita itu memberikan buah pada adik iparnya yang sedang hamil.
"Banyakin makan buah Cha, biar makin sehat calon bayimu. " ucap Serena dengan lembut.
"Terimakasih kak. " jawab Archana singkat yang di angguki oleh Serena. Dia menyuruh anak anak datang, dia memberikan roti satu persatu pada anak anak dengan sabar. Serena begitu gemas akan tingkah Valen, keponakan cantiknya itu. Dering ponselnya membuat Serena berhenti menyuapi si kecil Valentina.
Serena mengerutkan kening melihat nomor asing menghubungi dirinya. Diapun bangkit, memilih menjauh dari suaminya sebentar. "Ya halo, siapa nih? " tanya Serena dengan ramah.
"Kak ini aku Clara, bisakah kak Serena menolongku? " tanya Clara dengan terbata bata. Serena mengepalkan tangannya, setelah sekian lama tak bertemu dengan saudari tirinya itu kenapa justru Clara yang menghubungi dirinya langsung.
"Katakan apa maumu sekarang, kenapa kamu menghubungi aku lagi setelah sekian lama? " ketus Serena dengan nada datarnya. Wanita itu masih menyimpan kebencian pada Clara dan ibunya.
"Tolong ke rumah sakit sekarang kak, ada hal yang ingin aku bicarakan sama kakak, please aku mohon. " ucap Clara sambil memohon. Serena mengumpat pelan, dirinya di hadapkan dalam pilihan sulit. Dia menutup sambungannya setelah Clara menyebutkan alamat rumah sakit.
Serena mendesah kasar, dia harus bagaimana sekarang. Arsen datang menyusul sang istri. Pria itu begitu penasaran dengan apa yang tengah terjadi pada istrinya. "Sayang ada apa, kenapa kamu terlihat gusar sekali? "
"Clara mas, dia menghubungi aku dan menyuruhku datang ke rumah sakit? " Serena mengatakan obrolannya dengan Clara tadi pada suaminya. Arsen langsung menggenggam erat tangan istrinya, mengerti apa yang di rasakan Serena saat ini.
"Kita datang ke sana sama sama sayang, sementara si kembar kita titipkan pada Archana dan Alkan gimana? " tanya Arsen menunggu jawaban istrinya.
"Ya sudah mas, kita ke sana sekarang. " putus Serena. Arsen dan Serena segera berpamitan pada kedua anak mereka, tak lupa dia menitipkan si kembar pada Alkan dan Archana. Pasangan suami itu langsung pergi begitu saja dari sana.
Tiba di rumah sakit, mereka langsung pergi ke ruangan di mana Clara berada. Mereka sama sama. tertegun melihat sosok Clara yang terbaring lemah di atas ranjang pasien, tapi penampilan wanita itu tampak berbeda dan wajah Clara terlihat pucat.
"Kak Serena akhirnya kamu datang juga. " gumam Clara dengan lemah.
"Kau tahu kak, mamiku bunuh diri di penjara sedangkan aku menderita penyakit langka yang cukup mematikan. " gumam Clara lirih. Diapun meminta maaf atas kesalahannya selama ini pada Serena. Wanita itu memanggil seseorang, tak lama seorang gadis manis berusia empat tahun mendekatinya.
"Waktuku tak banyak kak, bisakah kakak menjaga Maya dengan baik. Dia putriku satu satunya, meski dia lahir karena kesalahan aku tapi dia begitu berharga bagiku kak. " gumam Clara dengan nafas tersendat.
"Nama lengkapnya Maya Valencia, tolong jaga dia kak. '' pinta Clara sambil memohon. Wanita itu beralih menatap putrinya, Clara tersenyum getir melihat putrinya yang tampak polos.
"Maafin mama ya nak, mama enggak bisa jaga Maya dan belum bisa jadi mama yang baik buat Maya! Serena kini tampak menangis, melihat keadaan adik tirinya saat ini.
Diapun mendekati Maya, mengenalkan diri pada gadis cilik itu. "Baiklah Clara aku akan menjaga Maya dengan baik, aku sudah memaafkan semua kesalahan kamu. " ucapnya dengan hati yang lapang. Clara memejamkan matanya, dia sempat tersenyum dan tak lama tak sadarkan diri.
Di dalam ruangan itu Serena menjerit histeris, dia segera memanggil dokter. Dokter langsung datang dan memeriksa namun dokter hanya menggeleng. Arsen meminta mengurus jenazah Clara beserta biayanya.
Sorenya Arsen dan Serena masih menemani si kecil Maya yang masih menangis di makam mamanya. Serena langsung berlutut, mengusap kepala Maya dengan penuh kelembutan. "Sayang ayo ikut tante dan om ya, mulai sekarang Maya akan tinggal bersama tante dan om. " bujuk Serena dengan lembut.
"Maya mau tante. " ucap Maya dengan polos. Arsen langsung menggendongnya, mereka sama sama meninggalkan pemakaman. Serena segera menghubungi Archana agar mengantarkan si kembar ke rumahnya.
Wanita itu mengusap kepala sang keponakan dengan lembut, si kecil Maya terlelap dalam dekapan Serena. "Tante sayang sama kamu nak, mulai sekarang tante akan memberi kasih sayang yang sama seperti si kembar!
Arsen mengulas senyumnya, dia bangga akan sikap sang istri yang mau berdamai dengan masa lalu.
Tiba di kediaman mereka, Arsen segera turun membantu istrinya. Mereka langsung masuk ke dalam, Serena membawa Maya menuju ke kamar. Setelah itu berbicara pada adik dan iparnya mengenai Maya. Alkan ikut prihatin mendengar apa yang di alami si kecil Maya.
"Al, Brie mulai sekarang Maya adalah adik kalian ya nak. Kalian berdua harus menjaga dan sayang pada Maya seperti kalian menyayangi Valentina. " ucap Serena pada kedua putra kembarnya.
"Iya Mommy. " jawab si kembar dengan kompak. Serena tersenyum lega melihat kedua putranya yang mengerti. Alkan bangkit dan berpamitan pada keluarga iparnya itu.
Malam harinya
Si kembar Allard dan Brillian mengenalkan diri pada Maya, tampaknya mereka mulai akrab. Serena yang melihatnya mengulas senyumnya, dia berharap Maya selalu bahagia.
"Aku senang memiliki dua kakak. " ucap Maya dengan polosnya. Brilian menciumi pipi gembul Maya, Arsen yang melihatnya tergelak sedangkan Serena hanya menggeleng.